Teheran, APGtimes.com – Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) dan pemerintah Iran mengeluarkan pernyataan yang berbeda dalam waktu berdekatan. Perbedaan sikap tersebut memicu kebingungan di kalangan pelaku pelayaran internasional, investor, dan pasar energi global.
IRGC lebih dulu mengirim pesan radio kepada kapal-kapal yang berada di sekitar Selat Hormuz. Dalam pesan itu, mereka meminta seluruh kapal tidak memasuki kawasan tersebut karena Iran masih menutup jalur pelayaran strategis itu.
Langkah tersebut muncul setelah IRGC menilai Amerika Serikat belum memenuhi seluruh komitmen dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 18 Juni 2026.
IRGC Keluarkan Ancaman Keras
IRGC menegaskan bahwa Iran akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz sampai Amerika Serikat memenuhi seluruh syarat yang tercantum dalam kesepakatan.
Menurut kelompok tersebut, Amerika Serikat harus mencabut blokade laut sepenuhnya, menarik pasukan dari kawasan Teluk Persia, serta memastikan Israel keluar dari Lebanon.
Selain menyampaikan tuntutan itu, IRGC juga memperingatkan seluruh kapal agar tidak mendekati Selat Hormuz.
Bahkan, mereka menegaskan bahwa kapal yang mengabaikan peringatan tersebut berisiko menghadapi tindakan militer.
Ancaman itu langsung menarik perhatian internasional karena Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak dan energi dunia.
Pemerintah Iran Pastikan Kapal Tetap Melintas
Tidak lama setelah peringatan tersebut muncul, pemerintah Iran mengambil sikap yang berbeda.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa kapal komersial tetap dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Ia menjelaskan bahwa angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan langkah pengamanan untuk memastikan aktivitas pelayaran berjalan normal sesuai isi kesepakatan yang berlaku.
Pada saat yang sama, pihak berwenang Iran terus mengawasi lalu lintas kapal yang melintasi kawasan tersebut.
Berkat pengamanan tersebut, aktivitas pelayaran komersial tetap berlangsung tanpa hambatan.
Pengamat Soroti Celah dalam Kesepakatan
Presiden organisasi intelijen sumber terbuka OSINT613, Simcha Brodsky, menilai perbedaan pernyataan tersebut muncul karena masing-masing pihak memiliki penafsiran berbeda terhadap isi kesepakatan.
Menurut analis tersebut, Amerika Serikat memang menjalankan pencabutan blokade secara bertahap sesuai mekanisme yang telah disepakati.
Meski demikian, IRGC memandang proses tersebut belum selesai sehingga syarat pembukaan Selat Hormuz belum terpenuhi sepenuhnya.
Di sisi lain, pemerintah Iran memilih menjalankan kesepakatan dan mengizinkan kapal komersial kembali melintas.
Akibat perbedaan penafsiran tersebut, publik internasional menerima dua pesan berbeda dari otoritas yang sama dalam waktu hampir bersamaan.
Perbedaan Sikap di Internal Iran Kembali Terlihat
Sejumlah pengamat sebenarnya telah memprediksi munculnya perbedaan pandangan di internal Iran sejak proses negosiasi berlangsung.
Sebagian kelompok di IRGC sejak awal menolak kesepakatan dengan Amerika Serikat karena mereka menginginkan Israel lebih dulu meninggalkan Lebanon.
Pandangan tersebut membuat proses negosiasi berjalan alot selama beberapa bulan terakhir.
Kini, polemik mengenai status Selat Hormuz kembali memperlihatkan perbedaan sikap di dalam tubuh Iran.
AS Diminta Tetap Waspada
Penasihat Senior Foundation for Defense of Democracies, Richard Goldberg, meminta Amerika Serikat tetap waspada terhadap perkembangan terbaru ini.
Menurut Goldberg, Iran kemungkinan masih akan melakukan berbagai manuver selama masa implementasi kesepakatan berlangsung.
Karena itu, Washington perlu merespons secara tegas setiap langkah yang berpotensi mengganggu pelaksanaan kesepakatan.
Ia juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat harus menjaga keseimbangan antara kesabaran diplomatik dan ketegasan dalam menghadapi tekanan politik.
Dengan peran Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan energi paling penting di dunia, setiap perkembangan terbaru berpotensi memengaruhi pasar minyak, perdagangan global, dan stabilitas kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan mendatang. (de*)









