Atlanta, APGtimes.com – Timnas Argentina menghadapi potensi sanksi dari Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) setelah para pemain membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” atau “Kepulauan Falkland adalah milik Argentina” seusai mengalahkan Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026.
Selebrasi tersebut berlangsung setelah Argentina membalikkan keadaan dan menang 2-1 atas Inggris di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Rabu (15/7/2026). Kemenangan itu sekaligus membawa La Albiceleste melaju ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun.
Namun, aksi para pemain langsung memicu perhatian karena FIFA melarang penggunaan simbol maupun pesan politik dalam pertandingan resmi.
FIFA Larang Pesan Politik di Lapangan
Aturan FIFA dan International Football Association Board (IFAB) melarang pemain membawa atau menampilkan slogan, simbol, maupun gambar yang mengandung pesan politik, agama, atau kepentingan pribadi selama pertandingan.
Larangan tersebut juga mencakup pakaian, atribut, maupun perlengkapan lain yang digunakan pemain.
Karena itu, FIFA memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi apabila menemukan pelanggaran terhadap aturan tersebut.
Hingga kini, FIFA belum menyampaikan sikap resmi mengenai kemungkinan hukuman terhadap Argentina.
Argentina Pernah Kena Denda karena Kasus Serupa
Kontroversi mengenai spanduk Malvinas bukan kali pertama melibatkan Timnas Argentina.
Pada 2014, FIFA menjatuhkan denda kepada Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) setelah para pemain mengangkat spanduk dengan tulisan yang sama menjelang pertandingan persahabatan melawan Slovenia.
Saat itu, FIFA menilai aksi tersebut melanggar aturan disiplin karena membawa pesan politik ke dalam pertandingan sepak bola.
Kasus tersebut kini kembali menjadi sorotan setelah Argentina mengulang aksi serupa di Piala Dunia 2026.
Sengketa Malvinas Masih Jadi Isu Sensitif
Kepulauan Falkland atau Malvinas masih menjadi sumber sengketa antara Inggris dan Argentina.
Argentina terus mengklaim kepulauan tersebut sebagai bagian dari wilayahnya, sedangkan Inggris tetap mempertahankan kedaulatan atas wilayah itu.
Perselisihan kedua negara memuncak pada 1982 ketika Inggris dan Argentina terlibat perang selama 74 hari.
Hingga sekarang, isu Malvinas masih menjadi persoalan yang sangat sensitif dalam hubungan diplomatik kedua negara.
Scaloni Sempat Minta Sepak Bola Terpisah dari Politik
Menjelang semifinal, pelatih Argentina Lionel Scaloni mengajak semua pihak memisahkan sepak bola dari persoalan politik.
Ia menilai laga melawan Inggris hanya sebatas pertandingan olahraga dan tidak boleh dikaitkan dengan konflik sejarah.
Namun, setelah pertandingan berakhir, para pemain tetap mengangkat spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” saat merayakan kemenangan.
Aksi tersebut memicu perdebatan di berbagai negara dan membuka peluang bagi FIFA untuk melakukan penyelidikan sebelum menentukan langkah disipliner terhadap Timnas Argentina. (de*)









