New York, APGtimes.com — Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Kamis (5/11/2026).
Pelemahan tersebut menghapus seluruh keuntungan besar Wall Street sehari sebelumnya setelah Partai Demokrat meraih kemenangan dalam pemilihan paruh waktu atau midterm elections.
Aksi jual terutama menyasar saham-saham teknologi. Investor mulai mengurangi kepemilikan saham karena khawatir perubahan peta politik AS akan menghambat pembangunan pusat data (data center) dan memperlambat investasi kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan data perdagangan yang dikutip CNBC pada Jumat (6/11/2026), Nasdaq Composite merosot 5,52 persen ke level 24.315,00.
Penurunan ini membawa indeks tersebut masuk zona koreksi karena nilainya sudah turun lebih dari 10 persen dari rekor tertinggi bulan lalu.
Sementara itu, S&P 500 melemah 4,36 persen menjadi 7.353,73. Dow Jones Industrial Average juga kehilangan 1.833,06 poin atau 3,44 persen ke posisi 51.523,06.
Ketiga indeks utama Wall Street mencatat penurunan harian terdalam sejak April 2025. Bahkan, pelemahan Dow Jones menghapus seluruh keuntungan dari reli perdagangan sehari sebelumnya.
Saham Teknologi dan Semikonduktor Tertekan
Tekanan pasar juga menjalar ke saham-saham berkapitalisasi kecil. Indeks Russell 2000 turun 4,45 persen dan ikut memasuki zona koreksi.
Selain itu, saham perusahaan yang berkaitan dengan industri AI, semikonduktor, dan pusat data kembali melemah selama dua hari berturut-turut.
Investor mencemaskan kemenangan Partai Demokrat yang berhasil menguasai kedua kamar Kongres AS. Kemenangan partai tersebut dalam sejumlah pemilihan gubernur juga memunculkan kekhawatiran terhadap kelanjutan ekspansi pusat data.
Salah satu tokoh Demokrat, Senator Bernie Sanders dari Vermont, sebelumnya menyerukan moratorium nasional terhadap pembangunan pusat data.
Melalui unggahan di media sosial X pada Rabu malam, Sanders menyampaikan penolakannya terhadap pembangunan fasilitas teknologi yang menurutnya berpotensi merusak lingkungan, menghilangkan pekerjaan, dan mengancam masa depan manusia.
Pernyataan tersebut menambah perhatian investor terhadap kemungkinan munculnya kebijakan pembatasan industri pusat data.
Nvidia hingga Broadcom Ikut Anjlok
Kekhawatiran terhadap masa depan industri AI langsung menekan sejumlah saham teknologi besar.
Broadcom mengalami penurunan sekitar 10 persen. Nvidia juga terkoreksi 9 persen, sedangkan saham Oracle melemah hampir 7 persen.
Qualcomm turut mengalami tekanan meskipun perusahaan semikonduktor tersebut melaporkan kinerja keuangan di atas ekspektasi pasar.
Harga sahamnya justru merosot 9 persen setelah perusahaan menyampaikan proyeksi kinerja berikutnya di bawah perkiraan analis.
Tekanan lebih besar terlihat pada iShares Semiconductor ETF (SOXX), instrumen investasi yang mengikuti pergerakan saham perusahaan semikonduktor. Nilainya anjlok lebih dari 12 persen, menjadi penurunan terdalam sejak pandemi Covid-19 pada Maret 2020.
Perusahaan Pusat Data dan Komputasi Awan Melemah
Perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan atau neocloud juga menghadapi aksi jual besar-besaran.
CoreWeave kehilangan hampir 10 persen nilai sahamnya. Sementara itu, Nebius turun sekitar 15 persen dan Iren melemah hampir 17 persen.
Penurunan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan penolakan politik atas ekspansi industri AI dan pusat data setelah hasil pemilihan di sejumlah negara bagian AS.
Chief Investment Officer Orion, Tim Holland, mengatakan investor mulai menarik dana dari pasar sambil mengamati dampak hasil pemilu terhadap belanja modal industri AI.
Menurut Holland, investasi AI selama sekitar tiga tahun terakhir menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Pelemahan Saham Teknologi Menular ke Sektor Lain
Gelombang aksi jual tidak hanya menghantam perusahaan teknologi. Tekanan juga merembet ke berbagai sektor lain di Wall Street.
Saham perusahaan industri Caterpillar turun sekitar 6 persen. Di sektor keuangan, JPMorgan melemah 4 persen.
Sementara itu, saham Boeing dan Nike masing-masing terkoreksi sekitar 2 persen.
Chief Investment Officer Truist Wealth, Keith Lerner, menilai tekanan terhadap saham teknologi mulai menyebar ke pasar secara lebih luas.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran investor tidak lagi terbatas pada perusahaan AI dan semikonduktor. Pasar juga mulai memperhitungkan dampak perubahan kebijakan politik AS terhadap investasi dan pertumbuhan berbagai sektor industri. (aw*)








