Lampung Timur, APGtimes.com — Kemarau panjang membuat sejumlah kawasan rawa di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, mulai mengering. Kondisi ini mengurangi ketersediaan air alami dan menyulitkan satwa liar memenuhi kebutuhan minumnya.
Untuk mengantisipasi situasi tersebut, petugas TNWK bersama mitra konservasi menyediakan bak penampung air di sejumlah titik aktivitas satwa.
Kamera jebak yang terpasang di salah satu lokasi bahkan merekam seekor induk harimau Sumatera bersama tiga anaknya saat mendatangi tempat minum tersebut.
Kepala Balai TNWK, M.H.D Zaidi, mengatakan rekaman terbaru itu memperlihatkan keluarga harimau yang sebelumnya teridentifikasi melalui kamera jebak pada April 2025. Berdasarkan pengamatan, ketiga anak harimau tersebut diperkirakan berjenis kelamin jantan.
Zaidi menilai kondisi fisik ketiganya masih terlihat baik meskipun kawasan TNWK menghadapi kemarau panjang dan dampak El Nino.
“Kalau dari lihat fisik, kelihatannya itu masih bagus ya, masih oke. Walaupun sekarang kondisi cuaca kemarau panjang dan El Nino, semua rawa kering,” kata Zaidi, Jumat (30/10/2026).
TNWK Siapkan Bak Air untuk Satwa Liar
Penyediaan bak penampung air menjadi salah satu langkah petugas untuk membantu satwa menghadapi berkurangnya sumber air alami. Fasilitas tersebut tidak hanya ditujukan bagi harimau Sumatera, tetapi juga berbagai satwa lain yang hidup di kawasan konservasi.
Petugas TNWK bersama mitra rutin mengisi bak-bak tersebut agar satwa tetap memperoleh akses air selama musim kemarau. Mereka juga memasang kamera jebak untuk memantau aktivitas satwa di sekitar lokasi.
“Teman-teman TNWK bersama mitra itu rutin memang menyediakan tempat minum bagi satwa. Nah, ini di sana kami pasang kamera,” ujar Zaidi.
Rekaman induk harimau bersama tiga anaknya menunjukkan bahwa satwa liar masih memanfaatkan fasilitas tersebut. Selain membantu kebutuhan air, kamera jebak juga memberikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi satwa di habitat alaminya.
Populasi Harimau Sumatera Diperkirakan Mendekati 20 Ekor
Pemantauan kamera jebak turut membantu petugas memperkirakan jumlah harimau Sumatera yang hidup di TNWK. Berdasarkan rekaman dari sejumlah kamera milik mitra konservasi, Zaidi memperkirakan populasi harimau di kawasan tersebut mendekati 20 ekor.
“Sampai saat ini, hasil dari beberapa kamera trap dari mitra-mitra yang ada di TNWK itu kami perkirakan hampir kurang lebih mendekati 20 ekor,” ungkapnya.
Angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan hasil pemantauan kamera jebak. Petugas belum menghitung secara langsung seluruh individu harimau yang menghuni kawasan taman nasional.
Karena itu, data tersebut menjadi gambaran awal mengenai keberadaan harimau Sumatera di TNWK. Pemantauan berkelanjutan tetap diperlukan untuk memperoleh informasi lebih lengkap tentang populasi dan kondisi satwa.
TNWK Juga Menjadi Habitat Macan Dahan dan Kucing Emas
Selain harimau Sumatera, Taman Nasional Way Kambas menyimpan keanekaragaman satwa karnivora lainnya. Kawasan konservasi dengan luas sekitar 125.000 hektare itu juga menjadi habitat macan dahan dan kucing emas.
Zaidi memastikan kedua jenis kucing liar tersebut masih hidup di kawasan TNWK. Keberadaan mereka menambah kekayaan keanekaragaman hayati di taman nasional tersebut.
“Ada. Di TNWK itu selain harimau sumatera juga ada jenis macan dahan, kemudian jenis yang lebih kecil seperti kucing emas. Itu masih ada di TNWK,” katanya.
Kondisi rawa yang mengering menjadi pengingat pentingnya menjaga ketersediaan air di habitat satwa liar. Melalui penyediaan tempat minum dan pemantauan kamera jebak, petugas TNWK bersama mitra berupaya membantu satwa bertahan menghadapi perubahan kondisi lingkungan. (ys*)









