Beijing, APGtimes.com – China mulai menguji jalur perdagangan maritim melalui kawasan Arktik setelah konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko pelayaran di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya.
Perusahaan pelayaran asal China, Sea Legend, kini menguji koridor laut utara Arktik sebagai jalur transit komersial yang menghubungkan Asia dengan Eropa. Jalur tersebut membentang sekitar 5.500 kilometer melintasi perairan yang sebagian tertutup es.
Melalui rute tersebut, kapal dari Ningbo-Zhoushan menuju Felixstowe, Inggris, dapat menempuh perjalanan sekitar 18 hari. Waktu tersebut jauh lebih singkat dibandingkan jalur melalui Terusan Suez yang membutuhkan waktu lebih dari 40 hari.
China Cari Jalur Alternatif ke Eropa
Perubahan rute ini muncul ketika ketegangan di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan utama. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio juga mendorong pembahasan mengenai rute alternatif untuk mengurangi risiko di Selat Hormuz.
Sea Legend menilai jalur Arktik dapat menjadi pilihan bagi pengiriman barang bernilai tinggi yang sensitif terhadap suhu. Komoditas seperti kendaraan listrik, baterai lithium, dan perangkat tenaga surya menjadi sejumlah produk yang berpotensi memanfaatkan rute tersebut.
Kepala Operasional Sea Legend Li Xiaobin mengatakan konflik di Timur Tengah memperlihatkan kerentanan jalur perdagangan melalui Terusan Suez dan Selat Hormuz.
“Krisis di Timur Tengah telah mengungkap kerentanan Terusan Suez dan Selat Hormuz terhadap gejolak regional,” kata Li Xiaobin seperti dikutip The Guardian, Senin (17/8/2026).
Karena itu, Sea Legend melihat kebutuhan untuk mengembangkan jalur perdagangan alternatif antara China dan Eropa.
Langkah tersebut juga memperkuat gagasan “Jalur Sutra Kutub” yang Presiden China Xi Jinping dorong sejak 2017. Dalam pengoperasiannya, China mendapat dukungan dari Rusia melalui Rosatom yang menyediakan kapal pemecah es bertenaga nuklir.
Jalur Arktik Simpan Risiko Ekologis
Meski menawarkan waktu tempuh lebih singkat, jalur Arktik juga menghadirkan risiko terhadap lingkungan. Sejumlah ahli menyoroti dampak penggunaan bahan bakar minyak berat pada ekosistem kutub yang sangat sensitif.
Minyak berat memiliki tekstur yang kental dan sulit terurai dalam suhu rendah. Jika terjadi kecelakaan, proses pembersihan tumpahan minyak di tengah lapisan es juga akan menghadapi tantangan besar.
Selain itu, pembakaran bahan bakar kapal menghasilkan karbon hitam. Partikel tersebut dapat menyerap radiasi matahari dan mempercepat pencairan es di kawasan Arktik.
Konsultan Risiko Kelautan Allianz untuk Asia, Kapten Nitin Chopra, juga mengingatkan tingginya risiko kecelakaan di jalur yang terpencil tersebut.
Menurut Chopra, keterbatasan dukungan logistik dapat memperpanjang penanganan ketika kapal mengalami kerusakan mesin atau kandas. Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan potensi tumpahan minyak di ekosistem Arktik.
Dengan demikian, jalur laut utara menawarkan keuntungan dari sisi waktu tempuh, tetapi China dan perusahaan pelayaran tetap menghadapi tantangan keselamatan serta lingkungan. Perkembangan rute tersebut akan menjadi perhatian karena perubahan jalur perdagangan global dapat semakin terlihat jika ketegangan di Timur Tengah terus berlangsung. (yp*)









