China Temukan Jalur Baru ke Eropa, Cuma 18 Hari Lewat Laut Es Arktik

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Arktik (Kredit: Pixabay/CC0 Public Domain)

Ilustrasi Arktik (Kredit: Pixabay/CC0 Public Domain)

Beijing, APGtimes.com – China mulai menguji jalur perdagangan maritim melalui kawasan Arktik setelah konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko pelayaran di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya.

Perusahaan pelayaran asal China, Sea Legend, kini menguji koridor laut utara Arktik sebagai jalur transit komersial yang menghubungkan Asia dengan Eropa. Jalur tersebut membentang sekitar 5.500 kilometer melintasi perairan yang sebagian tertutup es.

Melalui rute tersebut, kapal dari Ningbo-Zhoushan menuju Felixstowe, Inggris, dapat menempuh perjalanan sekitar 18 hari. Waktu tersebut jauh lebih singkat dibandingkan jalur melalui Terusan Suez yang membutuhkan waktu lebih dari 40 hari.

China Cari Jalur Alternatif ke Eropa

Perubahan rute ini muncul ketika ketegangan di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan utama. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio juga mendorong pembahasan mengenai rute alternatif untuk mengurangi risiko di Selat Hormuz.

Sea Legend menilai jalur Arktik dapat menjadi pilihan bagi pengiriman barang bernilai tinggi yang sensitif terhadap suhu. Komoditas seperti kendaraan listrik, baterai lithium, dan perangkat tenaga surya menjadi sejumlah produk yang berpotensi memanfaatkan rute tersebut.

Baca Juga :  Krisis Energi Timur Tengah Guncang Asia, Harga Minyak dan Gas Melonjak

Kepala Operasional Sea Legend Li Xiaobin mengatakan konflik di Timur Tengah memperlihatkan kerentanan jalur perdagangan melalui Terusan Suez dan Selat Hormuz.

“Krisis di Timur Tengah telah mengungkap kerentanan Terusan Suez dan Selat Hormuz terhadap gejolak regional,” kata Li Xiaobin seperti dikutip The Guardian, Senin (17/8/2026).

Karena itu, Sea Legend melihat kebutuhan untuk mengembangkan jalur perdagangan alternatif antara China dan Eropa.

Langkah tersebut juga memperkuat gagasan “Jalur Sutra Kutub” yang Presiden China Xi Jinping dorong sejak 2017. Dalam pengoperasiannya, China mendapat dukungan dari Rusia melalui Rosatom yang menyediakan kapal pemecah es bertenaga nuklir.

Jalur Arktik Simpan Risiko Ekologis

Meski menawarkan waktu tempuh lebih singkat, jalur Arktik juga menghadirkan risiko terhadap lingkungan. Sejumlah ahli menyoroti dampak penggunaan bahan bakar minyak berat pada ekosistem kutub yang sangat sensitif.

Baca Juga :  JPMorgan: Permintaan Minyak Dunia Turun 9 Persen, Konsumen Mulai Beralih ke Energi Alternatif

Minyak berat memiliki tekstur yang kental dan sulit terurai dalam suhu rendah. Jika terjadi kecelakaan, proses pembersihan tumpahan minyak di tengah lapisan es juga akan menghadapi tantangan besar.

Selain itu, pembakaran bahan bakar kapal menghasilkan karbon hitam. Partikel tersebut dapat menyerap radiasi matahari dan mempercepat pencairan es di kawasan Arktik.

Konsultan Risiko Kelautan Allianz untuk Asia, Kapten Nitin Chopra, juga mengingatkan tingginya risiko kecelakaan di jalur yang terpencil tersebut.

Menurut Chopra, keterbatasan dukungan logistik dapat memperpanjang penanganan ketika kapal mengalami kerusakan mesin atau kandas. Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan potensi tumpahan minyak di ekosistem Arktik.

Dengan demikian, jalur laut utara menawarkan keuntungan dari sisi waktu tempuh, tetapi China dan perusahaan pelayaran tetap menghadapi tantangan keselamatan serta lingkungan. Perkembangan rute tersebut akan menjadi perhatian karena perubahan jalur perdagangan global dapat semakin terlihat jika ketegangan di Timur Tengah terus berlangsung. (yp*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sebelum Israel Serang Suriah, Kepala Mossad Telepon Menlu Bahas Turkiye
29 Negara Bagian AS Gugat Meta, Facebook dan Instagram Disorot soal Anak
Korea Utara Murka, Kecam Latihan Militer AS-Korea Selatan
Iran Bersiap Perang Lebih Besar, Selat Hormuz Makin Tegang dan Jalur Kapal Terancam
Festival Indonesia di Chiba Ricuh, KBRI Tokyo Pastikan Tak Ada WNI Ditahan
108 Sekolah di Sarawak Ditutup, Kabut Asap Makin Parah dan 3.853 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan
Gudang WHO di Ukraina Hancur Dihantam Serangan, Pasokan Medis Rp 8,9 Miliar Musnah
Kapal Bawa 3 WNI Diserang Drone di Yaman, 1 Dikabarkan Meninggal
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Sebelum Israel Serang Suriah, Kepala Mossad Telepon Menlu Bahas Turkiye

Rabu, 19 Agustus 2026 - 16:09 WIB

29 Negara Bagian AS Gugat Meta, Facebook dan Instagram Disorot soal Anak

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:09 WIB

Korea Utara Murka, Kecam Latihan Militer AS-Korea Selatan

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:30 WIB

Iran Bersiap Perang Lebih Besar, Selat Hormuz Makin Tegang dan Jalur Kapal Terancam

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:09 WIB

China Temukan Jalur Baru ke Eropa, Cuma 18 Hari Lewat Laut Es Arktik

Berita Terbaru

Ilustrasi bitcoin. (WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO)

Ekonomi & Bisnis

Bitcoin Tembus Rp1,27 Miliar, Harga BTC Naik Tajam ke 72.000 Dollar AS

Jumat, 21 Agu 2026 - 23:59 WIB

Salah satu booth milik Bank Syariah Indonesia (BSI) di Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025).(KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI)

Ekonomi & Bisnis

BSI Cetak Laba Rp4,15 Triliun, Bisnis Emas Tumbuh 80,52 Persen

Jumat, 21 Agu 2026 - 23:09 WIB