Jakarta, APGtimes.com — Penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan mahasiswa terus meningkat dan memicu perubahan besar di dunia pendidikan tinggi.
Sebuah studi terbaru dari University of California, Berkeley mengungkap penggunaan AI memang mampu meningkatkan nilai akademik mahasiswa. Namun, penelitian itu juga menemukan penurunan kualitas pembelajaran dan kemampuan mahasiswa dalam memahami materi.
Peneliti senior UC Berkeley, Igor Chirikov, membagi penggunaan AI generatif oleh mahasiswa ke dalam tiga kategori utama.
Kategori pertama adalah augmentasi. Dalam metode ini, mahasiswa memakai AI sebagai alat bantu riset atau pendukung pengerjaan tugas.
Kategori kedua ialah reinstatement. Mahasiswa memanfaatkan AI untuk menyelesaikan tugas berbasis teknologi yang memang membutuhkan dukungan AI.
Sementara kategori ketiga adalah displacement. Pada metode ini, AI mengambil alih hampir seluruh pekerjaan mahasiswa, seperti menulis esai atau membuat coding.
AI Dongkrak Nilai Mahasiswa
Penelitian tersebut menunjukkan seluruh metode penggunaan AI mampu meningkatkan nilai akademik mahasiswa.
Namun, Chirikov menemukan hanya metode augmentasi dan reinstatement yang benar-benar membantu proses pembelajaran serta pengembangan keterampilan mahasiswa.
Sebaliknya, penggunaan displacement justru membuat mahasiswa kehilangan kesempatan mengasah kemampuan berpikir dan keterampilan teknis.
Penelitian itu juga menyoroti banyaknya tugas bawa pulang dan esai yang memberi ruang besar bagi mahasiswa untuk menyerahkan pekerjaan sepenuhnya kepada AI.
Nilai “A” Melonjak Sejak ChatGPT Populer
Dalam penelitian tersebut, Chirikov menganalisis lebih dari 500.000 data pendaftaran mata kuliah di 84 departemen pada sebuah universitas besar di Texas selama periode 2018 hingga 2025.
Dia menemukan lonjakan nilai paling tinggi terjadi pada mata kuliah yang banyak menggunakan tugas menulis dan coding.
Menurut penelitian itu, mata kuliah yang rentan terhadap penggunaan AI mengalami kenaikan pemberian nilai “A” hingga 30 persen sejak ChatGPT populer di pasaran.
Chirikov menilai banyak mahasiswa memakai AI untuk mencari jalan pintas demi memperoleh nilai tinggi di tengah ketatnya persaingan akademik dan dunia kerja.
Dunia Kerja Dinilai Terancam
Penelitian tersebut juga memperingatkan dampak jangka panjang penggunaan AI terhadap dunia kerja.
Chirikov menilai ketergantungan mahasiswa terhadap AI dapat menciptakan lulusan yang tidak memiliki kemampuan memadai tanpa bantuan mesin.
“Jika AI menggantikan tugas pembentukan skill selama masa kuliah, mahasiswa mungkin lulus dengan kemampuan yang lemah,” tulis Chirikov.
Menurutnya, kondisi itu berpotensi mempercepat otomatisasi pekerjaan dan meningkatkan ancaman hilangnya lapangan kerja akibat AI.
Universitas Mulai Perketat Aturan
Sejumlah universitas di Amerika Serikat mulai mengambil langkah untuk mengatasi inflasi nilai akibat penggunaan AI.
Di Princeton University, pihak kampus mencabut aturan kode kehormatan yang telah berlaku selama 133 tahun setelah banyak mahasiswa mengaku memakai AI saat ujian.
Sementara itu, Harvard University tengah membahas kebijakan pembatasan pemberian nilai “A” maksimal hanya untuk 20 persen mahasiswa di setiap kelas. (dr*)








