Jakarta, APGtimes.com — Kebiasaan merokok masih menjadi persoalan serius di kalangan pelajar Indonesia. Tidak hanya siswa SMA dan SMK, pelajar SMP bahkan anak usia sekolah dasar juga mulai mengenal rokok sejak usia dini.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa rokok masih mudah dijangkau oleh anak-anak dan remaja. Meski banyak siswa memahami bahaya rokok bagi kesehatan, sebagian besar tetap sulit menghentikan kebiasaan tersebut karena sudah mengalami ketergantungan nikotin.
Siswa Mengaku Sulit Lepas dari Rokok
Seorang pelajar SMK berinisial Dhea (16) mengaku mulai merokok sejak usia 13 tahun. Ia mengenal rokok setelah melihat teman-teman sebayanya merokok.
Menurut Dhea, nikotin memberikan sensasi yang membuatnya terus ingin merokok. Dalam sehari, ia dapat menghabiskan sekitar lima batang rokok yang dibeli dengan harga sekitar Rp10.000.
Meski menyadari risiko kesehatan yang mengintai, Dhea mengaku belum mampu menghentikan kebiasaannya.
Ia bahkan pernah mengalami nyeri dada dan sesak napas akibat terlalu sering merokok. Namun kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti karena rasa ketagihan yang sudah muncul.
Pengalaman serupa juga dialami Ucup (14). Pelajar tersebut mengaku sering mengalami batuk dan sesak napas setelah merokok.
Ucup pernah mencoba berhenti merokok, tetapi selalu gagal karena tubuhnya sudah terbiasa dengan nikotin.
Dokter Sebut Paru dan Otak Jadi Sasaran Utama
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Respirologi Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, Fahreza Aditya Neldy, menilai kebiasaan merokok di kalangan pelajar harus mendapat perhatian serius.
Menurut Fahreza, anak-anak dan remaja masih berada dalam masa pertumbuhan sehingga berbagai organ tubuh mereka belum berkembang secara sempurna.
Ketika anak mulai merokok pada usia sekolah, paru-paru dan otak menjadi dua organ yang paling terdampak.
Fahreza menjelaskan bahwa fungsi paru remaja perokok mengalami perlambatan pertumbuhan. Kondisi tersebut menyebabkan kapasitas paru tidak berkembang secara optimal dibandingkan remaja yang tidak merokok.
Selain paru-paru, nikotin juga memengaruhi perkembangan otak. Paparan nikotin dalam jangka panjang dapat memicu ketergantungan, gangguan konsentrasi, gangguan belajar, serta penurunan daya ingat.
Data Pelajar Perokok Masih Tinggi
Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2019 menunjukkan sebanyak 19,2 persen pelajar berusia 13 hingga 15 tahun menggunakan produk tembakau.
Survei yang sama juga mencatat sekitar 38,3 persen anak laki-laki usia 13 hingga 15 tahun di Indonesia telah merokok.
Fahreza menilai angka tersebut masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, persoalan utama bukan hanya jumlah perokok muda yang besar, tetapi juga munculnya anggapan bahwa merokok merupakan perilaku yang wajar di lingkungan masyarakat.
Normalisasi Rokok Dorong Anak Mulai Merokok
Fahreza menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat sebenarnya mengetahui bahaya rokok terhadap kesehatan.
Namun karena dampak penyakit akibat rokok tidak muncul secara instan, banyak orang menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang biasa.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong anak-anak untuk mencoba merokok pada usia muda.
Berdasarkan berbagai penelitian, sebagian besar anak mulai mencoba rokok pada rentang usia 10 hingga 14 tahun. Puncak percobaan pertama biasanya terjadi saat anak berusia 12 hingga 13 tahun.
Lingkungan Sosial Jadi Faktor Terkuat
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, mengatakan bahwa kebiasaan merokok pada siswa tidak dapat dipisahkan dari pengaruh lingkungan sosial.
Menurutnya, seorang anak mempelajari perilaku merokok melalui proses sosialisasi yang berlangsung di keluarga, lingkungan pertemanan, media sosial, hingga masyarakat sekitar.
Rakhmat menjelaskan bahwa remaja memiliki kebutuhan besar untuk diterima dalam kelompok pergaulan. Ketika lingkungan menganggap merokok sebagai simbol kedewasaan atau hal yang biasa, peluang siswa untuk mencoba rokok menjadi lebih tinggi.
Selain teman sebaya, keberadaan anggota keluarga yang merokok juga meningkatkan risiko anak mengikuti kebiasaan serupa.
Pemerintah dan Sekolah Perlu Perkuat Pencegahan
Rakhmat mendorong pemerintah memperketat pengawasan terhadap penjualan rokok kepada anak di bawah umur.
Ia juga meminta pemerintah memperluas edukasi kesehatan dan mengawasi promosi produk tembakau yang masih mudah dijumpai oleh remaja.
Di sisi lain, sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter, layanan konseling, serta kegiatan positif yang dapat mengurangi pengaruh negatif lingkungan pergaulan.
Menurut Rakhmat, keluarga juga memegang peran penting dalam mencegah anak menjadi perokok. Orang tua perlu membangun komunikasi yang baik dan memberikan teladan hidup sehat di lingkungan rumah.
Dengan kerja sama antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat, upaya menekan angka perokok usia pelajar dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. (de*)








