Harga Minyak Dunia Tembus 110 Dollar AS per Barel, Brent Naik 3,7 Persen

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 19:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kilang minyak.(FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)

Ilustrasi kilang minyak.(FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)

Jakarta, APGtimes.com – Harga minyak mentah dunia melonjak pada Jumat (16/10/2026) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Konflik di Selat Hormuz, serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi, serta rencana Ukraina melanjutkan serangan terhadap kilang minyak Rusia menambah tekanan di pasar energi.

Mengutip CNBC pada Sabtu (17/10/2026), harga minyak mentah Brent sempat menembus 110 dollar AS per barel. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2026. Brent kemudian melemah tipis sebelum menutup perdagangan di posisi 109,86 dollar AS per barel, naik 3,7 persen.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat menguat 3,5 persen menjadi 101,41 dollar AS per barel.

Dalam sepekan, harga WTI melonjak lebih dari 10 persen, sedangkan Brent naik hampir 5 persen. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan gangguan distribusi minyak dari kawasan produsen utama.

Serangan di Selat Hormuz Ganggu Distribusi Minyak

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak. Jalur pelayaran strategis tersebut berperan penting dalam perdagangan energi internasional.

Sejak Minggu (11/10/2026), sedikitnya sembilan kapal tanker dan kapal kargo dilaporkan menjadi sasaran serangan ketika Iran berupaya membatasi ekspor minyak melalui jalur tersebut.

Baca Juga :  Harga Kedelai Naik Akibat Rupiah Melemah, Menkeu Siapkan Solusi untuk Pedagang Tempe

Komando Pusat Amerika Serikat atau US Central Command menyatakan Iran menenggelamkan kapal kontainer GFS Pride pada Rabu (14/10/2026). Otoritas maritim Singapura melaporkan seluruh awak kapal berbendera Singapura itu berhasil dievakuasi dengan selamat.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga mencatat dampak serangan terhadap keselamatan pelayaran. Rangkaian insiden selama pekan tersebut menyebabkan tiga pelaut terluka, sementara dua orang lainnya masih hilang.

Ancaman terhadap kapal-kapal komersial meningkatkan risiko pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Jika gangguan terus berlangsung, eksportir dapat menghadapi kesulitan menyalurkan minyak ke pasar internasional.

Ekspor Minyak Melalui Hormuz Turun

Data perusahaan riset energi Kpler menunjukkan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz kembali menurun setelah sempat pulih ke tingkat sebelum perang pada September 2026.

Pada pekan yang berakhir Rabu, volume pengiriman tercatat sebesar 9,4 juta barel per hari. Angka tersebut hanya sekitar 70 persen dari rata-rata pengiriman sebelum perang Iran.

Penurunan ini memperlihatkan dampak ketegangan keamanan terhadap arus perdagangan energi. Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi negara produsen untuk menyalurkan minyak kepada konsumen di berbagai belahan dunia.

Baca Juga :  Bank Dunia Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh 5 Persen Meski Dunia Dihantam Krisis Energi

Karena itu, gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memperketat pasokan dan menjaga harga minyak tetap tinggi. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan keamanan serta kelancaran aktivitas kapal di jalur tersebut.

Serangan Houthi Tambah Tekanan Pasar

Selain situasi di Selat Hormuz, serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran turut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Arab Saudi.

Rencana Ukraina melanjutkan serangan terhadap kilang minyak Rusia juga menambah risiko terhadap pasokan energi global. Pasar minyak menghadapi tekanan dari beberapa kawasan sekaligus, sehingga perkembangan konflik menjadi perhatian utama para pelaku perdagangan.

Kondisi tersebut membuat harga minyak semakin sensitif terhadap berita mengenai serangan, gangguan produksi, maupun hambatan pengiriman. Ketidakpastian pasokan dapat mendorong pembeli meningkatkan kewaspadaan dan memengaruhi pergerakan harga di pasar internasional.

Jika harga minyak bertahan pada level tinggi, negara pengimpor energi berpotensi menghadapi kenaikan biaya pembelian minyak. Dampaknya dapat merambat ke biaya transportasi, produksi, dan kebutuhan energi masyarakat.

Perkembangan konflik di Timur Tengah, keamanan Selat Hormuz, serta situasi kilang minyak Rusia akan menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan arah harga minyak dunia selanjutnya. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB