Jakarta, APGtimes.com — Banyak orangtua hanya mengaitkan kesehatan gigi anak dengan risiko gigi berlubang atau sakit gigi. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi mulut juga memengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, dan kesejahteraan emosional anak.
Temuan dari C.S. Mott Children’s Hospital National Poll on Children’s Health menunjukkan lebih dari sepertiga anak mengalami masalah kesehatan gigi dalam dua tahun terakhir. Para ahli menilai kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan sosial dan psikologis anak.
Lebih dari Sepertiga Anak Mengalami Masalah Gigi
Penelitian yang melibatkan 1.801 orangtua dari anak berusia 4 hingga 17 tahun menunjukkan sekitar 36 persen anak mengalami masalah kesehatan mulut dalam dua tahun terakhir.
Masalah yang paling sering muncul meliputi gigi berlubang, kerusakan gigi, perubahan warna gigi, nyeri gigi, sensitivitas gigi, dan gangguan gusi.
Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mulut masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga. Peneliti juga menemukan bahwa anak yang tidak rutin menjaga kebersihan gigi memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mulut.
Kebiasaan Menyikat Gigi Masih Rendah
Hasil survei menunjukkan hanya sekitar tiga dari lima orangtua yang menyatakan anak mereka rutin menyikat gigi dua kali sehari.
Anak laki-laki juga lebih jarang menyikat gigi dan memakai benang gigi dibandingkan anak perempuan.
Dokter gigi sekaligus pendiri sistem perawatan mulut Supermouth, Kami Hoss, mengatakan gigi berlubang menjadi masalah kesehatan mulut yang paling sering terjadi pada anak.
Menurut Hoss, kebersihan mulut yang buruk dapat memicu gingivitis, erosi enamel, ketidakseimbangan mikrobioma mulut, bau mulut kronis, dan penyakit gusi sejak usia dini.
Masalah tersebut tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman. Kondisi itu juga dapat mengganggu aktivitas belajar dan interaksi sosial anak.
Masalah Gigi Bisa Menurunkan Kepercayaan Diri
Dampak kesehatan mulut tidak berhenti pada kondisi fisik. Para peneliti menemukan bahwa masalah gigi juga memengaruhi kesehatan mental dan emosional anak.
Sebuah penelitian dalam American Journal of Orthodontics menyebut kondisi gigi menjadi salah satu alasan utama perundungan di lingkungan sekolah.
Anak yang sering menerima ejekan karena kondisi giginya cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah. Mereka juga lebih sulit menikmati lingkungan sekolah.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko isolasi sosial dan depresi.
Media Sosial Membuat Anak Lebih Sensitif
Para ahli menilai media sosial membuat anak semakin memperhatikan penampilan fisiknya.
Banyak anak membandingkan penampilan mereka dengan foto atau video yang telah melalui proses penyuntingan digital. Kebiasaan tersebut membuat mereka lebih sensitif terhadap bentuk wajah, warna kulit, dan kondisi gigi.
Akibatnya, masalah kesehatan mulut dapat memicu rasa malu, kecemasan, dan penurunan rasa percaya diri.
Nyeri Gigi Dapat Mengganggu Emosi Anak
Masalah gigi yang tidak mendapatkan perawatan dapat menimbulkan rasa sakit berkepanjangan.
Kami Hoss menjelaskan bahwa anak yang memiliki gigi berlubang sering mengalami nyeri ringan setiap hari. Kondisi itu membuat mereka sulit berkonsentrasi dan lebih mudah marah.
Menurut Hoss, beberapa orang sempat menganggap anak-anak tersebut memiliki masalah perilaku. Namun, rasa sakit pada gigi menjadi penyebab utama kondisi tersebut.
Hoss menegaskan bahwa kesehatan mental dan kesehatan mulut saling memengaruhi. Masalah gigi dapat memicu gangguan emosional. Sebaliknya, stres juga dapat membuat anak mengabaikan kesehatan mulutnya.
Orangtua Perlu Membentuk Kebiasaan Sehat Sejak Dini
Para ahli mendorong orangtua untuk membangun kebiasaan menyikat gigi dan membersihkan sela-sela gigi sejak dini.
Kebiasaan sederhana tersebut membantu menjaga kesehatan gigi sekaligus meningkatkan rasa percaya diri anak.
Selain itu, kebiasaan tersebut juga mendukung kenyamanan, kemampuan bersosialisasi, dan kesehatan mental anak dalam jangka panjang. (da*)








