Jakarta, APGtimes.com–Banyak brand lokal mulai mengurangi aktivitas penjualan di Shopee dan TikTok Shop. Sebagian pelaku usaha bahkan memilih keluar dari marketplace dan membangun jalur penjualan sendiri.
Fenomena ini muncul bukan karena produk mereka tidak laku. Banyak brand justru mencatat penjualan tinggi. Namun, mereka menghadapi tekanan biaya operasional, perang harga, dan persaingan yang semakin ketat.
Pelaku usaha menilai ekosistem marketplace saat ini semakin berat bagi seller kecil dan menengah. Mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk iklan, promosi, hingga live shopping agar produk tetap muncul di pencarian.
Perang Harga Tekan Keuntungan Seller
Marketplace memang menawarkan pasar luas dan trafik tinggi. Namun, persaingan harga membuat banyak seller kesulitan menjaga keuntungan.
Banyak brand terpaksa mengikuti promo besar dan diskon ekstrem agar produk tetap bersaing. Kondisi ini membuat margin keuntungan terus menipis.
Beberapa seller bahkan mengaku penjualan meningkat, tetapi profit justru turun dibanding beberapa tahun lalu.
Selain mengurangi keuntungan, perang harga juga memicu masalah lain seperti:
- kualitas produk menurun
- arus kas terganggu
- brand sulit berkembang
- loyalitas pelanggan melemah
Pelaku usaha mulai menyadari bahwa strategi diskon terus-menerus tidak sehat untuk bisnis jangka panjang.
Biaya Iklan dan Live Shopping Semakin Mahal
Perkembangan fitur live shopping dan affiliate memang membantu meningkatkan penjualan. Namun, sistem ini juga memaksa seller mengeluarkan biaya lebih besar.
Saat ini banyak brand harus:
- live streaming setiap hari
- membayar afiliator
- memasang iklan rutin
- mengikuti promo marketplace
Jika tidak melakukan itu, algoritma marketplace bisa menurunkan jangkauan produk mereka.
Brand besar masih mampu bertahan karena memiliki modal kuat. Namun, UMKM dan brand lokal kecil mulai kesulitan mengikuti persaingan tersebut.
Karena itu, banyak pelaku usaha mulai mengalihkan fokus ke:
- website pribadi
- komunitas pelanggan
- penjualan offline
- media sosial organik
Mereka ingin mengurangi ketergantungan terhadap marketplace.
Brand Lokal Mulai Bangun Komunitas Sendiri
Banyak pebisnis kini memilih membangun hubungan langsung dengan pelanggan. Mereka memanfaatkan WhatsApp, Instagram, Telegram, hingga komunitas pelanggan untuk menjaga penjualan tetap stabil.
Strategi ini membantu brand mempertahankan pelanggan tanpa harus terus mengeluarkan biaya iklan besar.
Selain itu, konsumen saat ini juga mulai berubah. Tidak semua pembeli hanya mencari harga termurah.
Banyak pelanggan mulai memperhatikan:
- kualitas produk
- pelayanan
- packaging
- pengalaman belanja
- after sales
- identitas brand
Kondisi ini membuka peluang besar bagi brand lokal yang fokus membangun kualitas dan identitas produk.
Asosiasi Soroti Persaingan Marketplace
Sejumlah asosiasi menilai ekosistem digital saat ini perlu lebih sehat dan seimbang. Mereka khawatir perang harga dan promo ekstrem hanya menguntungkan perusahaan bermodal besar.
Sementara itu, brand lokal kecil semakin sulit berkembang karena harus bersaing dengan produk impor murah dan biaya promosi yang tinggi.
Pelaku usaha juga mulai sadar bahwa bisnis tidak bisa hanya mengandalkan viral sesaat. Mereka kini lebih fokus membangun branding dan loyalitas pelanggan untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Marketplace Masih Penting, Tapi Strategi Berubah
Meski banyak brand mulai mengurangi ketergantungan, marketplace tetap menjadi saluran penjualan yang penting.
Marketplace masih menawarkan banyak keuntungan seperti:
- pasar luas
- transaksi mudah
- promosi cepat
- jumlah pengguna besar
Namun, brand lokal kini lebih berhati-hati. Mereka mulai menjadikan marketplace sebagai salah satu channel penjualan, bukan satu-satunya sumber bisnis.
Tren ini diperkirakan terus berkembang seiring meningkatnya persaingan di industri e-commerce Indonesia.








