The Economist Soroti Pemerintahan Prabowo, Pakar Sebut Dunia Kini Lihat Situasi Nyata Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 14:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar: Laporan The Economist Ungkap Situasi Nyata Indonesia ke Dunia

Pakar: Laporan The Economist Ungkap Situasi Nyata Indonesia ke Dunia

Jakarta, APGtimes.comPakar Hukum Tata Negara dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Jentera, Bivitri Susanti, mengaku tidak terkejut dengan laporan majalah asal Inggris The Economist yang menyoroti pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam dua laporan berbeda yang terbit pada 14 Mei 2026, The Economist menilai Indonesia berada di jalur berisiko dan menyoroti kebijakan ekonomi serta demokrasi di bawah kepemimpinan Prabowo.

Dua artikel tersebut berjudul “Indonesia’s President is Jeopardising the Economy and Democracy” dan “Indonesia, the Biggest Muslim-Majority Country is on a Risky Path”.

Bivitri Sebut Kritik Sudah Banyak Muncul

Bivitri mengatakan isi laporan tersebut sebenarnya tidak berbeda jauh dengan kritik yang sebelumnya sudah muncul di sejumlah media nasional.

Namun, menurut dia, laporan The Economist memberi dampak lebih luas karena ditulis dalam Bahasa Inggris dan dibaca publik internasional.

“Yang menulis hal itu sudah banyak. Beberapa media, termasuk Tempo dan IDN Times juga pernah menulis. Tetapi karena yang menerbitkan tulisan itu orang luar, jadi tidak bisa dibungkam atau diteror,” kata Bivitri, Jumat (14/5/2026).

Menurut Bivitri, laporan tersebut membuka gambaran nyata mengenai kondisi Indonesia kepada masyarakat internasional.

Baca Juga :  Sapi Kurban 1,1 Ton Milik Rozi di Tangerang Dibeli Prabowo Rp122 Juta

Ia juga menyinggung pidato Prabowo saat melakukan kunjungan luar negeri yang dinilai sering menampilkan gambaran berbeda dari situasi di dalam negeri.

Soroti Program MBG dan Defisit Anggaran

Bivitri menilai Prabowo kemungkinan tidak akan mengubah kebijakan hanya karena laporan tersebut.

Ia mengatakan The Economist juga menyoroti pengeluaran negara yang semakin besar, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Majalah itu menilai batas defisit fiskal Indonesia sudah mendekati ambang maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada 2025, defisit fiskal Indonesia tercatat mencapai 2,9 persen dari PDB.

Selain ekonomi, The Economist juga menyoroti isu demokrasi dan dugaan sikap otoriter pemerintah.

Bivitri menyebut laporan itu turut membahas kasus teror air keras terhadap aktivis HAM, Andrie Yunus.

Menurut dia, laporan tersebut menggambarkan kekhawatiran terhadap pelebaran peran TNI di ranah sipil.

Investor Dinilai Sudah Punya Gambaran Sendiri

Bivitri juga menilai laporan The Economist tidak akan menjadi faktor utama yang memengaruhi investor asing.

Menurut dia, calon investor biasanya sudah melakukan riset mendalam sebelum menanamkan modal di Indonesia.

Baca Juga :  WNA Jadi Dirut PT DSI, Langkah Prabowo Putus Mafia Ekspor SDA Picu Pro Kontra

“Meskipun mereka tidak membaca The Economist, pasti ada konsultan yang memberikan masukan. Mereka juga mengecek lewat kedutaan dan kamar dagang,” ujarnya.

Ia menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini memang sedang menghadapi tantangan, tetapi bukan akibat laporan media asing tersebut.

Fahri Hamzah Bela Program MBG

Sementara itu, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, membela program Makan Bergizi Gratis yang mendapat sorotan The Economist.

Menurut Fahri, program tersebut bukan bentuk pemborosan anggaran, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“The Economist cemas terhadap program sosial masif seperti Makan Bergizi Gratis dan perumahan rakyat. Ini cara pandang akuntansi jangka pendek, bukan ekonomi pembangunan,” kata Fahri melalui akun media sosialnya.

Fahri menyebut konsep “Prabowonomics” sebagai gagasan ekonomi yang fokus membangun modal manusia melalui pemenuhan gizi anak dan ibu hamil.

Ia menilai langkah tersebut dapat meningkatkan produktivitas nasional dalam jangka panjang sekaligus menekan angka stunting di Indonesia. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jangan Sampai Terlambat, Ini 7 Kondisi yang Mengharuskan Ganti Sertifikat Tanah
Tito Karnavian Ungkap Banyak Daerah Mengaku Tak Mampu Bayar Gaji PPPK
Komisi II DPR Tegaskan PPPK dan PPPK Paruh Waktu Tidak Boleh Diberhentikan
Tito Karnavian Soroti Honorer Datang Jam 8 Pulang Jam 10, Kepala Daerah Diminta Stop Rekrutmen
Mengapa Kasus Rudapaksa di Pesantren Masih Terus Terjadi? Ini Faktor yang Memicunya
Gempa Susulan M 6 Guncang Gorontalo Setelah Gempa Dahsyat M 7,7 Filipina, BMKG Keluarkan Peringatan
Pertamina Ungkap Solar Subsidi di Sumbar Over Kuota 19 Persen
Jemaah Haji Kloter KJT-04 Akhirnya Pulang Setelah Penerbangan Tertunda
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:09 WIB

Tito Karnavian Ungkap Banyak Daerah Mengaku Tak Mampu Bayar Gaji PPPK

Senin, 8 Juni 2026 - 17:09 WIB

Komisi II DPR Tegaskan PPPK dan PPPK Paruh Waktu Tidak Boleh Diberhentikan

Senin, 8 Juni 2026 - 14:09 WIB

Tito Karnavian Soroti Honorer Datang Jam 8 Pulang Jam 10, Kepala Daerah Diminta Stop Rekrutmen

Senin, 8 Juni 2026 - 13:09 WIB

Mengapa Kasus Rudapaksa di Pesantren Masih Terus Terjadi? Ini Faktor yang Memicunya

Senin, 8 Juni 2026 - 09:09 WIB

Gempa Susulan M 6 Guncang Gorontalo Setelah Gempa Dahsyat M 7,7 Filipina, BMKG Keluarkan Peringatan

Berita Terbaru

Trofi Piala Dunia yang akan diperebutkan kembali dalam Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Piala Dunia 2026 akan menggunakan format baru karena diikuti 48 negara yang dibagi dalam 12 grup di mana dua tim teratas setiap grup plus delapan peringkat ketiga terbaik maju ke babak 32 besar.(TANGKAPAN LAYAR TWITTER FIFA)

Internasional

Iran Tuding AS Cabut Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Didesak Bertindak

Selasa, 9 Jun 2026 - 18:09 WIB