Taipei, APGtimes.com — Taiwan memutuskan menutup kantor perwakilannya di Papua Niugini dan menarik seluruh staf yang bertugas di negara Pasifik Selatan tersebut.
Keputusan itu menyusul perselisihan diplomatik selama beberapa bulan. Taiwan menuding China menggunakan tekanan politik dan kekuatan ekonomi untuk memengaruhi kebijakan luar negeri Papua Niugini.
Kementerian Luar Negeri Taiwan mengumumkan langkah tersebut pada Jumat (6/11/2026). Sebelumnya, pemerintah Papua Niugini menutup kantor perwakilan Taiwan di ibu kota Port Moresby pada Juli 2026.
Taiwan sempat menolak keputusan tersebut. Namun, pemerintah Taiwan kini memilih menutup kantor perwakilannya sekaligus menarik seluruh personel dari negara itu.
Selain itu, Taiwan akan meninjau kembali hubungan kerja sama bilateral dengan Papua Niugini.
Taiwan Tuduh China Tekan Papua Niugini
Kementerian Luar Negeri Taiwan menilai tindakan terbaru pemerintah Papua Niugini telah merusak kepercayaan yang terbangun melalui kerja sama jangka panjang kedua pihak.
Taiwan juga menuding China terus menggunakan pengaruh politik dan ekonomi untuk membatasi ruang gerak diplomatik Taiwan di tingkat internasional.
“Tindakan-tindakan ini juga mencerminkan penggunaan tekanan politik dan pengaruh ekonomi secara terus-menerus oleh China untuk mencampuri keputusan diplomatik negara lain dan menekan ruang gerak internasional Taiwan,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Menurut Taiwan, setiap negara seharusnya mengambil keputusan diplomatik secara mandiri tanpa campur tangan pihak lain.
Perselisihan ini memperburuk hubungan Taiwan dan Papua Niugini. Kedua pihak sebelumnya menjalin sejumlah program kerja sama, termasuk di bidang perdagangan, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Taiwan Hentikan Pembelian LNG dari Papua Niugini
Dampak perselisihan tersebut tidak hanya menyentuh hubungan diplomatik. Taiwan juga memutuskan menghentikan pembelian gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari Papua Niugini melalui kontrak langsung.
Kementerian Luar Negeri Taiwan menegaskan tidak akan menandatangani kontrak pembelian LNG spot baru dengan negara tersebut.
Menurut data kementerian, pembelian LNG Taiwan menyumbang sekitar sepertiga dari total ekspor gas Papua Niugini. Namun, Papua Niugini hanya memasok sekitar 8 persen kebutuhan impor gas Taiwan pada 2025.
Porsi tersebut masih berada di bawah sejumlah pemasok utama Taiwan. Qatar menyumbang 34 persen, Australia 33 persen, sedangkan Amerika Serikat memasok 10 persen.
Taiwan Akhiri Program Bantuan dan Kerja Sama
Taiwan juga akan mengakhiri sejumlah program kerja sama teknis dengan Papua Niugini. Langkah ini mencakup penghentian misi medis, program beasiswa terkait, serta kegiatan pengembangan sumber daya manusia.
Penarikan staf dan penghentian berbagai program tersebut menandai perubahan besar dalam hubungan kedua pihak.
Dengan kebijakan ini, Taiwan tidak hanya menutup kantor perwakilannya di Port Moresby. Pemerintah Taiwan juga mengurangi hubungan ekonomi dan kerja sama pembangunan dengan Papua Niugini. (ys*)








