Trump Batalkan Serangan Baru ke Iran Usai Dibujuk Negara Teluk, Negosiasi Berlangsung

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump (Alex WROBLEWSKI/AFP via Getty Images)

Presiden AS Donald Trump (Alex WROBLEWSKI/AFP via Getty Images)

Washington DC, APGtimes.com — Donald Trump membatalkan rencana serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran pada Selasa (19/05) setelah menerima permintaan dari negara-negara Teluk. Trump mengatakan negosiasi serius dengan Teheran masih berlangsung.

Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab meminta dirinya tidak melancarkan serangan baru terhadap Iran.

Trump mengaku menerima informasi bahwa kedua pihak berpeluang mencapai kesepakatan yang “sangat dapat diterima” oleh AS. Namun, dia kembali menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Meski menunda serangan, Trump memperingatkan AS siap melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran kapan saja jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan.

Dukungan Publik terhadap Trump Menurun

Ancaman terbaru itu menambah daftar peringatan keras Trump kepada Iran dalam beberapa bulan terakhir. Pada Maret lalu, Trump juga mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz. Namun, ancaman itu tidak berubah menjadi serangan militer dan akhirnya berujung pada gencatan senjata.

Seorang komandan militer senior Iran meminta AS tidak mengulangi “kesalahan strategis dan salah perhitungan”.

Pernyataan Trump muncul di tengah turunnya dukungan publik terhadap perang dengan Iran. Jajak pendapat New York Times/Siena yang dirilis Senin (18/05) menunjukkan sekitar 64 persen responden menilai keputusan berperang melawan Iran sebagai langkah yang salah.

Baca Juga :  Lisa BLACKPINK dan Katy Perry Meriahkan Pembukaan Piala Dunia 2026

Survei yang sama juga mencatat hanya 37 persen responden menyetujui kinerja Trump sebagai presiden. Hasil tersebut memperlihatkan tantangan besar bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu, terutama karena meningkatnya kritik publik terhadap perang serta penanganan ekonomi dan imigrasi.

Negara Teluk Khawatir Serangan Balasan Iran

Pasukan Israel dan AS mulai melancarkan serangan udara besar terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan mengirim drone dan rudal ke Israel serta target AS di negara-negara Teluk.

Negara-negara Arab Teluk khawatir Iran kembali menyerang fasilitas strategis di kawasan jika AS melanjutkan operasi militer. Iran masih memiliki persediaan drone dan rudal yang mampu menyerang bandara, fasilitas petrokimia, hingga instalasi desalinasi air di kawasan Teluk.

Iran juga tetap menguasai Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Ancaman blokade selat itu memicu lonjakan harga minyak global.

Di sisi lain, AS terus memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran untuk menekan Teheran agar menerima syarat dari Washington.

Iran Ajukan Sejumlah Tuntutan

Kantor berita Tasnim kembali mempublikasikan komentar Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang memperingatkan bahwa Iran dapat membuka front baru di wilayah yang dianggap rentan bagi musuh.

Baca Juga :  Meta Pangkas 8.000 Pegawai: Zuckerberg Kini Bertaruh Hidup pada AI

Pemerintah Iran pada Senin (18/05) juga mengonfirmasi telah merespons proposal terbaru AS. Teheran menyebut pembicaraan dengan Washington masih berlangsung melalui Pakistan sebagai mediator.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menilai tuntutan Iran bersifat “bertanggung jawab” dan “dermawan”.

Menurut laporan Tasnim, Iran meminta penghentian perang di seluruh front, termasuk serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon, penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta jaminan tidak ada serangan baru terhadap Iran.

Iran juga meminta kompensasi atas kerusakan akibat perang dan pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz.

AS Ajukan Syarat Program Nuklir

Sementara itu, kantor berita Fars melaporkan AS mengajukan lima syarat balasan kepada Iran. Salah satu syaratnya mewajibkan Iran hanya mengoperasikan satu fasilitas nuklir dan memindahkan stok uranium yang diperkaya tinggi ke AS.

Trump pada Jumat (15/05) juga mengisyaratkan kesediaannya menerima penangguhan program nuklir Iran selama 20 tahun yang menjadi titik utama perselisihan kedua negara.

AS dan sekutu-sekutu Eropa selama ini menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir melalui program pengayaan uranium. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bank Dunia Resmi Kurangi Pinjaman ke China, Target Nol pada 2031
Polda Jatim Bongkar Penyelundupan 53 Gading Gajah, Dititipkan di Koper Jemaah Umrah
Iran Tuduh AS Langgar Kesepakatan Damai, Ketegangan Timur Tengah Memanas Lagi
Jepang Naikkan Biaya Visa 5 Kali Lipat, Turis Indonesia Perlu Siapkan Dana Lebih
Selat Hormuz Sempat Ditutup, Pemerintah Iran Langsung Bantah Ancaman IRGC
AS dan Iran Resmi Damai, Selat Hormuz Dibuka dan Nuklir Diawasi
AS dan Iran Sepakat Damai, Warga Teheran Justru Masih Waswas
Dunia Sambut Damai AS-Iran, PBB hingga Eropa Beri Dukungan Penuh
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 09:09 WIB

Bank Dunia Resmi Kurangi Pinjaman ke China, Target Nol pada 2031

Selasa, 30 Juni 2026 - 14:09 WIB

Polda Jatim Bongkar Penyelundupan 53 Gading Gajah, Dititipkan di Koper Jemaah Umrah

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:09 WIB

Iran Tuduh AS Langgar Kesepakatan Damai, Ketegangan Timur Tengah Memanas Lagi

Kamis, 25 Juni 2026 - 19:09 WIB

Jepang Naikkan Biaya Visa 5 Kali Lipat, Turis Indonesia Perlu Siapkan Dana Lebih

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:09 WIB

Selat Hormuz Sempat Ditutup, Pemerintah Iran Langsung Bantah Ancaman IRGC

Berita Terbaru