ESET Temukan 28 Aplikasi Palsu di Google Play, Sudah Diunduh 7,3 Juta Kali

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 11:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan Aplikasi Palsu Pengintip WhatsApp dan SMS Beredar di Google Play, Diunduh 7,3 Juta Kali

Puluhan Aplikasi Palsu Pengintip WhatsApp dan SMS Beredar di Google Play, Diunduh 7,3 Juta Kali

Jakarta, APGtimes.com — Perusahaan keamanan siber ESET menemukan 28 aplikasi palsu di Google Play yang mengklaim bisa mengakses riwayat panggilan, SMS, hingga log panggilan WhatsApp untuk nomor telepon apa pun.

Pengguna telah mengunduh aplikasi-aplikasi tersebut lebih dari 7,3 juta kali. ESET menamai kelompok aplikasi itu sebagai CallPhantom.

Aplikasi tersebut meminta pengguna membayar untuk membuka fitur tertentu. Namun, aplikasi hanya menampilkan data acak hasil rekayasa sistem dan bukan data asli.

ESET Bongkar Modus Penipuan

Peneliti ESET, Lukas Stefanko, mengatakan timnya pertama kali menemukan modus tersebut pada November 2025 melalui unggahan di Reddit.

Unggahan itu membahas aplikasi bernama “Call History of Any Number” yang tersedia di Google Play.

“Tidak mengejutkan, analisis kami menunjukkan bahwa data ‘riwayat panggilan’ yang diberikan aplikasi itu sepenuhnya dibuat-buat. Aplikasi menghasilkan nomor telepon secara acak dan mencocokkannya dengan nama tetap, waktu panggilan, serta durasi panggilan yang sudah tertanam langsung di dalam kode,” kata Stefanko.

Baca Juga :  Cara Mengatasi Gmail Penuh Tanpa Hapus Akun, Penyimpanan Bisa Lega Lagi

Sebagai mitra App Defense Alliance, ESET langsung melaporkan temuan tersebut kepada Google. Google kemudian menghapus seluruh aplikasi yang masuk dalam laporan itu dari Google Play.

Sasar Pengguna Android di Asia

ESET menyebut aplikasi CallPhantom banyak menyasar pengguna Android di India dan kawasan Asia Pasifik. Banyak aplikasi otomatis menampilkan kode negara India +91 dan mendukung sistem pembayaran UPI.

Aplikasi tersebut memiliki tampilan sederhana dan tidak meminta izin akses sensitif. Pengembang sengaja membuat aplikasi seperti itu karena aplikasi memang tidak mampu mengakses data panggilan, SMS, maupun WhatsApp secara nyata.

Pengembang Gunakan Beragam Sistem Pembayaran

Dalam penelitiannya, ESET menemukan tiga metode pembayaran berbeda yang digunakan pengembang aplikasi. Dua metode di antaranya melanggar kebijakan pembayaran Google Play.

Baca Juga :  Tagihan Listrik Bisa Naik, Ini 7 Peralatan Dapur yang Wajib Dicabut

Sebagian aplikasi memakai sistem langganan resmi Google Play Billing. Sementara aplikasi lainnya memakai layanan pembayaran pihak ketiga.

Beberapa aplikasi bahkan langsung menampilkan formulir pembayaran kartu di dalam aplikasi.

Pengembang menawarkan biaya langganan dengan harga bervariasi, mulai dari paket mingguan, bulanan, hingga tahunan. Harga tertinggi mencapai 80 dolar AS, sedangkan paket termurah rata-rata berada di kisaran 5 euro.

Google Hentikan Langganan Aktif

ESET menjelaskan pengguna masih bisa membatalkan langganan yang memakai sistem pembayaran resmi Google Play. Google juga otomatis menghentikan seluruh langganan aktif dari 28 aplikasi yang telah dihapus tersebut.

Dalam beberapa kasus, pengguna juga berpeluang mendapatkan pengembalian dana dari Google Play.

Namun, pengguna yang melakukan pembayaran di luar sistem Google Play harus menghubungi penyedia layanan pembayaran masing-masing. Google tidak bisa membatalkan langganan maupun memberikan pengembalian dana untuk transaksi tersebut. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Meta Rilis Fitur Instants di Instagram, Pengguna Bisa Upload Foto Sekali Jepret
Studi UC Berkeley Ungkap AI Bikin Nilai Mahasiswa Naik, tapi Skill Menurun
Riset Harvard: AI Mulai Geser Pekerjaan Repetitif, Skill Ini Makin Dicari Perusahaan
OpenAI Disebut Siapkan Ponsel AI, Produksi Massal Diprediksi Mulai 2027
Samsung Galaxy A27 Bocor, Kini Pakai Snapdragon dan Layar 120Hz
Samsung Luncurkan TV Micro RGB dengan Vision AI di Indonesia
Perbedaan Chromebook dan Laptop Windows, Simak Sebelum Membeli
AI Picu Gelombang PHK, Bos OpenAI Tegaskan ChatGPT Tak Akan Gantikan Manusia
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:07 WIB

Meta Rilis Fitur Instants di Instagram, Pengguna Bisa Upload Foto Sekali Jepret

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:09 WIB

Studi UC Berkeley Ungkap AI Bikin Nilai Mahasiswa Naik, tapi Skill Menurun

Senin, 18 Mei 2026 - 13:09 WIB

Riset Harvard: AI Mulai Geser Pekerjaan Repetitif, Skill Ini Makin Dicari Perusahaan

Senin, 18 Mei 2026 - 11:05 WIB

ESET Temukan 28 Aplikasi Palsu di Google Play, Sudah Diunduh 7,3 Juta Kali

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:09 WIB

OpenAI Disebut Siapkan Ponsel AI, Produksi Massal Diprediksi Mulai 2027

Berita Terbaru