Sungai Penuh, APGtimes.com – Masyarakat adat Enam Luhah Sungai Penuh resmi menutup seluruh rangkaian Kenduri Sko Tahun 2026. Para ninik mamak mengakhiri pesta adat melalui tiga prosesi utama, yakni mengembalikan pusako ke Umoh Gedeang, menurunkan bendera Karamentang, dan mengantar anak laki-laki kepada tengganai dari pihak keluarga istri.
Rangkaian penutup tersebut sekaligus menjadi tanda berakhirnya Kenduri Sko yang berlangsung selama beberapa hari. Ribuan warga dan para perantau ikut memeriahkan tradisi adat tersebut.
Gelar Adat Jadi Awal Penutupan
Sebelum memasuki prosesi penutup, para pemangku adat lebih dahulu memberikan gelar adat kepada sejumlah penerima.
Mereka menyerahkan amanah agar para pemegang gelar menjaga marwah adat, membimbing anak kemenakan, serta memperkuat persatuan masyarakat.
Setelah itu, para ninik mamak membawa seluruh pusako menuju Umoh Gedeang. Mereka menyimpan kembali setiap pusako sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Prosesi berikutnya mengantar anak laki-laki kepada tengganai dari pihak keluarga istri. Tahapan tersebut melengkapi seluruh rangkaian Kenduri Sko Tahun 2026.
Bendera Karamentang Turun, Kenduri Sko Resmi Ditutup
Para ninik mamak kemudian menurunkan bendera Karamentang yang sebelumnya berkibar selama pesta adat berlangsung.
Bendera tersebut menjadi simbol pelaksanaan Kenduri Sko di setiap larik. Penurunannya menandai berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan adat tahun ini.
Masyarakat yang menyaksikan prosesi itu kemudian saling berpamitan. Para tamu mulai meninggalkan kampung halaman setelah mengikuti seluruh tahapan adat.
Perantau Kembali Membawa Kenangan
Selama Kenduri Sko berlangsung, para perantau memanfaatkan kesempatan untuk pulang kampung. Mereka berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, dan mengikuti berbagai kegiatan adat.
Masyarakat juga menikmati pertunjukan seni budaya yang berlangsung di setiap larik. Suasana penuh kebersamaan terasa sepanjang pelaksanaan Kenduri Sko.
Kini suasana kampung kembali tenang. Para perantau kembali ke daerah tempat mereka bekerja, sedangkan masyarakat melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Bagi masyarakat Enam Luhah, Kenduri Sko bukan hanya tradisi adat. Perayaan ini menjadi momen mempererat hubungan keluarga, menjaga warisan leluhur, dan memperkuat kebersamaan antargenerasi.
Seluruh masyarakat menutup Kenduri Sko Tahun 2026 dengan doa dan rasa syukur. Mereka berharap tradisi tersebut tetap lestari dan kembali menghadirkan kebersamaan pada pelaksanaan Kenduri Sko berikutnya. (de)









