Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Senin (12/10/2026) dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.898 per dolar AS pada pukul 09.51 WIB. Posisi ini menguat 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan Jumat (9/10/2026) yang tercatat sebesar Rp17.899 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) melemah 0,12 persen ke posisi 102,130 pada pukul 09.00 WIB. Pelemahan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuka peluang bagi mata uang Indonesia untuk melanjutkan penguatan.
Pergerakan rupiah pekan ini diperkirakan masih dipengaruhi kondisi pasar internasional. Penurunan harga minyak mentah dunia, melemahnya dolar AS, serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi sejumlah faktor yang mendukung mata uang domestik.
Sentimen Global Beri Ruang bagi Rupiah
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai perkembangan pasar global memberikan peluang bagi rupiah untuk bergerak lebih kuat. Penurunan harga minyak mentah dan pelemahan dolar AS menjadi faktor pendukung pergerakan mata uang Indonesia.
Selain itu, permintaan yang kuat dalam lelang obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun turut menekan imbal hasil obligasi. Kondisi tersebut memberikan sentimen positif bagi rupiah setelah mata uang domestik menutup perdagangan Jumat di level Rp17.899 per dolar AS.
Dari dalam negeri, pertumbuhan penjualan ritel Indonesia yang mencapai posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir juga mendukung optimisme pasar. Kinerja tersebut menambah sentimen positif di tengah dinamika ekonomi global.
Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati pergerakan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi internasional. Kedua indikator itu dapat memengaruhi keputusan investor serta arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang.
Data Inflasi AS Jadi Penentu Pergerakan Pasar
Investor juga menantikan publikasi data inflasi Amerika Serikat, yakni Consumer Price Index (CPI) atau inflasi konsumen dan Producer Price Index (PPI) atau inflasi produsen.
Kedua indikator tersebut dapat memengaruhi perkiraan pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Jika tekanan inflasi AS lebih tinggi daripada perkiraan, investor berpotensi memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Sebaliknya, inflasi yang lebih terkendali dapat meningkatkan harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter. Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi memengaruhi kekuatan dolar AS sekaligus arus modal menuju negara berkembang, termasuk Indonesia.
Karena itu, hasil data inflasi AS akan menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar. Respons investor terhadap data tersebut dapat menentukan arah pergerakan dolar dan rupiah sepanjang pekan ini.
Minim Data Domestik, Rupiah Bergantung pada Sentimen Eksternal
Tidak ada rilis data ekonomi utama Indonesia yang menjadi perhatian pasar pada pekan ini. Akibatnya, pergerakan rupiah berpotensi lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi global.
Pelaku pasar akan mencermati perkembangan harga minyak mentah, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Jika sentimen global tetap mendukung, rupiah berpeluang mempertahankan penguatannya.
Namun, perubahan kondisi pasar internasional juga dapat membatasi ruang penguatan mata uang domestik. Kenaikan kembali imbal hasil obligasi AS atau perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi minat investor terhadap aset di negara berkembang.
Rupiah Diperkirakan Bergerak pada Kisaran Rp17.850–Rp17.950
Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS dalam perdagangan Senin (12/10/2026).
Kisaran tersebut menunjukkan peluang rupiah untuk bergerak menguat di tengah pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak mentah. Meski begitu, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan imbal hasil obligasi serta data inflasi Amerika Serikat.
Dengan minimnya katalis dari dalam negeri, sentimen global diperkirakan memegang peranan penting dalam menentukan arah rupiah. Investor akan menunggu perkembangan ekonomi AS dan pergerakan pasar keuangan internasional sebelum menentukan langkah selanjutnya. (de*)









