Surabaya, APGtimes.com — Penyakit jantung dan stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kedua penyakit tersebut terus menjadi ancaman serius karena jumlah penderitanya masih tinggi dan terus bertambah setiap tahun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam seminar ilmiah bertajuk Awareness Today, Protection Tomorrow: Edukasi Komprehensif Pencegahan dan Tata Laksana Gagal Jantung dari Layanan Primer yang digelar RSUP Kemenkes Surabaya pada Jumat (29/5/2026).
RSUP Kemenkes Surabaya menggelar kegiatan tersebut untuk memperingati Hari Gagal Jantung Sedunia atau Heart Failure Day. Sekitar 100 dokter umum dari berbagai puskesmas di Surabaya serta tenaga kesehatan RSUP Kemenkes Surabaya mengikuti seminar tersebut.
Direktur Pelayanan, Penunjang Medis, dan Keperawatan RSUP Kemenkes Surabaya, dr Adhy Nugroho, mengatakan hipertensi masih menjadi faktor risiko utama yang memicu berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk gagal jantung.
“Hipertensi masih menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang berkontribusi besar terhadap meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas di Indonesia maupun dunia,” ujarnya.
Menurut Adhy, layanan kesehatan tingkat pertama memegang peran penting dalam mendeteksi penyakit lebih dini sehingga tenaga kesehatan dapat mencegah kondisi pasien menjadi lebih berat.
Banyak Pasien Datang Saat Kondisi Sudah Parah
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUP Kemenkes Surabaya, dr Irma Maghfirah, mengungkapkan jumlah pasien gagal jantung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Ia mengatakan banyak pasien datang ke rumah sakit saat kondisi penyakit sudah cukup berat.
“Jadi, dibawa ke RSUP kondisinya sudah gejala lama, napas sudah ngos-ngosan, tidur dada sesak, gak bisa naik tangga,” kata Irma.
Menurutnya, kondisi psikologis pasien juga menjadi tantangan dalam proses pengobatan. Banyak pasien merasa bosan karena harus mengonsumsi beberapa jenis obat setiap hari.
Irma menjelaskan pasien gagal jantung umumnya mengonsumsi sedikitnya lima jenis obat setiap hari. Bahkan, sebagian pasien lanjut usia harus mengonsumsi hingga sembilan jenis obat.
Ia menilai kondisi tersebut kerap membuat pasien tidak disiplin menjalani pengobatan.
“Di saat stres dan bosan, pasien cenderung tidak minum obat. Saat tidak minum obat, akhirnya rawat inap dan kondisi tubuh menurun,” ujarnya.
Saat ini, poli jantung RSUP Kemenkes Surabaya menangani sekitar 100 hingga 200 pasien setiap hari. Sekitar 60 persen di antaranya merupakan pasien gagal jantung.
Kembangkan Layanan Terpadu
Untuk meningkatkan pelayanan, RSUP Kemenkes Surabaya mulai mengembangkan Prototype Heart Failure Service.
Melalui layanan tersebut, rumah sakit melibatkan berbagai disiplin ilmu dalam penanganan pasien gagal jantung.
Tim medis tidak hanya fokus pada kondisi jantung pasien, tetapi juga menangani penyakit penyerta dan masalah psikologis yang dialami pasien.
“Secara multidisiplin merangkul semua dari rehab jantung, psikolog, dokter ginjal, dokter syaraf. Satu poli tidak hanya melihat jantungnya saja tetapi juga kondisi pasien secara keseluruhan,” kata Irma.
Menurutnya, pendekatan multidisiplin penting karena pasien gagal jantung sering mengalami penyakit penyerta seperti hipertensi, gangguan ginjal, hingga masalah kesehatan mental.
Gaya Hidup Jadi Pemicu
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr Billy Daniel Messakh, menyebut kasus hipertensi dan gagal jantung di Kota Surabaya masih cukup tinggi.
Data Dinas Kesehatan mencatat lebih dari 7.000 kasus hipertensi dan gagal jantung sepanjang 2025 hingga 2026. Angka prevalensinya mencapai sekitar 19 persen pada kelompok usia di atas 18 tahun.
Billy menilai perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus penyakit jantung.
“Faktor penyebabnya pola hidup, makan enak tapi olahraga fisik kurang,” katanya.
Karena itu, Pemerintah Kota Surabaya terus mendorong upaya pencegahan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Program tersebut bertujuan mendeteksi faktor risiko penyakit lebih awal agar masyarakat dapat segera memperoleh penanganan dan edukasi kesehatan yang tepat. (dr*)








