Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kilang minyak.(FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)

Ilustrasi kilang minyak.(FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)

Jakarta, APGtimes.com – Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa (20/10/2026) waktu Amerika Serikat atau Rabu (21/10/2026) pagi WIB. Harapan terhadap kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menekan harga minyak, meskipun ancaman serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi di Timur Tengah masih membayangi pasokan global.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 1,8 persen dan ditutup pada 101,79 dollar AS per barrel. Harga minyak acuan AS tersebut sempat mencapai 110,48 dollar AS per barrel sebelum kembali melemah.

Kontrak WTI November berakhir pada Selasa. Sementara itu, kontrak pengiriman Desember turun 26 sen menjadi 98,28 dollar AS per barrel.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember juga turun 0,7 persen menjadi 108,79 dollar AS per barrel. Sebelumnya, harga minyak acuan global tersebut sempat menyentuh 111,99 dollar AS per barrel.

Harapan Diplomasi AS-Iran Tekan Harga Minyak

Pelaku pasar mencermati peluang kemajuan diplomasi antara Washington dan Teheran. Harapan meredanya ketegangan kedua negara membantu mengurangi kekhawatiran terhadap risiko gangguan perdagangan energi internasional.

Meski demikian, situasi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian investor. Perkembangan keamanan di sekitar Selat Hormuz terus memengaruhi perkiraan pasar terhadap ketersediaan minyak dunia.

Baca Juga :  Israel Kembali Serang Lebanon Hanya Beberapa Jam Usai Kesepakatan Gencatan Senjata

Jalur pelayaran tersebut memiliki peran strategis dalam distribusi energi internasional. Jika aktivitas kapal terganggu, pengiriman minyak ke berbagai negara berpotensi melambat dan memicu tekanan baru pada pasar.

Serangan Kapal Tanker Picu Kekhawatiran Pasokan

Ancaman terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Perusahaan pelacak kapal Kpler mencatat sedikitnya 18 kapal menjadi sasaran serangan selama dua pekan terakhir.

Pada Selasa, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan dua kapal tanker minyak terbakar setelah menabrak ranjau yang dipasang oleh unit angkatan laut Iran. Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan pernyataan tersebut.

Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran energi. Jika serangan terus berlanjut, distribusi minyak berisiko terganggu dan biaya pengiriman dapat meningkat.

Selain itu, ancaman terhadap infrastruktur minyak di Timur Tengah turut menambah ketidakpastian. Pasar masih memperhitungkan risiko gangguan produksi dan distribusi apabila konflik kembali meningkat.

Iran Ancam Membalas Serangan Amerika Serikat

Ketegangan antara Washington dan Teheran belum menunjukkan tanda mereda. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa negaranya akan membalas setiap serangan Amerika Serikat dengan kekuatan setara atau bahkan lebih besar.

Baca Juga :  Starbucks Tutup 250 Gerai di AS dan Kanada, Ini Alasan dan Strategi Pemulihannya

Baqaei menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers mingguan pada Selasa, menurut laporan Tasnim. Ancaman itu memperlihatkan bahwa risiko eskalasi militer masih membayangi upaya diplomasi kedua negara.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukan Amerika tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan sela Kongres pada 3 November 2026. Pemilu yang dikenal sebagai midterm elections tersebut menentukan sejumlah anggota Kongres AS di luar pemilihan presiden.

Prospek Harga Minyak Masih Tidak Pasti

Pergerakan harga minyak dunia selanjutnya akan bergantung pada perkembangan diplomasi AS-Iran dan situasi keamanan di Timur Tengah. Kemajuan perundingan dapat meredakan kekhawatiran pasar, sedangkan serangan baru terhadap kapal tanker atau fasilitas energi berpotensi mendorong harga kembali naik.

Dengan demikian, penurunan harga pada Selasa belum menjamin risiko pasokan minyak global akan mereda. Pelaku pasar masih mempertimbangkan harapan penyelesaian konflik sekaligus ancaman gangguan distribusi energi internasional. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin
Harga Minyak Dunia Tembus 110 Dollar AS per Barel, Brent Naik 3,7 Persen
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB