Permukiman Bekas Tambang Emas di California Dijual Rp84 Miliar, Cuma Dihuni 15 Orang

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 23 September 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kota Belden yang kini dijual seharga Rp 84 miliar pernah menjadi lokasi pertambangan emas di California, AS.(beldentownforsale.com)

Kota Belden yang kini dijual seharga Rp 84 miliar pernah menjadi lokasi pertambangan emas di California, AS.(beldentownforsale.com)

California, APGtimes.com – Belden, permukiman kecil di Feather River Canyon, California Utara, Amerika Serikat, kini masuk pasar dengan harga 4,75 juta dollar AS atau sekitar Rp 84 miliar.

Kawasan ini hanya dihuni sekitar 15 orang. Belden juga bukan kota resmi. Namun, kawasan tersebut memiliki sejarah panjang sejak era California Gold Rush.

Pemilik Belden, Ivan Coffman, 87 tahun, membeli kawasan itu pada 1989. Setelah mengelolanya selama puluhan tahun, Coffman kini menawarkan Belden kepada calon pembeli.

Properti tersebut mencakup sejumlah fasilitas. Di antaranya resort, lodge dua lantai, restoran, bar, toko umum, garasi, bangunan sekolah, dan beberapa kabin penginapan.

Selain itu, area penjualan mencakup sekitar empat acre lahan dengan akses langsung menuju Sungai Feather.

Penemuan Emas Mengubah Hidup Coffman

Coffman pertama kali mengunjungi Belden pada 1970. Saat itu, ia mengambil cuti selama sepekan dari pekerjaannya sebagai tukang batu.

Baca Juga :  PBB Masukkan Israel dan Rusia ke Daftar Hitam Pelaku Kekerasan Seksual di Zona Konflik

Banjir besar kemudian mengubah aliran sungai di kawasan tersebut. Arus banjir membawa endapan kerikil ke pertemuan Yellow Creek dan Sungai Feather.

Di lokasi itu, Coffman menemukan banyak bongkahan emas. Dalam satu perjalanan, ia mengaku berhasil mengumpulkan sekitar 50 ons emas.

Penemuan tersebut mengubah rencana hidup Coffman. Ia memperpanjang masa tinggalnya di Belden dan akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang batu.

Setelah itu, Coffman menekuni berbagai usaha. Ia menjalankan bisnis pembuatan perhiasan, pinjaman pribadi, hingga real estat.

Pernah Jadi Kamp Pertambangan Emas

Sejarah Belden berawal dari California Gold Rush. Pada masa itu, kawasan tersebut berkembang sebagai kamp pertambangan emas.

Jumlah penduduk Belden bahkan pernah mencapai sekitar 1.000 orang. Namun, aktivitas pertambangan kemudian menurun dan mengubah kehidupan masyarakat setempat.

Belden selanjutnya berkembang sebagai kawasan penebangan kayu dan perkeretaapian. Setelah itu, sektor wisata dan kegiatan memancing mulai mengambil peran dalam perekonomian kawasan.

Baca Juga :  Lula Akan Temui Trump di PBB, Minta AS Tak Ikut Campur Pemilu Brasil

Pembangunan sejumlah bendungan di sepanjang Sungai Feather pada pertengahan abad ke-20 turut mengubah kondisi lingkungan. Perubahan tersebut berdampak pada populasi ikan dan ekonomi Belden.

Coffman Bangun Kembali Belden

Saat Coffman membeli Belden pada 1989, banyak bangunan lama sudah mengalami kerusakan akibat kebakaran pada 1970-an.

Coffman kemudian membangun kembali kawasan tersebut. Ia mengubah Belden menjadi tempat persinggahan wisatawan dan berbagai pengunjung.

Sejak itu, Belden menarik wisatawan, pendaki Pacific Crest Trail, serta pengendara sepeda motor. Kawasan tersebut juga berkembang sebagai lokasi berbagai kegiatan wisata.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade dikelola Coffman, Belden kembali menjadi perhatian karena masuk pasar dengan harga 4,75 juta dollar AS.

Dengan harga tersebut, pembeli tidak hanya mendapatkan lahan. Paket penjualan juga mencakup berbagai fasilitas yang membentuk kawasan Belden sebagai permukiman sekaligus destinasi wisata. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gedung Putih Luncurkan Trump TV, Siaran 24 Jam Tampilkan Aktivitas Donald Trump
Menlu Sugiono Tiba di New York, Siapkan Agenda Indonesia di Sidang PBB
CNN, Politico, dan MS NOW Bawa Larangan Gedung Putih ke Pengadilan
BBM Langka, Iran Pangkas Jam Kerja Kantor Jadi 5 Jam dan Perluas WFH
Yu Zidi, 13 Tahun, Cetak Rekor Asian Games 2026 dan Raih Emas Renang
Nomor HP Meghan Markle Bocor di Media Usai Gabung Grup WhatsApp Orangtua Murid
Lula Akan Temui Trump di PBB, Minta AS Tak Ikut Campur Pemilu Brasil
Mekkah, Jeddah, dan Taif Dapat Alarm Serangan, Arab Saudi Langsung Cabut Peringatan
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 11:09 WIB

Permukiman Bekas Tambang Emas di California Dijual Rp84 Miliar, Cuma Dihuni 15 Orang

Rabu, 23 September 2026 - 07:09 WIB

Gedung Putih Luncurkan Trump TV, Siaran 24 Jam Tampilkan Aktivitas Donald Trump

Selasa, 22 September 2026 - 19:09 WIB

Menlu Sugiono Tiba di New York, Siapkan Agenda Indonesia di Sidang PBB

Selasa, 22 September 2026 - 15:09 WIB

CNN, Politico, dan MS NOW Bawa Larangan Gedung Putih ke Pengadilan

Selasa, 22 September 2026 - 09:09 WIB

BBM Langka, Iran Pangkas Jam Kerja Kantor Jadi 5 Jam dan Perluas WFH

Berita Terbaru