Jakarta, APGtimes.com – PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) Pertamina Pride berhasil melintasi Selat Hormuz dengan selamat di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Perusahaan menyatakan seluruh awak kapal berada dalam kondisi aman. Kapal juga melanjutkan pelayaran menuju Indonesia untuk mengangkut pasokan minyak mentah.
Pertamina Pride Lolos dari Selat Hormuz
Pelaksana Tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan Pertamina Pride berhasil meninggalkan kawasan Teluk Arab setelah sebelumnya sempat tertahan.
Keberhasilan itu menyusul kapal tanker Gamsunoro yang lebih dulu melintasi Selat Hormuz.
“Dua kapal PIS yang sempat tertahan sejak Maret kini dapat melanjutkan pelayaran dan beroperasi seperti biasa,” ujar Vega.
Pertamina Pride mulai berlayar pada Selasa (7/7/2026) pukul 13.00 waktu Dubai atau 16.00 WIB.
Selanjutnya, kapal berhasil melewati Selat Hormuz pada Rabu (8/7/2026) sekitar pukul 00.15 WIB.
Jalani Penilaian Risiko Ketat
PIS melakukan pembahasan intensif dan penilaian risiko sebelum mengizinkan kapal berlayar.
Tim mengevaluasi aspek keamanan, kesiapan teknis, operasional, asuransi, hingga kondisi awak kapal.
Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, perusahaan memberikan izin kepada Pertamina Pride untuk meninggalkan kawasan Teluk Arab.
Selama pelayaran, tim operasional memantau kapal selama 24 jam penuh.
Awak kapal juga terus berkoordinasi dengan pusat krisis PIS untuk memastikan perjalanan berlangsung aman.
Bawa Dua Juta Barel Minyak Mentah
Pertamina Pride membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah menuju Kilang Cilacap, Jawa Tengah.
PIS memperkirakan kapal akan tiba di Indonesia pada 23 Juli 2026 setelah menempuh pelayaran sekitar 15 hari.
Perusahaan menegaskan akan terus memantau perkembangan keamanan di jalur pelayaran internasional demi menjaga keselamatan awak kapal dan kelancaran distribusi energi nasional.
Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Di sisi lain, konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.
Militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran pada Kamis (9/7/2026).
Sebagai balasan, Iran menargetkan sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukannya menyerang sekitar 90 target di Iran.
Washington menyebut operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran menegaskan akan memberikan respons terhadap setiap serangan yang dilakukan Amerika Serikat. (aw*)









