Jakarta, APGtimes.com – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mencatat 11.986 warga negara Indonesia (WNI) meminta bantuan pulang dari Kamboja sepanjang Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, mengatakan ribuan WNI datang langsung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh untuk mengajukan permohonan pemulangan.
“Sebanyak 11.986 WNI datang ke KBRI Phnom Penh untuk meminta bantuan pemulangan,” ujar Heni di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Razia Scammer Picu Lonjakan Permohonan
Heni menjelaskan sepanjang 2025 KBRI Phnom Penh menerima 5.088 permohonan pemulangan.
Namun, jumlah tersebut melonjak tajam pada semester pertama 2026.
Menurut Heni, razia besar-besaran terhadap pusat penipuan daring atau scam center di Kamboja memicu peningkatan tersebut.
Akibat operasi itu, banyak WNI memilih mengajukan permohonan pulang ke Indonesia.
Kemlu Data Ribuan WNI di Detensi
Kemlu juga mencatat 1.840 WNI masih berada di sejumlah tempat detensi di Kamboja hingga Juni 2026.
Sebanyak 200 WNI berada di Detensi Pochentong.
Kemudian, 592 WNI menempati lokasi detensi Pochentong lainnya.
Selain itu, 948 WNI berada di Detensi Banteay, sedangkan 100 WNI berada di Detensi Phnom Penh.
Di sisi lain, KBRI Phnom Penh juga menampung sejumlah WNI sambil menunggu proses kepulangan.
Pemerintah Percepat Proses Pemulangan
Kemlu terus menerbitkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) bagi para WNI yang akan pulang.
Selain itu, pemerintah juga bernegosiasi dengan otoritas Kamboja agar para WNI tidak menanggung denda keimigrasian.
Sementara itu, Kemlu tetap mendorong WNI yang memiliki kemampuan finansial untuk membiayai kepulangan secara mandiri.
Kemlu juga mengimbau masyarakat agar menggunakan jalur resmi ketika bekerja di luar negeri. Langkah itu penting untuk menghindari praktik penipuan dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). (aw*)









