Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.158 per Dollar AS, Investor Menanti Data Ekonomi

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 2 November 2026 - 13:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Jakarta, APGtimes.com — Nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin, 2 November 2026. Pelaku pasar masih menunggu sejumlah data ekonomi domestik dan mencermati perkembangan global.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka pada level Rp18.158 per dollar AS. Angka tersebut turun 11 poin atau 0,06 persen dari penutupan sebelumnya sebesar Rp18.147 per dollar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah bergerak terbatas pada awal perdagangan. Menurutnya, investor menunggu rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia pada siang hari.

Kedua indikator tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi nasional.

Inflasi Indonesia Terus Meningkat

Data terakhir menunjukkan inflasi Indonesia mencapai 3,28 persen secara tahunan atau year on year (YoY) pada September 2026. Angka itu naik dari 3,19 persen pada Agustus 2026.

Selain itu, inflasi bulanan atau month to month (MtM) mencapai 0,30 persen pada September. Angka tersebut juga meningkat dibandingkan Agustus yang sebesar 0,21 persen.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini 29 September 2026, 1 Gram Masih Rp2,597 Juta

Di sektor perdagangan, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 3,55 miliar dollar AS pada Agustus 2026. Surplus tersebut jauh lebih besar dibandingkan capaian Juli yang hanya mencapai 0,13 miliar dollar AS.

Lukman menilai penurunan harga minyak mentah dunia berpotensi membantu rupiah. Harapan perundingan damai untuk mengakhiri konflik AS-Iran turut memberikan sentimen positif bagi pasar.

Namun, tekanan dari pasar domestik masih membayangi rupiah. Aksi jual investor asing atau foreign sell-off di pasar saham Indonesia menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati.

Penguatan Dollar AS Menambah Tekanan

Pada awal perdagangan, sebagian besar mata uang Asia bergerak melemah terhadap dollar AS. Sebaliknya, indeks dollar AS atau DXY mencatat kenaikan.

Pada pukul 09.00 WIB, DXY menguat 0,04 persen ke level 101,917. Indeks ini mengukur kekuatan dollar AS terhadap enam mata uang utama dunia.

Investor juga mencermati imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Pada pekan terakhir Oktober 2026, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh sekitar 4,967 persen.

Baca Juga :  Bank Danamon Ungkap Kunci Ekonomi RI Tembus 6 Persen: Investasi Harus Ciptakan Lapangan Kerja

Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 30 tahun mencapai 5,299 persen. Tingginya imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan negara tersebut.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Lukman menambahkan, investor masih menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Selain itu, perkembangan politik menjelang pemilihan paruh waktu atau US midterm election juga menjadi perhatian pasar.

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Rp18.100–Rp18.200

Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dollar AS sepanjang perdagangan Senin.

Investor perlu mencermati perkembangan inflasi dan neraca perdagangan Indonesia. Selain itu, pergerakan DXY, harga minyak dunia, imbal hasil Treasury, serta arus modal asing turut memengaruhi arah rupiah.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian dalam menentukan arah perdagangan mata uang domestik. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saham SMGR Menguat 5,62 Persen, SIG Kaji Buyback di Tengah Lonjakan Laba
7 Dapur MBG di Padang Panjang Ditutup
Kredit KB Bank Tembus Rp45,68 Triliun, Pendapatan Bunga Bersih Melonjak 28,94 Persen
Pemerintah Beri Insentif Pajak Rp576,4 Triliun pada 2026, UMKM hingga Industri Jadi Penerima
Saham Intel Anjlok 28,58 Persen, Nilai Investasi Pemerintah AS Susut Rp217,8 Triliun
Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 15,2 Persen, Konflik Iran dan Serangan di Hormuz Jadi Pemicu
Cicilan UMKM Korban Bencana Terancam Macet, DPR Desak OJK Beri Keringanan Kredit
Binance Bekukan Aset Rp54,45 Triliun Usai Insiden Keamanan, Tether dan Circle Ikut Bergerak
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 13:09 WIB

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp18.158 per Dollar AS, Investor Menanti Data Ekonomi

Senin, 2 November 2026 - 12:09 WIB

Saham SMGR Menguat 5,62 Persen, SIG Kaji Buyback di Tengah Lonjakan Laba

Minggu, 1 November 2026 - 12:04 WIB

7 Dapur MBG di Padang Panjang Ditutup

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:09 WIB

Kredit KB Bank Tembus Rp45,68 Triliun, Pendapatan Bunga Bersih Melonjak 28,94 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Pemerintah Beri Insentif Pajak Rp576,4 Triliun pada 2026, UMKM hingga Industri Jadi Penerima

Berita Terbaru

Pabrik semen terintegrasi milik SIG Group di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.(Dok. SMGR)

Ekonomi & Bisnis

Saham SMGR Menguat 5,62 Persen, SIG Kaji Buyback di Tengah Lonjakan Laba

Senin, 2 Nov 2026 - 12:09 WIB