DPR Panggil Pertamina, Waspadai Lonjakan Konsumsi Pertalite Usai Pertamax Naik

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU Amandemen UU Nomor 5 Tahun 1999 sekaligus Wakil Ketua Komisi VI DPR, Adisatrya Suryo Sulisto dalam peringatan 25 Tahun KPPU di Kantor Pusat KPPU, Jakarta, Senin (9/6/2025).(DOK. KPPU )

Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU Amandemen UU Nomor 5 Tahun 1999 sekaligus Wakil Ketua Komisi VI DPR, Adisatrya Suryo Sulisto dalam peringatan 25 Tahun KPPU di Kantor Pusat KPPU, Jakarta, Senin (9/6/2025).(DOK. KPPU )

Jakarta, APGtimes.com — Komisi VI DPR RI berencana memanggil PT Pertamina (Persero) untuk membahas dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku sejak 10 Juni 2026.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto, mengatakan DPR ingin mengetahui dampak kebijakan tersebut terhadap masyarakat, dunia usaha, dan kinerja Pertamina.

DPR juga ingin mengetahui kemungkinan peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi.

“Kami juga akan meminta penjelasan dari Pertamina terkait dampaknya terhadap kinerja perseroan dan kemungkinan peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite,” kata Adisatrya, Sabtu (13/6/2026).

DPR Waspadai Lonjakan Konsumsi Pertalite

Adisatrya menilai kenaikan harga Pertamax dapat mendorong masyarakat beralih ke Pertalite.

Menurut dia, pemerintah dan Pertamina harus menjaga ketersediaan stok BBM bersubsidi agar masyarakat tetap mudah memperoleh bahan bakar.

“Jangan sampai masyarakat beralih secara besar-besaran ke Pertalite lalu muncul masalah baru berupa keterbatasan stok,” ujarnya.

Baca Juga :  Mentan Cabut Izin 2.231 Distributor Pupuk Subsidi yang Jual di Atas HET

Ia menegaskan DPR akan terus mengawasi pasokan BBM di berbagai daerah.

Langkah tersebut bertujuan menjaga kelancaran distribusi energi dan menghindari kelangkaan BBM.

Faktor Global Dorong Kenaikan BBM

Adisatrya menjelaskan sejumlah faktor global ikut mendorong kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Ia menyebut konflik geopolitik, pelemahan nilai tukar rupiah, dan tingginya impor minyak sebagai faktor utama.

Menurut dia, kondisi tersebut menambah beban pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi.

“Dengan situasi global yang belum stabil dan nilai tukar rupiah yang melemah, pemerintah menghadapi tekanan besar dalam mempertahankan harga BBM nonsubsidi,” katanya.

Ia menilai pemerintah akhirnya menyesuaikan harga BBM karena tekanan ekonomi tersebut terus meningkat.

DPR Soroti Risiko Kenaikan Harga Barang

Komisi VI DPR juga menyoroti dampak kenaikan BBM terhadap biaya logistik nasional.

Adisatrya mengatakan biaya distribusi memiliki peran penting dalam kegiatan usaha.

Baca Juga :  369 Jemaah Haji Wafat pada Musim Haji 2026, Kemenhaj Siapkan Aturan Kesehatan Lebih Ketat

Karena itu, kenaikan harga BBM berpotensi meningkatkan harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

“Ketika BBM naik, biaya distribusi ikut meningkat. Dampaknya, harga barang dan jasa juga bisa naik,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah mampu menjaga inflasi agar daya beli masyarakat tetap kuat.

DPR Minta UKM Tetap Terlindungi

Selain itu, DPR meminta pemerintah memperhatikan kondisi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Adisatrya berharap kenaikan biaya operasional tidak mengganggu produktivitas usaha.

Ia juga meminta pemerintah mencegah pengurangan tenaga kerja akibat meningkatnya biaya usaha.

“Kami berharap sektor UKM tidak menanggung dampak yang terlalu besar. Jangan sampai biaya usaha meningkat lalu memicu pengurangan tenaga kerja,” katanya.

PT Pertamina sebelumnya menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026.

Kebijakan tersebut memicu perhatian berbagai kalangan karena berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi nasional. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Enam Dokter Magang Meninggal pada 2026, Kemenkes Akhirnya Evaluasi Program Internship
Sudaryono Buka Suara soal Dugaan Pemborosan MBG Rp10,5 Triliun, BGN Siap Kooperatif
Kabar Baik dari Kerinci Seblat, Dua Anak Harimau Sumatera Tumbuh Sehat di Alam Liar
Prabowo Resmi Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN, Pesan Tegas untuk Aparatur Baru
Zulhas Tegaskan Kopdes Merah Putih Tak Matikan Warung dan UMKM, Ini Peran Utamanya
BPJS Kesehatan PBI Nonaktif? Begini Cara Mengaktifkannya Kembali dengan Mudah
Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Makin Kuat, Pengamat Ungkap 11 Pejabat yang Layak Dievaluasi
Membludak! Pendaftar Magang Nasional 2026 Capai 300 Ribu, Kuota Tahap I Cuma 50 Ribu
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 20:09 WIB

Enam Dokter Magang Meninggal pada 2026, Kemenkes Akhirnya Evaluasi Program Internship

Rabu, 29 Juli 2026 - 18:09 WIB

Sudaryono Buka Suara soal Dugaan Pemborosan MBG Rp10,5 Triliun, BGN Siap Kooperatif

Rabu, 29 Juli 2026 - 16:09 WIB

Kabar Baik dari Kerinci Seblat, Dua Anak Harimau Sumatera Tumbuh Sehat di Alam Liar

Selasa, 28 Juli 2026 - 23:09 WIB

Zulhas Tegaskan Kopdes Merah Putih Tak Matikan Warung dan UMKM, Ini Peran Utamanya

Selasa, 28 Juli 2026 - 21:09 WIB

BPJS Kesehatan PBI Nonaktif? Begini Cara Mengaktifkannya Kembali dengan Mudah

Berita Terbaru

Presiden FIFA Gianni Infantino saat tiba untuk peluncuran kampanye Piala Dunia 2026 #WeAre26 di Los Angeles, Negara Bagian California, 17 Mei 2023.(AFP/FREDERIC J BROWN)

Internasional

FIFA Mau Jual Saham Piala Dunia? UEFA Langsung Bereaksi Keras

Rabu, 29 Jul 2026 - 17:09 WIB