KPAI Ungkap Kasus Penelantaran Anak Tertinggi Terjadi di Jawa Barat

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 19:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi penelantaran anak(Freepik)

Ilustrasi penelantaran anak(Freepik)

Jakarta, APGtimes.com — Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengungkapkan kasus penelantaran anak paling banyak terjadi di Jawa Barat sepanjang pengawasan tahun 2025.

Anggota KPAI, Kawiyan, menyampaikan temuan tersebut dalam rilis hasil pengawasan perlindungan anak periode Januari hingga April 2026.

“Kami di tahun kemarin melakukan pengawasan anak penelantaran. Dan tertinggi itu di Provinsi Jawa Barat, karena Jawa Barat penduduknya paling banyak dan daerahnya paling luas,” kata Kawiyan, Senin (18/5/2026).

Kasus Bayi Dibuang Jadi Sorotan

Kawiyan mencontohkan kasus pembuangan bayi yang cukup tinggi di Kabupaten Bogor.

Sepanjang 2025, petugas menemukan 12 kasus bayi dibuang di wilayah tersebut.

Menurut Kawiyan, sebagian besar orangtua sengaja membuang bayi karena berbagai faktor, termasuk belum menikah secara resmi atau merasa belum siap mengasuh anak.

Baca Juga :  Dedi Mulyadi Soroti Tambang Ilegal di Sumbar, Dorong Pariwisata dan Budaya Jadi Andalan

“Ada pasangan yang mempunyai bayi tetapi belum menikah secara resmi. Ada juga yang sudah menikah, tetapi merasa belum siap mengasuh anak sehingga memutuskan membuang bayi,” ujarnya.

Jakarta Catat Aduan Pelanggaran Anak Tertinggi

Dalam kesempatan yang sama, anggota KPAI Dian Sasmita mengungkapkan Jakarta menjadi wilayah dengan jumlah aduan pelanggaran anak tertinggi sepanjang Januari hingga April 2026.

KPAI menerima 113 laporan kasus pelanggaran anak di Jakarta selama periode tersebut.

Setelah Jakarta, jumlah aduan terbanyak berasal dari Jawa Barat dengan 96 kasus, Jawa Timur 36 kasus, Banten 30 kasus, dan Sumatera Utara 23 kasus.

Baca Juga :  Eks Dirjen Haji Kaget, Lebih dari 2.000 Jemaah Berangkat Tanpa Antrean pada 2024

Rumah dan Sekolah Jadi Lokasi Rentan

Dian menjelaskan kasus kekerasan terhadap anak banyak terjadi di lingkungan dengan interaksi panjang seperti rumah dan sekolah.

Selain itu, ruang digital juga menjadi tempat yang rentan bagi anak-anak mengalami kekerasan.

“Lingkungan digital juga menjadi ruang yang sangat mudah anak-anak kita menjadi korban kekerasan,” kata Dian.

Menurut dia, tidak ada tempat yang benar-benar menjamin anak aman sepenuhnya dari kekerasan.

Karena itu, Dian meminta seluruh pihak ikut bertanggung jawab melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan dan penelantaran. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cegah Kebakaran Hutan, Prabowo Minta 70.000 Polisi Kehutanan Ditambah
Alim Setiawan Jadi Wamentan, Ini Perjalanan Kariernya dari IPB hingga Kabinet Prabowo
Prabowo Lantik Kristomei Sianturi Jadi Kepala BNPB, Segini Harta Kekayaannya
Usai Dilantik Jadi KSAD, Tandyo Budi Revita Masuk Bursa Calon Panglima TNI
Kemenkes Ungkap Dampak Kabut Asap Karhutla, Bisa Picu Stres hingga Gangguan Pernapasan
Suroso Isnandar Jadi Dirut PLN, Gantikan Darmawan Prasodjo
DPR Soroti Risiko Gaji ASN Masuk Kopdes Merah Putih, Ini Dampaknya bagi BPD
Anggaran Karhutla Rp30 Miliar di Jambi Jadi Sorotan, Ombudsman Turun Mengawasi
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Cegah Kebakaran Hutan, Prabowo Minta 70.000 Polisi Kehutanan Ditambah

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Alim Setiawan Jadi Wamentan, Ini Perjalanan Kariernya dari IPB hingga Kabinet Prabowo

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Prabowo Lantik Kristomei Sianturi Jadi Kepala BNPB, Segini Harta Kekayaannya

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Usai Dilantik Jadi KSAD, Tandyo Budi Revita Masuk Bursa Calon Panglima TNI

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Kemenkes Ungkap Dampak Kabut Asap Karhutla, Bisa Picu Stres hingga Gangguan Pernapasan

Berita Terbaru