Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 15,2 Persen, Konflik Iran dan Serangan di Hormuz Jadi Pemicu

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah kapal tanker minyak mentah diarahkan ke dermaga di terminal minyak di pelabuhan Qingdao, di Provinsi Shandong, bagian timur China pada 7 Maret 2026.(AFP)

Sebuah kapal tanker minyak mentah diarahkan ke dermaga di terminal minyak di pelabuhan Qingdao, di Provinsi Shandong, bagian timur China pada 7 Maret 2026.(AFP)

New York, APGtimes.com — Harga minyak mentah dunia melonjak sepanjang Oktober 2026. Minyak Brent naik 13,6 persen. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 15,2 persen.

Ketegangan di Timur Tengah mendorong kenaikan tersebut. Pasar khawatir perang Iran meluas dan mengganggu pasokan minyak. Laporan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz turut memperbesar kecemasan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), harga Brent kontrak Desember naik 2,76 dollar AS atau 2,4 persen. Harganya mencapai 117,64 dollar AS per barrel. Bahkan, Brent sempat menyentuh level 118 dollar AS per barrel.

Minyak WTI juga menguat 2,12 dollar AS atau 2,08 persen. Harganya mencapai 104,12 dollar AS per barrel. Untuk kontrak yang lebih aktif diperdagangkan, Brent pengiriman Januari 2027 naik 2,63 dollar AS menjadi 113,43 dollar AS per barrel.

Serangan Kapal Tanker Picu Kekhawatiran Pasokan

Laporan serangan terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz menambah tekanan di pasar minyak. Kapal tersebut terkena bahan peledak yang dipasang dari kapal kecil.

UK Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga keamanan maritim Inggris, menyampaikan informasi mengenai insiden itu. Hingga kini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.

Peristiwa tersebut menarik perhatian pasar karena Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak dan bahan bakar dari kawasan Teluk. Gangguan di wilayah ini dapat menghambat distribusi energi ke berbagai negara.

Baca Juga :  UEA Percepat Pipa Minyak West-East untuk Hindari Blokade Selat Hormuz

Sumber maritim menyebut serangan itu sebagai insiden pertama yang diketahui berhasil menggunakan ranjau magnetik atau limpet mines di jalur tersebut. Insiden itu terjadi sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari 2026.

Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan pelaku pasar terus memantau perkembangan konflik. Mereka juga mencermati kemungkinan gangguan aliran minyak dari Timur Tengah.

“Para pedagang akan tetap berfokus pada aliran minyak dari Timur Tengah dan kemungkinan eskalasi yang dilakukan oleh pasukan AS dan sekutunya,” ujar Kissler, dikutip dari Reuters, Sabtu (31/10/2026).

Ancaman Keamanan Meluas ke Arab Saudi

Ketegangan kawasan juga memengaruhi situasi keamanan Arab Saudi. Kedutaan Besar AS di Riyadh memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat dan anggota keluarga mereka meninggalkan negara tersebut mulai 23 Oktober.

Pemerintah AS mengambil langkah itu karena meningkatnya risiko keamanan. Ancaman serangan Houthi terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting turut menjadi pertimbangan.

Kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran sebelumnya mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas energi Arab Saudi. Mereka menyebut Kilang Ras Tanura, Kilang Rabigh, dan fasilitas produksi Abqaiq milik Saudi Aramco sebagai sasaran.

Klaim serangan tersebut menambah kekhawatiran mengenai keamanan fasilitas energi di kawasan Teluk. Pasar pun mencermati risiko gangguan produksi dan distribusi minyak.

Qatar Bantu Upaya Diplomasi AS-Iran

Di tengah ketegangan, sejumlah pihak terus membuka jalur diplomasi. Mediator Qatar kembali mengunjungi Teheran pada Jumat. Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya terkoordinasi untuk mendorong kesepakatan antara AS dan Iran.

Baca Juga :  Harga Emas Jambi Hari Ini 1 Juni 2026 Stabil, Emas Antam Bertahan di Rp2,799 Juta per Gram

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan Wakil Presiden JD Vance telah menghubungi Iran. Komunikasi tersebut bertujuan membantu negara itu memperoleh pasokan medis.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran telah menerima surat dari Vance. Namun, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan.

Iran disebut menginginkan AS memenuhi sejumlah persyaratan. Perkembangan komunikasi kedua negara menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi arah konflik.

Saxo Bank Prediksi Harga Minyak Tetap Volatil

Saxo Bank memperkirakan harga minyak masih berpotensi bergerak tajam dalam beberapa pekan mendatang. Dalam keterangannya pada Kamis, bank asal Denmark itu menyoroti perkembangan konflik dan pemilihan umum sela AS pada 3 November.

Saxo Bank memproyeksikan harga minyak mentah berada di kisaran 70-90 dollar AS per barrel. Perkiraan tersebut tetap berlaku bahkan setelah konflik berakhir.

Angka itu lebih tinggi dibandingkan harga sebelum perang, yakni sekitar 60-70 dollar AS per barrel. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih dapat memengaruhi pasar energi.

Karena itu, pelaku pasar akan terus mencermati keamanan Selat Hormuz, hubungan AS-Iran, dan aktivitas kelompok bersenjata di kawasan Teluk. Ketiga faktor tersebut berpotensi menentukan arah harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kredit KB Bank Tembus Rp45,68 Triliun, Pendapatan Bunga Bersih Melonjak 28,94 Persen
Pemerintah Beri Insentif Pajak Rp576,4 Triliun pada 2026, UMKM hingga Industri Jadi Penerima
Saham Intel Anjlok 28,58 Persen, Nilai Investasi Pemerintah AS Susut Rp217,8 Triliun
Cicilan UMKM Korban Bencana Terancam Macet, DPR Desak OJK Beri Keringanan Kredit
Binance Bekukan Aset Rp54,45 Triliun Usai Insiden Keamanan, Tether dan Circle Ikut Bergerak
IHSG Anjlok 3,49 Persen, Investor Asing Ramai-Ramai Lepas Saham Rp 1,52 Triliun
Binance Diretas, Aset Kripto Rp100 Triliun Hilang dan Bitcoin Ikut Anjlok
IHSG Anjlok 3,23 Persen ke Level 5.111, Seluruh Sektor Saham Melemah
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:09 WIB

Kredit KB Bank Tembus Rp45,68 Triliun, Pendapatan Bunga Bersih Melonjak 28,94 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Pemerintah Beri Insentif Pajak Rp576,4 Triliun pada 2026, UMKM hingga Industri Jadi Penerima

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Saham Intel Anjlok 28,58 Persen, Nilai Investasi Pemerintah AS Susut Rp217,8 Triliun

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 15,2 Persen, Konflik Iran dan Serangan di Hormuz Jadi Pemicu

Jumat, 30 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Cicilan UMKM Korban Bencana Terancam Macet, DPR Desak OJK Beri Keringanan Kredit

Berita Terbaru