Eks Ketua BPK Tegaskan Kewenangan Hitung Kerugian Negara Ada di BPK

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026 - 16:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi suasana ruang rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR RI.(KOMPAS.com/Rahel)

Ilustrasi suasana ruang rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR RI.(KOMPAS.com/Rahel)

Jakarta, APGtimes.com — Eks Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna menegaskan kewenangan menetapkan kerugian negara berada di tangan BPK sebagai lembaga audit negara yang memiliki dasar konstitusional.

Agung menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri rapat dengar pendapat umum bersama Badan Legislasi DPR RI terkait kewenangan penghitungan kerugian negara, Selasa (19/05).

Menurut Agung, Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK telah mengatur secara jelas kewenangan tersebut.

“Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 telah secara tegas memberikan kewenangan kepada BPK untuk menetapkan kerugian negara,” kata Agung.

Agung Soroti Multitafsir Kewenangan

Agung menilai sejumlah aturan yang masih membuka ruang multitafsir memunculkan anggapan bahwa institusi lain di luar BPK juga bisa menghitung dan menetapkan kerugian negara.

Baca Juga :  Setahun Jadi Tersangka, KPK Ungkap Nasib Heri Gunawan dan Satori di Kasus CSR BI-OJK

Menurutnya, kondisi itu berpotensi mengaburkan posisi BPK sebagai Supreme Audit Institution yang diatur dalam UUD 1945.

Dia juga mengingatkan multitafsir kewenangan dapat melemahkan independensi pemeriksaan keuangan negara.

“Kondisi tersebut berisiko melemahkan prinsip independensi pemeriksaan keuangan negara,” ujarnya.

Agung menilai penetapan kerugian negara tidak boleh dilakukan oleh lembaga yang berada di bawah cabang eksekutif karena dapat memicu konflik kepentingan.

Berpotensi Timbulkan Ketidakpastian Hukum

Selain itu, Agung menilai perbedaan tafsir kewenangan berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dalam penanganan perkara korupsi.

Dia menyebut sejumlah regulasi sebenarnya sudah menunjukkan garis kebijakan yang konsisten terkait kewenangan BPK.

Regulasi tersebut meliputi UUD 1945, Undang-Undang Perbendaharaan Negara, Undang-Undang BPK, Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2016, hingga putusan Mahkamah Konstitusi.

“Seluruh ketentuan tersebut mengarah pada satu prinsip bahwa kewenangan menetapkan kerugian negara berada pada BPK,” tegasnya.

Baca Juga :  DPR Ingatkan RUU Perampasan Aset Tak Boleh Langgar HAM, Aparat Jadi Kunci

Usulkan Revisi UU Tipikor dan UU BPK

Dalam forum tersebut, Agung juga menawarkan dua opsi kebijakan untuk mengharmonisasi aturan mengenai penghitungan kerugian negara.

Opsi pertama ialah merevisi secara terbatas Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), khususnya Pasal 32 beserta penjelasannya.

Sementara opsi kedua yakni merevisi Undang-Undang BPK dengan menambahkan aturan yang mempertegas kewenangan BPK dalam menghitung dan menetapkan kerugian negara.

Menurut Agung, langkah tersebut penting untuk menghilangkan dualisme aturan dan mencegah multitafsir dalam penanganan perkara korupsi.

Sebelumnya, Badan Legislasi DPR RI menggelar rapat dengar pendapat umum bersama sejumlah pakar hukum untuk membahas kewenangan penghitungan kerugian negara usai Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 28/PUU-XXIV/2026. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru
Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam
Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan
Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran
RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali
Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa
Sudaryono Ubah Aturan MBG, Biaya Operasional Rp5.000 per Porsi Kini Dibatasi
Bambang Haryo Minta Kemenhut dan Perhutani Dievaluasi, Penanganan Karhutla Jangan Hanya Sasar 32 Perusahaan
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:09 WIB

RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa

Berita Terbaru