Jakarta, APGtimes.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Jumat (29/5/2026). IHSG melemah 0,05 persen atau 2,81 poin ke level 6.127,381.
Meski pelemahan indeks tergolong tipis, investor asing masih mencatat aksi jual besar di pasar saham Indonesia.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor asing membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp8,36 triliun.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten yang paling banyak dilepas investor asing. Nilai jual bersih saham tersebut mencapai Rp1,959 triliun.
Investor asing juga melepas saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp1,939 triliun.
Selain itu, investor asing menjual saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp1,610 triliun.
Tekanan jual turut terjadi pada sektor perbankan.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat jual bersih Rp738 miliar.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat jual bersih Rp390 miliar.
Di tengah derasnya arus keluar dana asing, sejumlah saham masih menarik minat investor.
PT Astra International Tbk (ASII) memimpin daftar saham dengan pembelian bersih terbesar sebesar Rp137 miliar.
Kemudian, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat pembelian bersih Rp96 miliar.
PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan pembelian bersih Rp85 miliar.
Selanjutnya, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mencatat pembelian bersih Rp79 miliar.
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga mencatat pembelian bersih Rp78 miliar.
Rupiah Jadi Beban IHSG
Pelemahan nilai tukar rupiah ikut menekan pergerakan IHSG.
Pada perdagangan yang sama, rupiah melemah 35 poin atau 0,20 persen ke posisi Rp17.880 per dolar AS.
Bahkan, beberapa menit sebelum penutupan pasar, rupiah sempat menyentuh Rp17.893 per dolar AS.
Investment Specialist KISI Ahmad Faris Mu’tashim menilai saham bank berkapitalisasi besar menjadi sektor yang paling rentan saat rupiah melemah tajam.
Menurut Faris, saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI memiliki tingkat likuiditas tinggi.
Karena itu, investor sering memilih saham tersebut ketika melakukan aksi jual.
“Tentu karena dari portofolio manajer investasi, saham tersebut merupakan saham yang paling likuid,” ujar Faris.
Selain likuid, saham bank jumbo juga memiliki bobot besar dalam perhitungan IHSG.
Karena itu, penurunan harga saham perbankan dapat memberi dampak besar terhadap pergerakan indeks.
IHSG Berpotensi ke Level 5.800
Faris memperkirakan skenario terburuk atau worst case scenario IHSG berada pada kisaran 5.800 hingga 6.000.
Menurutnya, pasar saat ini menghadapi sejumlah sentimen negatif.
Sentimen tersebut meliputi pelemahan rupiah dan rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berlaku efektif pada 1 Juni 2026.
Ia menilai tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah.
Potensi perubahan alokasi dana investor global menjelang rebalancing MSCI juga memberi tekanan tambahan.
“Secara price action, worst scenario untuk IHSG berada di range 5.800-6.000 di tengah sentimen pelemahan rupiah serta rebalancing MSCI yang efektif pada 1 Juni 2026,” katanya.
Meski demikian, Faris menegaskan pelemahan rupiah tidak otomatis mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.
Menurut dia, kenaikan risk premium menjadi faktor utama yang menekan rupiah saat ini.
Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah.
Karena itu, Indonesia membutuhkan katalis baru untuk menarik kembali aliran dana asing ke pasar keuangan domestik.
“Sentimen pelemahan rupiah lebih disebabkan naiknya risk premium yang tergambar dari naiknya yield obligasi. Sehingga, untuk pasar keuangan RI mendapat inflow perlu growth story atau valuasi yang terlalu murah,” ujarnya. (dr*)








