JPMorgan: Permintaan Minyak Dunia Turun 9 Persen, Konsumen Mulai Beralih ke Energi Alternatif

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kilang minyak.(FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)

Ilustrasi kilang minyak.(FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO)

Jakarta, APGtimes.com — Dunia mulai menunjukkan kemampuan beradaptasi terhadap konsumsi minyak yang lebih rendah di tengah lonjakan harga energi global dan gangguan pasokan akibat konflik geopolitik. Temuan terbaru dari JPMorgan mengungkap permintaan minyak dunia diperkirakan menyusut sekitar 9 persen atau setara 1,5 juta barel per hari dalam beberapa bulan terakhir.

Menariknya, penurunan konsumsi energi fosil tersebut terjadi tanpa memicu gangguan besar terhadap aktivitas ekonomi maupun kehidupan masyarakat sehari-hari.

Laporan itu muncul setelah tim analis JPMorgan melakukan serangkaian pertemuan dengan pelaku pasar energi di China. Mereka menemukan perubahan perilaku konsumen menjadi faktor utama yang menekan permintaan minyak global.

Permintaan Minyak Turun di Tengah Krisis Hormuz

Analis JPMorgan Natasha Kaneva, Lyuba Savinova, dan Artem Fakhretdinov menyebut penurunan permintaan minyak terjadi bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz selama tiga bulan terakhir.

Meski jalur pelayaran strategis tersebut terganggu, harga minyak dunia tetap bertahan di kisaran 100 dolar AS per barel.

Pada awal konflik, harga memang sempat melonjak tajam. Namun pasar berhasil menyesuaikan diri sehingga harga kembali stabil dalam beberapa pekan berikutnya.

Baca Juga :  GIIAS 2026 Ramai Mobil Baru, Ini Daftar yang Paling Menarik Perhatian

Menurut JPMorgan, kelebihan pasokan yang sudah terjadi sejak awal tahun membantu menahan gejolak harga energi global.

Selain itu, banyak negara dan perusahaan memanfaatkan cadangan energi untuk menjaga stabilitas pasokan selama krisis berlangsung.

Harga Energi Mahal Ubah Kebiasaan Konsumen

JPMorgan menilai faktor paling besar yang mendorong penurunan konsumsi minyak berasal dari perubahan perilaku masyarakat.

Ketika harga bensin, solar, dan tiket pesawat meningkat tajam, konsumen mulai mencari alternatif transportasi yang lebih murah dan efisien.

Masyarakat di berbagai negara beralih menggunakan bus listrik, kereta cepat listrik, angkutan umum perkotaan, kendaraan berbahan bakar gas, hingga layanan taksi listrik.

Pilihan tersebut membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak tanpa memerlukan kebijakan pembatasan mobilitas dari pemerintah.

Analis JPMorgan menilai masyarakat mengambil keputusan ekonomi yang rasional untuk menekan pengeluaran energi rumah tangga.

Fenomena Terjadi di Berbagai Negara

Perubahan pola konsumsi energi tidak hanya terjadi di China.

Beberapa negara Asia Tenggara mulai memangkas hari kerja dan kegiatan sekolah untuk menghemat energi.

Baca Juga :  IMF Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Angin Segar, Tapi Risiko Global Belum Hilang

India juga mendorong berbagai program efisiensi energi guna menekan konsumsi bahan bakar nasional.

Sementara itu, maskapai penerbangan Jerman Lufthansa mengurangi sejumlah penerbangan regional yang dinilai kurang efisien demi menekan penggunaan bahan bakar.

Di Amerika Serikat, permintaan minyak masih relatif stabil. Namun harga bensin tetap bertahan di atas 4 dolar AS per galon menjelang musim liburan musim panas.

Dunia Mulai Kurangi Ketergantungan pada Minyak?

Penurunan konsumsi minyak global memunculkan pertanyaan baru mengenai masa depan energi dunia.

JPMorgan menilai kondisi saat ini bisa menjadi sinyal awal perubahan pola konsumsi energi dalam jangka panjang.

Jika masyarakat terus memilih moda transportasi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan, permintaan minyak mungkin tidak akan kembali ke level sebelum krisis.

Karena itu, pasar energi global kini mulai mempertimbangkan kemungkinan dunia dapat beroperasi dengan konsumsi minyak yang jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Perubahan tersebut berpotensi mengubah peta industri energi dunia sekaligus mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan. (da*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

China Temukan Jalur Baru ke Eropa, Cuma 18 Hari Lewat Laut Es Arktik
Festival Indonesia di Chiba Ricuh, KBRI Tokyo Pastikan Tak Ada WNI Ditahan
108 Sekolah di Sarawak Ditutup, Kabut Asap Makin Parah dan 3.853 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan
Gudang WHO di Ukraina Hancur Dihantam Serangan, Pasokan Medis Rp 8,9 Miliar Musnah
Kapal Bawa 3 WNI Diserang Drone di Yaman, 1 Dikabarkan Meninggal
Thailand Perketat Senjata Api Usai Penembakan Sekolah, Izin Pembelian Ditangguhkan
Mojtaba Khamenei Tunjuk 6 Komandan Baru, Iran Siapkan Diri Hadapi Konflik Panjang
Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Gaza, Israel Tak Mau Tarik Pasukan Sebelum Hamas Dilucuti
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:09 WIB

China Temukan Jalur Baru ke Eropa, Cuma 18 Hari Lewat Laut Es Arktik

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:09 WIB

Festival Indonesia di Chiba Ricuh, KBRI Tokyo Pastikan Tak Ada WNI Ditahan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:09 WIB

108 Sekolah di Sarawak Ditutup, Kabut Asap Makin Parah dan 3.853 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:09 WIB

Gudang WHO di Ukraina Hancur Dihantam Serangan, Pasokan Medis Rp 8,9 Miliar Musnah

Rabu, 12 Agustus 2026 - 10:09 WIB

Kapal Bawa 3 WNI Diserang Drone di Yaman, 1 Dikabarkan Meninggal

Berita Terbaru

Ilustrasi Arktik (Kredit: Pixabay/CC0 Public Domain)

Internasional

China Temukan Jalur Baru ke Eropa, Cuma 18 Hari Lewat Laut Es Arktik

Senin, 17 Agu 2026 - 15:09 WIB