Jakarta, APGtimes.com — Nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin, 2 November 2026. Pelaku pasar masih menunggu sejumlah data ekonomi domestik dan mencermati perkembangan global.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka pada level Rp18.158 per dollar AS. Angka tersebut turun 11 poin atau 0,06 persen dari penutupan sebelumnya sebesar Rp18.147 per dollar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah bergerak terbatas pada awal perdagangan. Menurutnya, investor menunggu rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia pada siang hari.
Kedua indikator tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi nasional.
Inflasi Indonesia Terus Meningkat
Data terakhir menunjukkan inflasi Indonesia mencapai 3,28 persen secara tahunan atau year on year (YoY) pada September 2026. Angka itu naik dari 3,19 persen pada Agustus 2026.
Selain itu, inflasi bulanan atau month to month (MtM) mencapai 0,30 persen pada September. Angka tersebut juga meningkat dibandingkan Agustus yang sebesar 0,21 persen.
Di sektor perdagangan, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 3,55 miliar dollar AS pada Agustus 2026. Surplus tersebut jauh lebih besar dibandingkan capaian Juli yang hanya mencapai 0,13 miliar dollar AS.
Lukman menilai penurunan harga minyak mentah dunia berpotensi membantu rupiah. Harapan perundingan damai untuk mengakhiri konflik AS-Iran turut memberikan sentimen positif bagi pasar.
Namun, tekanan dari pasar domestik masih membayangi rupiah. Aksi jual investor asing atau foreign sell-off di pasar saham Indonesia menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati.
Penguatan Dollar AS Menambah Tekanan
Pada awal perdagangan, sebagian besar mata uang Asia bergerak melemah terhadap dollar AS. Sebaliknya, indeks dollar AS atau DXY mencatat kenaikan.
Pada pukul 09.00 WIB, DXY menguat 0,04 persen ke level 101,917. Indeks ini mengukur kekuatan dollar AS terhadap enam mata uang utama dunia.
Investor juga mencermati imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Pada pekan terakhir Oktober 2026, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh sekitar 4,967 persen.
Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 30 tahun mencapai 5,299 persen. Tingginya imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan negara tersebut.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Lukman menambahkan, investor masih menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Selain itu, perkembangan politik menjelang pemilihan paruh waktu atau US midterm election juga menjadi perhatian pasar.
Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rp18.100–Rp18.200
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dollar AS sepanjang perdagangan Senin.
Investor perlu mencermati perkembangan inflasi dan neraca perdagangan Indonesia. Selain itu, pergerakan DXY, harga minyak dunia, imbal hasil Treasury, serta arus modal asing turut memengaruhi arah rupiah.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian dalam menentukan arah perdagangan mata uang domestik. (ys*)









