Israel Kembali Serang Lebanon Hanya Beberapa Jam Usai Kesepakatan Gencatan Senjata

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi bangunan dan kendaraan yang hangus terbakar setelah serangan Israel di permukiman Corniche Al Mazraa, Beirut, Lebanon, 8 April 2026. Sekitar pukul 18.00 WIB, serangkaian serangan Israel menghantam tanpa peringatan.(AFP/IBRAHIM AMRO)

Kondisi bangunan dan kendaraan yang hangus terbakar setelah serangan Israel di permukiman Corniche Al Mazraa, Beirut, Lebanon, 8 April 2026. Sekitar pukul 18.00 WIB, serangkaian serangan Israel menghantam tanpa peringatan.(AFP/IBRAHIM AMRO)

Beirut, APGtimes.com — Militer Israel kembali menggempur wilayah selatan Lebanon pada Kamis (4/6/2026), hanya beberapa jam setelah perwakilan kedua negara memperbarui komitmen gencatan senjata dalam perundingan yang dimediasi Amerika Serikat di Washington.

Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa drone Israel menyerang sejumlah titik di kawasan selatan Lebanon. Aksi tersebut langsung memicu kekhawatiran baru terhadap keberlangsungan kesepakatan damai yang baru tercapai.

Pada waktu yang hampir bersamaan, militer Israel mengaktifkan sirene peringatan serangan udara di wilayah utara negaranya. Otoritas Israel menyatakan petugas berhasil menangani satu insiden, sedangkan sistem mengidentifikasi laporan lainnya sebagai alarm palsu.

Kesepakatan Damai Baru Berumur Hitungan Jam

Perwakilan Israel dan Lebanon sebelumnya menyepakati pembaruan gencatan senjata dalam putaran keempat negosiasi yang berlangsung di Washington.

Dalam kesepakatan tersebut, kedua pihak menetapkan penghentian seluruh aktivitas militer Hizbullah sebagai syarat utama keberlanjutan proses perdamaian.

Israel dan Lebanon juga menyetujui pembentukan zona percontohan di wilayah perbatasan. Melalui skema itu, Angkatan Bersenjata Lebanon akan mengelola keamanan kawasan secara penuh tanpa keterlibatan kelompok bersenjata non-negara.

Baca Juga :  Warga Iran Kecewa, Janji Bantuan Trump di Tengah Perang Tak Kunjung Datang

Kesepakatan tersebut menjadi salah satu upaya terbaru untuk meredakan konflik yang terus memanas di sepanjang perbatasan kedua negara.

Hizbullah dan Pejabat Israel Sama-sama Menentang

Meski pemerintah Israel ikut menyetujui hasil perundingan, sejumlah pejabat menolak langkah tersebut. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menyebut kesepakatan itu sebagai keputusan yang berisiko bagi keamanan negaranya.

Di sisi lain, Hizbullah juga menunjukkan sikap yang tidak sejalan dengan semangat perdamaian. Sebelum pengumuman resmi hasil perundingan, kelompok itu mengklaim telah meluncurkan roket ke arah pasukan dan kendaraan militer Israel di wilayah Qantara, Lebanon selatan.

Hizbullah juga mengirim drone serang menuju pangkalan militer Israel di sekitar kawasan strategis Kastil Beaufort.

Sepanjang konflik berlangsung, Israel dan Hizbullah terus saling menyalahkan atas pecahnya berbagai bentrokan. Kedua pihak berulang kali menganggap lawan mereka sebagai pihak pertama yang melanggar kesepakatan.

Baca Juga :  Lautan Manusia Iringi Pemakaman Ali Khamenei di Qom, Prosesi Berlanjut ke Mashhad

Korban Konflik Terus Bertambah

Konflik berkepanjangan antara Israel dan Lebanon terus menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 3.500 warga meninggal dunia akibat serangan yang terjadi selama konflik berlangsung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan sedikitnya 600 orang kehilangan nyawa sejak runtuhnya komitmen gencatan senjata pada 17 April 2026.

Situasi berpotensi semakin rumit setelah pejabat senior Hizbullah, Mahmud Qomati, menegaskan bahwa kelompoknya menolak segala bentuk gencatan senjata parsial.

Pernyataan tersebut memperlihatkan masih besarnya tantangan yang harus dihadapi para mediator internasional untuk menciptakan perdamaian jangka panjang di kawasan perbatasan Israel dan Lebanon.

Hingga Kamis sore waktu setempat, ketegangan di wilayah perbatasan masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda sepenuhnya. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mekkah, Jeddah, dan Taif Dapat Alarm Serangan, Arab Saudi Langsung Cabut Peringatan
12 Negara Paling Aman untuk Traveling Pertama Kali 2026, Malaysia Jauh di Atas Indonesia
Museum Renoir di Perancis Dibobol, 4 Karya Seni Senilai Rp 176 Miliar Dicuri
Hassan Rouhani Minta Rakyat Iran Tentukan Kelanjutan Perang dengan AS
Kabut Asap Karhutla Indonesia Lumpuhkan Aktivitas Warga Serian Malaysia
Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu
Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja
Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 16:09 WIB

Mekkah, Jeddah, dan Taif Dapat Alarm Serangan, Arab Saudi Langsung Cabut Peringatan

Rabu, 9 September 2026 - 21:09 WIB

12 Negara Paling Aman untuk Traveling Pertama Kali 2026, Malaysia Jauh di Atas Indonesia

Selasa, 8 September 2026 - 21:09 WIB

Museum Renoir di Perancis Dibobol, 4 Karya Seni Senilai Rp 176 Miliar Dicuri

Selasa, 8 September 2026 - 18:09 WIB

Hassan Rouhani Minta Rakyat Iran Tentukan Kelanjutan Perang dengan AS

Senin, 7 September 2026 - 11:09 WIB

Kabut Asap Karhutla Indonesia Lumpuhkan Aktivitas Warga Serian Malaysia

Berita Terbaru