Jakarta, APGtimes.com – Peluang penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi semakin terbuka setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepahaman awal dalam perundingan damai. Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong stabilitas harga minyak dunia.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menilai normalisasi aktivitas di Selat Hormuz menjadi faktor penting yang dapat menekan harga energi global, termasuk harga BBM non-subsidi di Indonesia.
Harga BBM Non-Subsidi Berpotensi Turun
Abra mengatakan masyarakat kini berharap pemerintah segera menyesuaikan harga BBM non-subsidi apabila tren penurunan harga minyak dunia terus berlanjut.
Menurutnya, harga Pertamax dan jenis BBM non-subsidi lainnya sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional.
Jika harga minyak terus melemah, biaya distribusi energi juga berpotensi turun sehingga ruang penyesuaian harga BBM semakin terbuka.
Selat Hormuz Kembali Normal
Abra menjelaskan penutupan Selat Hormuz selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga minyak dunia.
Gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah memicu tekanan terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kini, kesepahaman damai antara Amerika Serikat dan Iran membuka peluang normalisasi jalur pelayaran internasional sehingga pasokan minyak dunia dapat kembali stabil.
Industri Berpotensi Pulih
Abra menilai harga energi yang lebih rendah akan membantu sektor industri menekan biaya produksi.
Kondisi tersebut juga dapat mempercepat pemulihan dunia usaha yang sebelumnya terdampak lonjakan harga energi.
Ia menambahkan, penurunan biaya produksi berpotensi meningkatkan aktivitas industri sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja.
Kesepakatan Damai Bawa Harapan Baru
Delegasi Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menggelar perundingan di Swiss dan menghasilkan sejumlah kesepahaman awal.
Kedua negara juga menyepakati kerangka pembahasan lanjutan untuk menyusun perjanjian damai yang lebih komprehensif dalam beberapa bulan ke depan.
Jika proses tersebut berjalan lancar, stabilitas pasokan energi dunia diperkirakan semakin membaik. Kondisi itu juga dapat memberikan dampak positif terhadap harga minyak global dan biaya energi di Indonesia. (aw*)









