Brand Lokal Hengkang dari Shopee dan TikTok Shop, Ini Penyebabnya

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Shoope dan tiktok ditinggal brand lokal

Ilustrasi: Shoope dan tiktok ditinggal brand lokal

Jakarta, APGtimes.com–Banyak brand lokal mulai mengurangi aktivitas penjualan di Shopee dan TikTok Shop. Sebagian pelaku usaha bahkan memilih keluar dari marketplace dan membangun jalur penjualan sendiri.

Fenomena ini muncul bukan karena produk mereka tidak laku. Banyak brand justru mencatat penjualan tinggi. Namun, mereka menghadapi tekanan biaya operasional, perang harga, dan persaingan yang semakin ketat.

Pelaku usaha menilai ekosistem marketplace saat ini semakin berat bagi seller kecil dan menengah. Mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk iklan, promosi, hingga live shopping agar produk tetap muncul di pencarian.

Perang Harga Tekan Keuntungan Seller

Marketplace memang menawarkan pasar luas dan trafik tinggi. Namun, persaingan harga membuat banyak seller kesulitan menjaga keuntungan.

Banyak brand terpaksa mengikuti promo besar dan diskon ekstrem agar produk tetap bersaing. Kondisi ini membuat margin keuntungan terus menipis.

Beberapa seller bahkan mengaku penjualan meningkat, tetapi profit justru turun dibanding beberapa tahun lalu.

Selain mengurangi keuntungan, perang harga juga memicu masalah lain seperti:

  • kualitas produk menurun
  • arus kas terganggu
  • brand sulit berkembang
  • loyalitas pelanggan melemah

Pelaku usaha mulai menyadari bahwa strategi diskon terus-menerus tidak sehat untuk bisnis jangka panjang.

Baca Juga :  Pemerintah Siapkan Aturan Pembatasan Media Sosial untuk Anak, Publik Ramai Bereaksi

Biaya Iklan dan Live Shopping Semakin Mahal

Perkembangan fitur live shopping dan affiliate memang membantu meningkatkan penjualan. Namun, sistem ini juga memaksa seller mengeluarkan biaya lebih besar.

Saat ini banyak brand harus:

  • live streaming setiap hari
  • membayar afiliator
  • memasang iklan rutin
  • mengikuti promo marketplace

Jika tidak melakukan itu, algoritma marketplace bisa menurunkan jangkauan produk mereka.

Brand besar masih mampu bertahan karena memiliki modal kuat. Namun, UMKM dan brand lokal kecil mulai kesulitan mengikuti persaingan tersebut.

Karena itu, banyak pelaku usaha mulai mengalihkan fokus ke:

  • website pribadi
  • komunitas pelanggan
  • penjualan offline
  • media sosial organik

Mereka ingin mengurangi ketergantungan terhadap marketplace.

Brand Lokal Mulai Bangun Komunitas Sendiri

Banyak pebisnis kini memilih membangun hubungan langsung dengan pelanggan. Mereka memanfaatkan WhatsApp, Instagram, Telegram, hingga komunitas pelanggan untuk menjaga penjualan tetap stabil.

Strategi ini membantu brand mempertahankan pelanggan tanpa harus terus mengeluarkan biaya iklan besar.

Selain itu, konsumen saat ini juga mulai berubah. Tidak semua pembeli hanya mencari harga termurah.

Banyak pelanggan mulai memperhatikan:

  • kualitas produk
  • pelayanan
  • packaging
  • pengalaman belanja
  • after sales
  • identitas brand
Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp17.861 per Dolar AS, Pengrajin Tahu Keluhkan Harga Kedelai Naik

Kondisi ini membuka peluang besar bagi brand lokal yang fokus membangun kualitas dan identitas produk.

Asosiasi Soroti Persaingan Marketplace

Sejumlah asosiasi menilai ekosistem digital saat ini perlu lebih sehat dan seimbang. Mereka khawatir perang harga dan promo ekstrem hanya menguntungkan perusahaan bermodal besar.

Sementara itu, brand lokal kecil semakin sulit berkembang karena harus bersaing dengan produk impor murah dan biaya promosi yang tinggi.

Pelaku usaha juga mulai sadar bahwa bisnis tidak bisa hanya mengandalkan viral sesaat. Mereka kini lebih fokus membangun branding dan loyalitas pelanggan untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Marketplace Masih Penting, Tapi Strategi Berubah

Meski banyak brand mulai mengurangi ketergantungan, marketplace tetap menjadi saluran penjualan yang penting.

Marketplace masih menawarkan banyak keuntungan seperti:

  • pasar luas
  • transaksi mudah
  • promosi cepat
  • jumlah pengguna besar

Namun, brand lokal kini lebih berhati-hati. Mereka mulai menjadikan marketplace sebagai salah satu channel penjualan, bukan satu-satunya sumber bisnis.

Tren ini diperkirakan terus berkembang seiring meningkatnya persaingan di industri e-commerce Indonesia.

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Asing Jual Saham Rp8,36 Triliun, IHSG Tertekan dan Rupiah Nyaris Rp17.900 per Dolar AS
Rupiah Tembus Rp17.861 per Dolar AS, Pengrajin Tahu Keluhkan Harga Kedelai Naik
Meta Pangkas 8.000 Pegawai: Zuckerberg Kini Bertaruh Hidup pada AI
Menteri UMKM Warning TikTok Shop dan Shopee Soal Kenaikan Biaya Seller
Prabowo mulai gerah, Tutup Dapur MBG Bermasalah
PT Tren Gen Horizon Resmi Kantongi HAKI dari DJKI, Perkuat Bisnis Periklanan Digital
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:09 WIB

Asing Jual Saham Rp8,36 Triliun, IHSG Tertekan dan Rupiah Nyaris Rp17.900 per Dolar AS

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:09 WIB

Rupiah Tembus Rp17.861 per Dolar AS, Pengrajin Tahu Keluhkan Harga Kedelai Naik

Jumat, 22 Mei 2026 - 07:23 WIB

Meta Pangkas 8.000 Pegawai: Zuckerberg Kini Bertaruh Hidup pada AI

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:17 WIB

Menteri UMKM Warning TikTok Shop dan Shopee Soal Kenaikan Biaya Seller

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:03 WIB

Brand Lokal Hengkang dari Shopee dan TikTok Shop, Ini Penyebabnya

Berita Terbaru

Trofi Piala Dunia yang akan diperebutkan kembali dalam Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Piala Dunia 2026 akan menggunakan format baru karena diikuti 48 negara yang dibagi dalam 12 grup di mana dua tim teratas setiap grup plus delapan peringkat ketiga terbaik maju ke babak 32 besar.(TANGKAPAN LAYAR TWITTER FIFA)

Internasional

Iran Tuding AS Cabut Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Didesak Bertindak

Selasa, 9 Jun 2026 - 18:09 WIB