Rupiah Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS, Ini Dampaknya bagi Dunia Usaha

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026), seiring tekanan dari pasar global dan arus modal di dalam negeri. Berdasarkan data pasar spot, rupiah tercatat di level Rp17.918 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 18 poin atau 0,10 persen dari penutupan sebelumnya sebesar Rp17.900 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pergerakan dolar AS dan harga minyak dunia masih menjadi faktor utama yang memengaruhi rupiah. Tingginya kebutuhan impor minyak Indonesia juga berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS.

“Umumnya rupiah masih didikte oleh faktor eksternal, bukan hanya dolar AS, namun harga minyak dunia mengingat kebutuhan impor kita yang besar akan meningkatkan permintaan dollar,” kata Lukman kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Indeks Dolar AS Turun, Rupiah Mendapat Penahan

Meski rupiah melemah, penurunan indeks dolar AS membantu membatasi tekanan terhadap mata uang domestik. Pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) turun 0,07 persen ke level 102,130. Indeks tersebut mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia.

Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST) juga ikut menahan tekanan rupiah. Pergerakan tersebut dipengaruhi pernyataan bernada dovish dari John Williams, pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini 20 Juli 2026 Masih Stabil, Cek Daftar Lengkap di Pegadaian

Namun, investor masih berhati-hati menjelang pengumuman data inflasi AS pada Rabu malam. Data tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

“Investor masih cenderung wait and see mengantisipasi data inflasi AS malam ini,” ujar Lukman.

Arus Modal Keluar Membebani Rupiah

Dari pasar domestik, arus dana keluar atau outflow di pasar saham turut menambah tekanan terhadap rupiah. Kondisi ini terjadi ketika investor masih mencermati ketidakpastian ekonomi global dan menunggu petunjuk baru dari Amerika Serikat.

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah secara terbatas. Menurutnya, investor masih akan menahan sebagian keputusan investasi hingga data inflasi AS memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter negara tersebut.

Dengan demikian, pergerakan dolar AS, harga minyak dunia, imbal hasil obligasi AS, dan aliran modal menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati dalam perdagangan rupiah.

Pelemahan Rupiah Berisiko Menaikkan Biaya Impor

Rupiah yang melemah membuat perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang dari luar negeri. Dampaknya dapat dirasakan oleh importir minyak, produsen yang menggunakan bahan baku impor, serta perusahaan yang membutuhkan barang modal dan komponen produksi dari luar negeri.

Jika pelemahan berlangsung berkelanjutan, perusahaan berpotensi menaikkan harga jual untuk menutup peningkatan biaya. Akibatnya, harga barang dan jasa di dalam negeri dapat ikut naik sehingga menambah risiko inflasi.

Baca Juga :  100 Hari Perang AS-Iran, Harga Minyak Melonjak dan Inflasi Global Meningkat

Selain itu, perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS perlu menyediakan dana rupiah lebih besar untuk membayar kewajibannya. Risiko ini semakin terasa bagi perusahaan yang tidak memperoleh pendapatan dalam dolar AS atau tidak melakukan lindung nilai terhadap perubahan kurs.

“Dunia usaha juga menghadapi kenaikan biaya produksi dan beban pembayaran utang dalam dolar AS, terutama bagi perusahaan yang tidak memiliki pendapatan dolar atau lindung nilai,” kata Lukman.

Eksportir Bisa Mendapat Manfaat dari Perubahan Kurs

Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat menguntungkan eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar AS. Ketika mengonversi pendapatan tersebut ke rupiah, mereka berpotensi memperoleh nilai yang lebih besar.

Meski demikian, besarnya manfaat bergantung pada struktur biaya setiap perusahaan. Eksportir yang masih menggunakan bahan baku impor tetap menghadapi kenaikan biaya produksi sehingga keuntungan dari perubahan kurs dapat berkurang.

Karena itu, dampak pelemahan rupiah tidak sama bagi seluruh pelaku usaha. Importir perlu mengantisipasi kenaikan biaya dan kewajiban valuta asing, sedangkan eksportir perlu menghitung manfaat pendapatan dolar AS dengan mempertimbangkan biaya bahan baku serta kebutuhan operasional. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB