Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pergerakan dolar AS dan harga minyak dunia masih menjadi faktor utama yang memengaruhi rupiah. Tingginya kebutuhan impor minyak Indonesia juga berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS.
“Umumnya rupiah masih didikte oleh faktor eksternal, bukan hanya dolar AS, namun harga minyak dunia mengingat kebutuhan impor kita yang besar akan meningkatkan permintaan dollar,” kata Lukman kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Indeks Dolar AS Turun, Rupiah Mendapat Penahan
Meski rupiah melemah, penurunan indeks dolar AS membantu membatasi tekanan terhadap mata uang domestik. Pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) turun 0,07 persen ke level 102,130. Indeks tersebut mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia.
Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST) juga ikut menahan tekanan rupiah. Pergerakan tersebut dipengaruhi pernyataan bernada dovish dari John Williams, pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Namun, investor masih berhati-hati menjelang pengumuman data inflasi AS pada Rabu malam. Data tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
“Investor masih cenderung wait and see mengantisipasi data inflasi AS malam ini,” ujar Lukman.
Arus Modal Keluar Membebani Rupiah
Dari pasar domestik, arus dana keluar atau outflow di pasar saham turut menambah tekanan terhadap rupiah. Kondisi ini terjadi ketika investor masih mencermati ketidakpastian ekonomi global dan menunggu petunjuk baru dari Amerika Serikat.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah secara terbatas. Menurutnya, investor masih akan menahan sebagian keputusan investasi hingga data inflasi AS memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter negara tersebut.
Dengan demikian, pergerakan dolar AS, harga minyak dunia, imbal hasil obligasi AS, dan aliran modal menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati dalam perdagangan rupiah.
Pelemahan Rupiah Berisiko Menaikkan Biaya Impor
Rupiah yang melemah membuat perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang dari luar negeri. Dampaknya dapat dirasakan oleh importir minyak, produsen yang menggunakan bahan baku impor, serta perusahaan yang membutuhkan barang modal dan komponen produksi dari luar negeri.
Jika pelemahan berlangsung berkelanjutan, perusahaan berpotensi menaikkan harga jual untuk menutup peningkatan biaya. Akibatnya, harga barang dan jasa di dalam negeri dapat ikut naik sehingga menambah risiko inflasi.
Selain itu, perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS perlu menyediakan dana rupiah lebih besar untuk membayar kewajibannya. Risiko ini semakin terasa bagi perusahaan yang tidak memperoleh pendapatan dalam dolar AS atau tidak melakukan lindung nilai terhadap perubahan kurs.
“Dunia usaha juga menghadapi kenaikan biaya produksi dan beban pembayaran utang dalam dolar AS, terutama bagi perusahaan yang tidak memiliki pendapatan dolar atau lindung nilai,” kata Lukman.
Eksportir Bisa Mendapat Manfaat dari Perubahan Kurs
Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat menguntungkan eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar AS. Ketika mengonversi pendapatan tersebut ke rupiah, mereka berpotensi memperoleh nilai yang lebih besar.
Meski demikian, besarnya manfaat bergantung pada struktur biaya setiap perusahaan. Eksportir yang masih menggunakan bahan baku impor tetap menghadapi kenaikan biaya produksi sehingga keuntungan dari perubahan kurs dapat berkurang.
Karena itu, dampak pelemahan rupiah tidak sama bagi seluruh pelaku usaha. Importir perlu mengantisipasi kenaikan biaya dan kewajiban valuta asing, sedangkan eksportir perlu menghitung manfaat pendapatan dolar AS dengan mempertimbangkan biaya bahan baku serta kebutuhan operasional. (ys*)









