Arab Saudi Pilih Singapura untuk Simpan Minyak, Kapasitas Fasilitas Capai 9 Juta Barrel

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kilang minyak.(FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)

Ilustrasi kilang minyak.(FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)

Singapura, APGtimes.com — Arab Saudi akan menyimpan minyak mentah di Singapura mulai paruh kedua 2027. Rencana ini menjadi bagian dari strategi Riyadh untuk menjaga kelancaran distribusi energi ke pasar Asia Tenggara sekaligus memperkuat ketahanan pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik.

Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura, Tan See Leng, mengumumkan rencana tersebut dalam konferensi Singapore International Energy Week pada 27 Oktober 2026.

Kedua negara berencana menggunakan Jurong Rock Caverns, fasilitas penyimpanan minyak bawah tanah di Pulau Jurong.

Tan menjelaskan, kerja sama tersebut akan memperkuat rantai pasokan minyak mentah Arab Saudi di Asia Tenggara. Singapura juga dapat meningkatkan kesiapan menghadapi gangguan distribusi energi yang berpotensi memengaruhi kawasan.

Meski demikian, kedua negara belum mengumumkan jumlah minyak yang akan disimpan maupun nilai finansial kesepakatan tersebut. Negosiasi teknis dan komersial masih berlangsung dengan target penyelesaian dalam beberapa bulan.

Saudi Aramco Jalin Kesepakatan dengan Singapura

Saudi Aramco, perusahaan minyak milik Arab Saudi, telah menandatangani nota kesepahaman dengan Energy Market Authority dan JTC Corp pada 26 Oktober 2026.

Baca Juga :  Festival Indonesia di Chiba Ricuh, KBRI Tokyo Pastikan Tak Ada WNI Ditahan

Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman Al-Saud, menilai penyimpanan minyak lebih dekat dengan pasar utama Asia dapat memberikan keleluasaan dalam mengatur distribusi.

Langkah tersebut juga dapat mendukung keamanan energi Singapura. Dengan ketersediaan minyak di lokasi yang lebih dekat dengan konsumen, jaringan pasokan berpeluang merespons gangguan pengiriman secara lebih fleksibel.

Kerja sama ini sekaligus memperluas jaringan penyimpanan minyak Arab Saudi di Asia. Riyadh dapat memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai bagian dari strategi menjaga akses pasokan ke pasar regional.

Selat Hormuz Menjadi Perhatian Utama

Rencana penyimpanan minyak muncul ketika konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

Jalur pelayaran tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan minyak global. Sebelum perang, negara-negara Asia mengimpor sekitar dua pertiga kebutuhan minyak mereka dari kawasan Timur Tengah.

Gangguan pengiriman melalui jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai ketersediaan energi di kawasan Asia. Sejumlah negara juga menghadapi tekanan untuk mengevaluasi persediaan minyak dan kesiapan menghadapi gangguan pasokan berkepanjangan.

Baca Juga :  Iran Tuduh AS Langgar Kesepakatan Damai, Ketegangan Timur Tengah Memanas Lagi

Penyimpanan minyak di Singapura dapat membantu Arab Saudi mendekatkan persediaan ke pasar konsumennya. Strategi ini juga memberi tambahan pilihan distribusi apabila jalur pengiriman utama mengalami hambatan.

Jurong Rock Caverns Berkapasitas 9 Juta Barrel

Jurong Rock Caverns merupakan fasilitas penyimpanan bawah tanah yang terletak sekitar 150 meter di bawah permukaan Pulau Jurong, Singapura.

Fasilitas ini mampu menampung hingga 1,47 juta meter kubik hidrokarbon cair, setara dengan sekitar 9 juta barrel. Kapasitas tersebut mencakup minyak mentah dan kondensat.

Namun, pemerintah Singapura dan Arab Saudi belum menjelaskan berapa bagian kapasitas yang akan digunakan untuk menyimpan minyak mentah Saudi. Rincian biaya, durasi penyimpanan, dan mekanisme operasionalnya juga belum diumumkan.

Kesepakatan ini berpotensi memperkuat posisi Singapura sebagai pusat penyimpanan dan perdagangan energi di Asia. Bagi Arab Saudi, fasilitas tersebut menjadi tambahan opsi untuk menjaga fleksibilitas pasokan ke pasar regional, terutama ketika perdagangan energi menghadapi risiko geopolitik. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketegangan Politik Israel Memanas, Ben Gvir Bidik Pemimpin Partai Arab Usai Pemilu
Francesca Albanese Minta Indonesia Evaluasi Keanggotaan Board of Peace Bentukan Trump
Trump Kembali Bidik James Comey, Kasus Dugaan Bocor Rahasia Negara Dibuka Lagi
Kabut Asap Mulai Mereda, Kualitas Udara Singapura Membaik tetapi Sarawak Masih Terdampak
Oposisi Singapura Soroti Pemangkasan Ekspor Gas Indonesia di Tengah Isu Kabut Asap
AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target
Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot
Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Ketegangan Politik Israel Memanas, Ben Gvir Bidik Pemimpin Partai Arab Usai Pemilu

Kamis, 29 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Francesca Albanese Minta Indonesia Evaluasi Keanggotaan Board of Peace Bentukan Trump

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Arab Saudi Pilih Singapura untuk Simpan Minyak, Kapasitas Fasilitas Capai 9 Juta Barrel

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Trump Kembali Bidik James Comey, Kasus Dugaan Bocor Rahasia Negara Dibuka Lagi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Kabut Asap Mulai Mereda, Kualitas Udara Singapura Membaik tetapi Sarawak Masih Terdampak

Berita Terbaru

Ilustrasi Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia.(Anton Zubchevskyi / iStock Editorial via Getty Images)

Ekonomi & Bisnis

Binance Diretas, Aset Kripto Rp100 Triliun Hilang dan Bitcoin Ikut Anjlok

Jumat, 30 Okt 2026 - 17:09 WIB