Mengutip CNBC pada Sabtu (17/10/2026), harga minyak mentah Brent sempat menembus 110 dollar AS per barel. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2026. Brent kemudian melemah tipis sebelum menutup perdagangan di posisi 109,86 dollar AS per barel, naik 3,7 persen.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat menguat 3,5 persen menjadi 101,41 dollar AS per barel.
Dalam sepekan, harga WTI melonjak lebih dari 10 persen, sedangkan Brent naik hampir 5 persen. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan gangguan distribusi minyak dari kawasan produsen utama.
Serangan di Selat Hormuz Ganggu Distribusi Minyak
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak. Jalur pelayaran strategis tersebut berperan penting dalam perdagangan energi internasional.
Sejak Minggu (11/10/2026), sedikitnya sembilan kapal tanker dan kapal kargo dilaporkan menjadi sasaran serangan ketika Iran berupaya membatasi ekspor minyak melalui jalur tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat atau US Central Command menyatakan Iran menenggelamkan kapal kontainer GFS Pride pada Rabu (14/10/2026). Otoritas maritim Singapura melaporkan seluruh awak kapal berbendera Singapura itu berhasil dievakuasi dengan selamat.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga mencatat dampak serangan terhadap keselamatan pelayaran. Rangkaian insiden selama pekan tersebut menyebabkan tiga pelaut terluka, sementara dua orang lainnya masih hilang.
Ancaman terhadap kapal-kapal komersial meningkatkan risiko pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Jika gangguan terus berlangsung, eksportir dapat menghadapi kesulitan menyalurkan minyak ke pasar internasional.
Ekspor Minyak Melalui Hormuz Turun
Data perusahaan riset energi Kpler menunjukkan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz kembali menurun setelah sempat pulih ke tingkat sebelum perang pada September 2026.
Pada pekan yang berakhir Rabu, volume pengiriman tercatat sebesar 9,4 juta barel per hari. Angka tersebut hanya sekitar 70 persen dari rata-rata pengiriman sebelum perang Iran.
Penurunan ini memperlihatkan dampak ketegangan keamanan terhadap arus perdagangan energi. Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi negara produsen untuk menyalurkan minyak kepada konsumen di berbagai belahan dunia.
Karena itu, gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memperketat pasokan dan menjaga harga minyak tetap tinggi. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan keamanan serta kelancaran aktivitas kapal di jalur tersebut.
Serangan Houthi Tambah Tekanan Pasar
Selain situasi di Selat Hormuz, serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran turut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Arab Saudi.
Rencana Ukraina melanjutkan serangan terhadap kilang minyak Rusia juga menambah risiko terhadap pasokan energi global. Pasar minyak menghadapi tekanan dari beberapa kawasan sekaligus, sehingga perkembangan konflik menjadi perhatian utama para pelaku perdagangan.
Kondisi tersebut membuat harga minyak semakin sensitif terhadap berita mengenai serangan, gangguan produksi, maupun hambatan pengiriman. Ketidakpastian pasokan dapat mendorong pembeli meningkatkan kewaspadaan dan memengaruhi pergerakan harga di pasar internasional.
Jika harga minyak bertahan pada level tinggi, negara pengimpor energi berpotensi menghadapi kenaikan biaya pembelian minyak. Dampaknya dapat merambat ke biaya transportasi, produksi, dan kebutuhan energi masyarakat.
Perkembangan konflik di Timur Tengah, keamanan Selat Hormuz, serta situasi kilang minyak Rusia akan menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan arah harga minyak dunia selanjutnya. (aw*)









