Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah menguat saat membuka perdagangan Selasa (6/10/2026). Rupiah bergerak ke level Rp17.908 per dollar Amerika Serikat (AS).

Data Bloomberg menunjukkan rupiah menguat 9 poin atau sekitar 0,05 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.917 per dollar AS.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Pada sekitar pukul 09.37 WIB, rupiah kembali bergerak ke level Rp17.917 per dollar AS.

Dollar AS Mengalami Koreksi

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pergerakan rupiah mendapat dorongan dari koreksi dollar AS.

Koreksi tersebut terjadi setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan pelemahan.

Salah satunya terlihat dari ISM Services Index. Indeks aktivitas sektor jasa AS turun menjadi 54,9 poin dari sebelumnya 55,4 poin.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp80.000, 1 Gram Tembus Rp2,725 Juta

Angka tersebut juga berada sedikit di bawah proyeksi pasar sebesar 55,0 poin.

“Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi setelah data ISM Service AS yang lebih lemah,” kata Lukman kepada Kompas.com, Selasa.

Imbal Hasil Obligasi AS Jadi Tekanan

Meski dollar AS melemah, Lukman melihat ruang penguatan rupiah masih terbatas.

Salah satu faktor penekan datang dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,307 persen. Angka tersebut sempat melonjak 7 basis poin ke level 5,349 persen.

Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 3 April 2002.

Sementara itu, imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun naik sekitar 3 basis poin menjadi 5,661 persen.

Baca Juga :  Dollar AS Tertekan, Harga Emas Dunia Naik 0,9 Persen

Imbal hasil tenor tersebut juga sempat mencapai 5,703 persen. Level itu menjadi yang tertinggi sejak Mei 2002.

Investor Menunggu Data Ekonomi Indonesia

Pelaku pasar juga masih mengambil sikap wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik pekan ini.

Beberapa data yang menjadi perhatian investor antara lain posisi cadangan devisa, tingkat kepercayaan konsumen, dan penjualan ritel.

Investor akan mencermati data tersebut untuk melihat kondisi ekonomi Indonesia dan arah pergerakan rupiah selanjutnya.

“Investor juga masih wait and see menantikan rilis data ekonomi domestik pekan ini yang di antaranya cadev, kepercayaan konsumen dan penjualan ritel,” ujar Lukman.

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dollar AS pada perdagangan Selasa. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen
Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB
Dana Abadi Kebencanaan Rp8,3 Triliun Dikelola BPDLH, Hasilnya Biayai Asuransi Aset Negara
Harga Emas Antam Hari Ini 3 Oktober 2026 Turun, 1 Gram Jadi Rp2,574 Juta
PPh 21 2027 Berlanjut, Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Jadi Sasaran
Asing Jual Bersih Rp204,3 Miliar di Sesi I, GOTO Paling Banyak Dilepas
Harga Emas Antam Hari Ini 30 September 2026 Naik Rp15.000, 1 Gram Jadi Rp2,595 Juta
52 Juta Peserta JKN Tidak Aktif, Pemerintah Dorong Kembali Bayar Iuran BPJS
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Dana Abadi Kebencanaan Rp8,3 Triliun Dikelola BPDLH, Hasilnya Biayai Asuransi Aset Negara

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 3 Oktober 2026 Turun, 1 Gram Jadi Rp2,574 Juta

Berita Terbaru