Kabut Asap Mulai Mereda, Kualitas Udara Singapura Membaik tetapi Sarawak Masih Terdampak

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di Kuala Lumpur dari Hotel Mercure Kuala Lumpur Shaw Parade, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (3/12/2025).(KOMPAS.com/Ardito Ramadhan)

Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di Kuala Lumpur dari Hotel Mercure Kuala Lumpur Shaw Parade, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (3/12/2025).(KOMPAS.com/Ardito Ramadhan)

Singapura, APGtimes.com — Kualitas udara Singapura membaik pada Selasa (27/10/2026). Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) menilai risiko kabut asap di negara tersebut masih rendah karena angin dan hujan membantu memperbaiki kondisi atmosfer.

Data pemantauan pada pukul 09.00 waktu setempat menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 per jam berada pada kisaran 19–26. Wilayah barat mencatat angka tertinggi.

Sementara itu, indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) selama 24 jam berada pada kisaran 62–71. Angka tersebut menempatkan kualitas udara Singapura dalam kategori baik hingga sedang.

NEA menjelaskan bahwa angin dari arah timur laut atau tenggara serta hujan di Singapura dan kawasan sekitarnya membantu mengurangi risiko kabut asap.

“Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan kabut asap memengaruhi Singapura adalah rendah,” kata NEA dalam keterangannya.

Hujan Membantu Memperbaiki Kualitas Udara

NEA memperkirakan arah angin akan berubah-ubah pada Rabu dan Kamis. Hujan juga berpeluang turun di Singapura dan wilayah sekitarnya.

Kondisi tersebut dapat menekan aktivitas titik panas yang berpotensi memicu kabut asap. Curah hujan juga membantu memperbaiki kondisi lingkungan setelah sejumlah wilayah Asia Tenggara mengalami pencemaran udara.

Kualitas udara di seluruh wilayah Singapura masuk kategori baik hingga sedang sejak Minggu (25/10/2026) pukul 23.00 waktu setempat.

Baca Juga :  ISPU Sungai Penuh Naik Jadi 73,58, Kualitas Udara Masih Kategori Sedang

Untuk Selasa, NEA memprakirakan PSI 24 jam berada pada kisaran 60–90. Dengan kondisi tersebut, masyarakat secara umum masih dapat beraktivitas di luar ruangan seperti biasa.

NEA Imbau Warga Memantau PM2.5

NEA meminta masyarakat memeriksa prakiraan PSI 24 jam sebelum merencanakan kegiatan luar ruangan. Warga juga perlu memantau data PM2.5 terbaru untuk mengetahui kondisi udara dalam waktu dekat.

Jika konsentrasi PM2.5 per jam mencapai tingkat tinggi, orang sehat sebaiknya mengurangi aktivitas luar ruangan yang berat selama satu jam berikutnya.

NEA juga mengimbau kelompok rentan agar lebih berhati-hati. Kelompok ini mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru kronis.

Mereka sebaiknya menghindari aktivitas luar ruangan yang berat ketika konsentrasi PM2.5 meningkat. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi paparan partikel halus yang berisiko mengganggu kesehatan.

Sejumlah Wilayah Malaysia Masih Mengalami Kabut Asap

Kondisi udara Malaysia juga menunjukkan perbaikan setelah kabut asap mengganggu sejumlah wilayah selama beberapa pekan.

Data pemantauan pada Senin (26/10/2026) pukul 09.00 mencatat 29 stasiun pemantau di Malaysia memiliki kualitas udara kategori baik. Sebanyak 32 stasiun lainnya menunjukkan kategori sedang.

Baca Juga :  Gedung Putih Luncurkan Trump TV, Siaran 24 Jam Tampilkan Aktivitas Donald Trump

Namun, beberapa wilayah di Sarawak masih menghadapi pencemaran udara pada tingkat tidak sehat. Samarahan mencatat indeks 160, sedangkan Kuching mencapai 159.

Sarikei mencatat indeks 157 dan Sibu 154. Sementara itu, Sri Aman mencapai 139 dan Mukah berada pada angka 109.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa perbaikan kualitas udara belum merata di seluruh Malaysia. Warga di kawasan terdampak perlu terus memantau indeks kualitas udara dan mengurangi aktivitas luar ruangan jika kondisi memburuk.

Langit Kuala Lumpur Mulai Cerah

Perubahan kondisi langit di Kuala Lumpur juga mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Sejumlah pengguna media sosial menyampaikan kelegaan setelah langit terlihat lebih cerah.

Perbaikan di Singapura dan sebagian wilayah Malaysia memberikan indikasi bahwa kondisi atmosfer mulai membaik di beberapa bagian Asia Tenggara. Namun, perubahan arah angin dan pola hujan masih dapat memengaruhi pergerakan asap dalam beberapa hari mendatang.

Karena itu, masyarakat tetap perlu mengik uti informasi kualitas udara dari otoritas setempat, terutama di daerah yang sebelumnya mengalami kabut asap. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketegangan Politik Israel Memanas, Ben Gvir Bidik Pemimpin Partai Arab Usai Pemilu
Francesca Albanese Minta Indonesia Evaluasi Keanggotaan Board of Peace Bentukan Trump
Arab Saudi Pilih Singapura untuk Simpan Minyak, Kapasitas Fasilitas Capai 9 Juta Barrel
Trump Kembali Bidik James Comey, Kasus Dugaan Bocor Rahasia Negara Dibuka Lagi
Oposisi Singapura Soroti Pemangkasan Ekspor Gas Indonesia di Tengah Isu Kabut Asap
AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target
Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot
Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Ketegangan Politik Israel Memanas, Ben Gvir Bidik Pemimpin Partai Arab Usai Pemilu

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Francesca Albanese Minta Indonesia Evaluasi Keanggotaan Board of Peace Bentukan Trump

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Arab Saudi Pilih Singapura untuk Simpan Minyak, Kapasitas Fasilitas Capai 9 Juta Barrel

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Trump Kembali Bidik James Comey, Kasus Dugaan Bocor Rahasia Negara Dibuka Lagi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Kabut Asap Mulai Mereda, Kualitas Udara Singapura Membaik tetapi Sarawak Masih Terdampak

Berita Terbaru

Ilustrasi Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia.(Anton Zubchevskyi / iStock Editorial via Getty Images)

Ekonomi & Bisnis

Binance Diretas, Aset Kripto Rp100 Triliun Hilang dan Bitcoin Ikut Anjlok

Jumat, 30 Okt 2026 - 17:09 WIB