Ikuti Resep Pestisida dari Chatbot AI, Petani China Kehilangan Panen 10 Hektare

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi petani gagal

ilustrasi petani gagal

Chuzhou, APGtimes.com – Seorang petani berusia 67 tahun di Chuzhou, China, kehilangan seluruh tanaman wijen di lahan seluas 10 hektare setelah mengikuti rekomendasi chatbot AI untuk mengatasi gulma dan hama.

Petani bernama Wu tersebut telah menggunakan aplikasi AI untuk membantu aktivitas pertanian selama sekitar satu tahun. Awalnya ia meragukan kemampuan chatbot, tetapi kepercayaannya meningkat setelah beberapa rekomendasi AI sebelumnya membantu pekerjaannya.

Lambat laun, Wu menganggap chatbot tersebut memiliki pengetahuan yang sangat luas dan sulit melakukan kesalahan. Namun, keyakinan itu justru membawa kerugian besar ketika ia menghadapi serangan gulma dan hama di lahannya.

Petani Ikuti Resep Pestisida dari AI

Wu kemudian meminta chatbot AI memberikan rekomendasi campuran pestisida untuk mengatasi gulma dan hama.

Chatbot memberikan instruksi lengkap mengenai bahan kimia dan takaran yang perlu digunakan. Wu kemudian mengikuti rekomendasi tersebut tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan penyuluh atau ahli pertanian.

Setelah mencampurkan bahan sesuai petunjuk chatbot, Wu menyemprotkan cairan tersebut ke seluruh lahan seluas 10 hektare.

Namun, hasilnya justru berujung petaka. Sehari setelah penyemprotan, bukan hanya gulma yang mati. Tanaman wijen milik Wu juga ikut rusak dan mati.

Baca Juga :  Xiaomi Redmi M100 Resmi Meluncur, Baterai Jumbo 7.900 mAh Jadi Andalan

Laporan tersebut pertama kali mendapat perhatian setelah media Taiwan CTWANT memberitakan kejadian itu.

AI Diduga Memberikan Rekomendasi Berbahaya

Wu kemudian kembali bertanya kepada chatbot mengenai penyebab tanaman wijennya mati. Chatbot menyebut salah satu bahan kimia dalam campuran tersebut sebagai penyebabnya.

Sejumlah ahli pertanian kemudian menjelaskan bahwa bahan tersebut memiliki fungsi sebagai herbisida untuk mengendalikan gulma berdaun lebar di lahan kedelai.

Wijen juga termasuk tanaman berdaun lebar. Karena itu, penggunaan herbisida tersebut tanpa metode aplikasi yang tepat dapat ikut merusak tanaman wijen.

Para ahli juga menilai penggunaan herbisida seharusnya mengikuti aturan penggunaan dan target penyemprotan yang jelas. Penyemprotan ke seluruh lahan tanpa memastikan kecocokan bahan dapat membahayakan tanaman utama.

Wu mengaku chatbot tidak memberikan peringatan mengenai risiko tersebut.

Menariknya, sejumlah pembaca yang mengikuti laporan kejadian itu menduga salah satu nama bahan kimia yang disebut chatbot mungkin merupakan hasil halusinasi AI. Dugaan tersebut muncul karena mereka mempertanyakan keberadaan bahan kimia tersebut.

Baca Juga :  China Bikin Robot dari Otot Katak, Bisa Berenang dan Dikendalikan Cahaya

AI Sudah Sering Menghasilkan Kesalahan

Kasus Wu bukan satu-satunya contoh ketika pengguna mengalami kerugian setelah mempercayai AI tanpa melakukan verifikasi.

Sebelumnya, sejumlah pengguna melaporkan kejadian ketika agen AI melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan perintah. Beberapa kasus bahkan menimbulkan kerugian pada data dan keuangan.

Salah satu kasus melibatkan seorang programmer yang kehilangan direktori profil setelah model AI melakukan kesalahan ketika menjalankan proses pencadangan.

Kasus lain juga terjadi pada seorang pejabat di bidang AI Meta yang harus menghentikan agen AI untuk mencegah sistem tersebut menghapus seluruh kotak masuk email.

Selain itu, sebuah perusahaan pernah mengeluarkan biaya hingga 1,8 juta dollar AS setelah menggunakan Claude untuk pekerjaan coding sederhana.

Kasus petani di China memiliki dampak yang berbeda. Kesalahan rekomendasi AI tersebut tidak hanya menyangkut data atau uang, tetapi juga berdampak langsung pada tanaman dan mata pencaharian petani.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengguna tetap perlu memeriksa informasi dari chatbot, terutama ketika menyangkut bahan kimia, kesehatan, keselamatan, pertanian, atau keputusan yang dapat menimbulkan dampak nyata. (rn*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

TikTok Punya Shopping Assistant, AI Baru yang Bisa Cari Produk hingga Bantu Checkout
iPhone 18 Pro Masuk Indonesia, Pre-order Dibuka 7 Oktober 2026
Poco F9 Pro dan F9 Ultra Resmi Dijual di Indonesia, Harga Mulai Rp12,4 Juta
Cara Hapus History YouTube di HP dan Laptop, Bisa Bersihkan Semua Riwayat
Samsung Galaxy Tab S12 Plus dan Ultra Dijual 7 Oktober, Harga Mulai Rp21,9 Juta
One UI 9 Android 17 Resmi Hadir di Galaxy S26 Indonesia, Update 4 GB
iPhone 18 Pro Laris 1,3 Juta Unit di China, Penjualan Naik 15 Persen
HMD Vibe 2 Pro 5G Resmi Meluncur, Bawa Kamera 64 MP dan Baterai 6.000 mAh
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 23:09 WIB

TikTok Punya Shopping Assistant, AI Baru yang Bisa Cari Produk hingga Bantu Checkout

Senin, 5 Oktober 2026 - 23:59 WIB

iPhone 18 Pro Masuk Indonesia, Pre-order Dibuka 7 Oktober 2026

Senin, 5 Oktober 2026 - 23:09 WIB

Poco F9 Pro dan F9 Ultra Resmi Dijual di Indonesia, Harga Mulai Rp12,4 Juta

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Cara Hapus History YouTube di HP dan Laptop, Bisa Bersihkan Semua Riwayat

Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Samsung Galaxy Tab S12 Plus dan Ultra Dijual 7 Oktober, Harga Mulai Rp21,9 Juta

Berita Terbaru