New York, APGtimes.com — Wall Street mencatat tekanan besar pada saham Intel setelah perusahaan mengumumkan proyeksi keuangan yang mengecewakan.
Pada perdagangan Jumat (30/10/2026) waktu setempat, saham produsen chip asal Amerika Serikat (AS) itu merosot 28,58 persen.
Intel menutup perdagangan pada harga 65,76 dollar AS per saham. Angka tersebut turun 26,31 dollar AS dari posisi penutupan sebelumnya. Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak era 1970-an.
Lemahnya prospek bisnis, perlambatan pasar komputer pribadi (PC), dan gangguan operasional pabrik di Israel menekan kepercayaan investor. Kondisi tersebut juga menjadi tantangan baru bagi CEO Intel Lip-Bu Tan yang memimpin perusahaan sejak Maret 2025.
Saham Intel Anjlok, Investasi Pemerintah AS Menyusut Rp217,8 Triliun
Kejatuhan saham Intel ikut memangkas nilai kepemilikan pemerintah AS. Pemerintah AS menguasai sekitar 10 persen saham perusahaan semikonduktor tersebut.
Dalam satu hari perdagangan, nilai investasi pemerintah AS menyusut sekitar 12 miliar dollar AS. Dengan kurs Rp18.150 per dollar AS, jumlah itu setara Rp217,8 triliun.
Meski mengalami penyusutan, investasi pemerintah AS di Intel masih mencatatkan keuntungan. Nvidia juga terkena dampak penurunan tersebut. Perusahaan teknologi itu memiliki saham Intel dengan nilai investasi yang berkurang sekitar 6 miliar dollar AS.
Situasi ini menambah tantangan bagi Lip-Bu Tan. Sejak menjabat pada Maret 2025, Tan berusaha mengejar ketertinggalan Intel dalam persaingan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Proyeksi Keuangan Intel Tak Sesuai Harapan Pasar
Intel memperkirakan laba per saham yang disesuaikan atau adjusted earnings per share (EPS) sebesar 25 sen dollar AS pada kuartal berjalan. Perusahaan juga mematok proyeksi pendapatan antara 15 miliar hingga 16 miliar dollar AS.
Angka tersebut berada di bawah perkiraan analis LSEG. Mereka memproyeksikan pendapatan Intel mencapai 17,1 miliar dollar AS dan EPS sebesar 43 sen dollar AS.
Direktur Keuangan Intel David Zinsner menyebut pasar PC masih menghadapi perlambatan. Ia memperkirakan kondisi tersebut berlanjut hingga paruh pertama 2027.
“Kami memperkirakan perlambatan pasar PC akan berlanjut setidaknya hingga paruh pertama tahun depan,” kata Zinsner dalam pernyataan perusahaan.
Zinsner menegaskan Intel tetap mengelola investasi secara disiplin. Perusahaan akan meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat modal kerja, dan menjaga ketersediaan pasokan untuk mendukung pertumbuhan bisnis.
Padahal, saham Intel sempat melonjak sekitar 150 persen sepanjang 2026. Peningkatan permintaan prosesor utama atau central processing unit (CPU) ikut mendorong kenaikan tersebut. CPU kini memegang peran penting dalam menjalankan beban kerja AI berbasis agen atau agentic AI.
Namun, proyeksi terbaru mengubah sentimen investor. Analis D.A. Davidson bahkan menurunkan rekomendasi saham Intel dari buy menjadi neutral pada Jumat.
Dalam laporan berjudul “Not Fixed Yet”, analis D.A. Davidson menyoroti kondisi bisnis Intel yang belum pulih. Mereka juga mempertanyakan valuasi saham perusahaan di tengah pelemahan kinerja.
Ledakan Pabrik Israel Ganggu Pengiriman Chip
Selain perlambatan pasar PC, Intel menghadapi gangguan produksi akibat ledakan di salah satu fasilitas manufaktur chip atau fabrication plant (fab) di Israel pada awal Oktober.
Insiden tersebut menewaskan dua pekerja dan melukai seorang pekerja lainnya. David Zinsner memperkirakan kejadian itu mengurangi pendapatan Intel sekitar 600 juta dollar AS selama dua kuartal.
CEO Intel Lip-Bu Tan menyebut ledakan tersebut sebagai kecelakaan tragis yang tidak diharapkan. Peristiwa itu membuat perusahaan menghentikan operasional pabrik dalam waktu lama.
Gangguan tersebut juga menghambat pengiriman chip berteknologi 10 nanometer. Akibatnya, Intel harus menghadapi tekanan produksi di tengah persaingan industri semikonduktor.
Data Counterpoint Research menunjukkan pengiriman PC global pada kuartal II 2026 turun 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan harga memori dan komponen lainnya turut membebani pasar komputer.
Saham Teknologi Ikut Terseret Aksi Jual
Penurunan Intel terjadi bersamaan dengan pelemahan sejumlah saham teknologi besar di Wall Street. Indeks Nasdaq Composite merosot sekitar 2,9 persen pada Jumat.
Saham Amazon turun 1,4 persen setelah perusahaan melaporkan laba dan pendapatan kuartal III di bawah perkiraan pasar. Amazon juga mempertahankan rencana belanja modal 2026 sebesar 220 miliar dollar AS dan kembali mencatat arus kas bebas negatif.
Alphabet melanjutkan pelemahan setelah sahamnya anjlok lebih dari 12 persen pada Kamis. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam sejarah perdagangan harian perusahaan.
Tekanan juga menjalar ke produsen semikonduktor lainnya. Saham Nvidia melemah 4 persen, Broadcom turun lebih dari 5 persen, sedangkan Qualcomm merosot 11 persen.
Kepala Strategi Pasar Raymond James, Matt Orton, menilai tekanan pasar tidak otomatis mengakhiri prospek investasi AI. Namun, ia mengingatkan investor agar mengevaluasi kembali portofolio mereka.
Orton menyoroti konsentrasi kepemilikan saham di sektor teknologi. Menurutnya, investor perlu mencermati kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi besar untuk membangun infrastruktur AI.
Bisnis Foundry Jadi Andalan Pemulihan Intel
Di tengah tekanan pasar, Intel mengandalkan bisnis manufaktur chip atau foundry sebagai salah satu pilar pemulihan. Perusahaan tersebut menjadi satu-satunya produsen berbasis AS yang memproduksi chip logika canggih.
Intel telah memulai produksi volume tinggi chip 18A di fasilitas manufaktur barunya di Arizona. Teknologi ini diharapkan menarik pelanggan yang selama ini mengandalkan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) untuk memproduksi chip canggih.
Intel juga memperkirakan fasilitas manufaktur berikutnya di Arizona mulai beroperasi pada akhir 2028. Meski demikian, perusahaan belum memiliki pelanggan eksternal untuk produk chip terbarunya.
Lip-Bu Tan berharap Intel dapat mengumumkan sejumlah pelanggan dalam dua kuartal mendatang. Ia juga menyampaikan bahwa perusahaan mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan teknologi chip 14A.
Keberhasilan menarik pelanggan eksternal akan menjadi salah satu penentu pemulihan bisnis Intel. Perusahaan juga perlu membuktikan daya saing teknologi manufakturnya di tengah persaingan industri semikonduktor yang semakin ketat. (de*)









