Rupiah Diprediksi Bergerak Terbatas, Investor Menanti Data Inflasi

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak terbatas pada perdagangan pekan ini. Pelaku pasar memilih menahan transaksi agresif sambil menunggu sejumlah indikator ekonomi penting, terutama data inflasi Indonesia.

Rupiah menutup perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, di level Rp17.693 per dolar AS. Angka tersebut menguat 51 poin atau 0,29 persen dari posisi perdagangan sebelumnya yang mencapai Rp17.744 per dolar AS.

Dalam sepekan, rupiah hanya mencatat penguatan sekitar 0,01 persen. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak stabil. JISDOR berada di level Rp17.703 per dolar AS, sedikit menguat dari Rp17.705 per dolar AS pada pekan sebelumnya.

Analis Pasar Uang dan Komoditas PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, melihat investor masih menerapkan strategi wait and see. Investor membutuhkan kepastian dari sejumlah data ekonomi sebelum mengambil posisi lebih agresif terhadap rupiah.

“Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu, 30 Agustus 2026.

Baca Juga :  IHSG Melemah, Purbaya Minta Investor Tak Panik dan Tetap Optimistis

Rupiah Diproyeksikan di Kisaran Rp17.600-Rp17.900

Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang pekan ini.

Menurut Ibrahim, sejumlah faktor domestik dan global akan menentukan arah pergerakan rupiah. Dari dalam negeri, investor paling menantikan data inflasi karena angka tersebut dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

Jika inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk melonggarkan kebijakan moneter dan menurunkan suku bunga.

Selain inflasi, investor juga menunggu data perdagangan Indonesia periode Juli 2026 yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Data perdagangan dapat menunjukkan kondisi pasokan, permintaan, serta biaya logistik, terutama untuk komoditas pangan.

Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya impor. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan pangan dalam negeri masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

“Selain itu, melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal,” ujar Ibrahim.

Baca Juga :  Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama

Ketegangan AS-Iran Masih Jadi Risiko

Dari pasar global, perkembangan geopolitik juga dapat memengaruhi pergerakan rupiah. Investor masih mencermati ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Ketegangan tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Kondisi itu juga berpotensi mendorong investor mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Pelaku pasar juga akan mencermati pidato perdana Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. Investor akan mencari petunjuk mengenai kondisi inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Jika The Fed memberikan sinyal untuk mempertahankan suku bunga AS pada level tinggi, dolar AS berpotensi menguat dan menekan rupiah.

Sebaliknya, sinyal pelonggaran kebijakan moneter AS dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Pada periode 24-27 Agustus 2026, JISDOR Bank Indonesia bergerak dalam kisaran Rp17.703 hingga Rp17.762 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah masih berkonsolidasi sambil menunggu katalis baru dari pasar domestik dan global. (de*) 

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB