Budapest, APGtimes.com — Arsenal kembali harus menunda mimpi meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub setelah kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) melalui drama adu penalti pada final Liga Champions 2025-2026 di Puskas Arena, Sabtu (30/5/2026).
Kekalahan tersebut meninggalkan luka mendalam bagi bek Arsenal, Gabriel Magalhaes, yang gagal menjalankan tugas sebagai eksekutor penalti penentu.
Meski demikian, legenda Manchester United Peter Schmeichel justru memberikan pujian tinggi kepada pemain asal Brasil tersebut.
Menurut Schmeichel, Gabriel merupakan pemain terbaik di lapangan sepanjang pertandingan final Liga Champions antara Arsenal dan PSG.
Arsenal Sempat Dekat dengan Gelar Juara
Arsenal mengawali laga dengan sempurna setelah Kai Havertz mencetak gol cepat pada menit kelima.
Gol tersebut membawa The Gunners unggul 1-0 hingga babak pertama berakhir.
PSG kemudian berhasil menyamakan kedudukan melalui penalti Ousmane Dembele pada menit ke-65.
Setelah kedua tim gagal mencetak gol tambahan sepanjang waktu normal dan babak perpanjangan waktu, pertandingan berlanjut ke adu penalti.
Dalam momen penentuan itu, Gabriel gagal mengarahkan bola ke gawang sehingga PSG memastikan kemenangan dan mengangkat trofi Liga Champions.
Schmeichel Sebut Gabriel Pemain Terbaik
Peter Schmeichel mengaku sangat iba melihat Gabriel harus menanggung kekecewaan akibat kegagalan penalti tersebut.
Namun, mantan kiper Manchester United dan tim nasional Denmark itu menilai satu kegagalan tidak menghapus penampilan impresif Gabriel sepanjang pertandingan.
“Pertandingan ditentukan oleh adu penalti dan hasilnya bisa saja berbeda,” kata Schmeichel.
“Saya sangat iba pada Gabriel karena saya pikir dia luar biasa. Menurut saya, dia pemain terbaik di lapangan,” lanjutnya.
Schmeichel menilai Gabriel tampil sangat solid dalam menjaga lini pertahanan Arsenal dan berulang kali mematahkan serangan PSG.
Tekanan Final Liga Champions
Menurut Schmeichel, tekanan pada partai final Liga Champions membuat situasi menjadi jauh lebih sulit bagi setiap pemain.
Ia menilai Gabriel sebenarnya memiliki kualitas untuk mengeksekusi penalti dengan baik.
Namun, kondisi pertandingan membuat tekanan mental meningkat karena satu tendangan dapat menentukan nasib tim.
“Dia tahu harus mencetak gol. Jika gagal, PSG akan menang. Tekanan seperti itu sangat besar,” ujarnya.
Schmeichel menambahkan Gabriel mencoba mengarahkan bola ke sudut atas gawang untuk memastikan gol.
Sayangnya, bola justru melambung dan gagal menemui sasaran.
Jadi Tembok Arsenal Sepanjang Laga
Terlepas dari kegagalan penalti, Schmeichel tetap menilai Gabriel sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam pertandingan tersebut.
Bek berusia 28 tahun itu tampil disiplin dan menjadi tembok kokoh di lini belakang Arsenal.
“Saya sangat kasihan pada Gabriel. Dia seperti raksasa di lini belakang dan membuat Arsenal mampu bertahan sangat lama dalam pertandingan ini,” kata Schmeichel.
Kekalahan tersebut membuat Arsenal kembali gagal meraih gelar Liga Champions perdana mereka.
Sementara itu, PSG berhasil menambah koleksi trofi Eropa setelah memenangkan laga final yang berlangsung ketat hingga babak adu penalti. (da*)








