Padang, APGtimes.com — Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) Krismadinata langsung mengambil langkah cepat setelah insiden peluru nyasar melukai seorang mahasiswi dan seorang warga di kawasan kampus pada Selasa (2/6/2026). Pihak kampus segera berkoordinasi dengan kementerian, aparat keamanan, dan sejumlah instansi terkait untuk memastikan penanganan kasus berjalan transparan.
Krismadinata mengatakan pihaknya langsung mengirim laporan resmi kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sesaat setelah kejadian terjadi.
Menurutnya, Menteri Pendidikan Tinggi langsung merespons laporan tersebut dan menjalin komunikasi dengan Panglima TNI guna mempercepat proses penanganan.
Selain itu, UNP juga menghubungi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) untuk memastikan seluruh pihak terkait memberikan perhatian serius terhadap kasus tersebut.
“Kami menerima pesan yang sangat jelas bahwa kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali,” kata Krismadinata.
UNP Bangun Posko Koordinasi Sejak Hari Pertama
Tidak hanya berkoordinasi di tingkat pusat, pihak rektorat juga membentuk posko koordinasi di daerah pada hari yang sama. Langkah ini bertujuan mempercepat komunikasi dan penanganan kasus di lapangan.
UNP menghubungi Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda), Polsek Padang Utara, Komandan Batalyon, hingga Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol untuk memperkuat koordinasi antarlembaga.
Krismadinata menilai langkah tersebut berhasil mempercepat proses penyelidikan sekaligus menekan berbagai spekulasi yang sempat berkembang di media sosial.
Ia juga mendorong seluruh pihak terkait untuk membuka hasil investigasi secara transparan kepada masyarakat.
Kodam XX/TIB Pastikan Peluru Berasal dari Munisi Latihan
Sementara itu, Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol (TIB) mengumumkan hasil investigasi awal terkait insiden tersebut. Tim gabungan menyimpulkan bahwa proyektil yang ditemukan pada korban identik dengan munisi yang digunakan personel Yonif TP 897/Singgalang saat menjalani latihan.
Kapendam XX/TIB Letnan Kolonel Kav Taufiq menjelaskan tim investigasi melakukan serangkaian pemeriksaan selama dua hari. Tim melakukan olah tempat kejadian perkara, mengumpulkan barang bukti, dan menguji proyektil melalui laboratorium forensik persenjataan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan proyektil tersebut memiliki kaliber 9 milimeter dan sangat identik dengan munisi latihan yang digunakan dalam kegiatan Yonif TP 897/Singgalang.
Libatkan Ahli Persenjataan dan Purnawirawan TNI
Dalam proses penyelidikan, Kodam XX/TIB melibatkan berbagai pihak yang memiliki keahlian di bidang persenjataan dan amunisi. Tim investigasi bekerja sama dengan Pusat Peralatan (Puspalat) serta sejumlah purnawirawan TNI yang berpengalaman dalam analisis balistik.
Dari hasil pemeriksaan fisik proyektil, tim menemukan bahwa peluru berasal dari senjata pistol G2 Combat kaliber 9 milimeter. Senjata tersebut menjadi salah satu alat yang digunakan dalam latihan selain senjata laras panjang kaliber 5,56 milimeter.
Kodam XX/TIB memastikan tidak ada aktivitas penggunaan senjata lain di sekitar lokasi saat insiden terjadi. Dengan temuan tersebut, tim menyatakan proses identifikasi asal-usul proyektil telah selesai.
Investigasi Lanjutan Terus Berjalan
Meski berhasil mengidentifikasi jenis munisi yang digunakan, aparat terkait masih melanjutkan investigasi untuk mengetahui secara rinci bagaimana proyektil tersebut dapat mencapai kawasan kampus dan melukai korban.
Kasus ini mendapat perhatian luas dari masyarakat karena lokasi kejadian berada di lingkungan pendidikan. Banyak pihak berharap investigasi berjalan terbuka dan menghasilkan langkah konkret agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.








