Karhutla Meluas, BNPB Catat 864 Titik Api dan 1.615 Hektare Lahan Terdampak

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 5 November 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu orangutan terlihat berjalan sendirian di lokasi lahan bekas terbakar di Km 13 atau 14 Jalan Pangkalan Bun – Kotawaringin Lama, yang masuk wilayah Kelurahan Mendawai Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Minggu (4/10/2026).(DOK. CAMAT SETEMPAT)

Salah satu orangutan terlihat berjalan sendirian di lokasi lahan bekas terbakar di Km 13 atau 14 Jalan Pangkalan Bun – Kotawaringin Lama, yang masuk wilayah Kelurahan Mendawai Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Minggu (4/10/2026).(DOK. CAMAT SETEMPAT)

Jakarta, APGtimes.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengancam sejumlah wilayah Indonesia. Petugas terus memadamkan api, tetapi beberapa daerah justru mencatat penambahan titik panas.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemadaman saja belum mampu menyelesaikan persoalan karhutla. Pemerintah perlu memperkuat pencegahan dan mengawasi berbagai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 864 titik api atau fire spot hingga Rabu (4/11/2026). Pada saat yang sama, petugas menangani kebakaran yang meliputi lahan seluas 1.615 hektare.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, menyebut Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan sebagai daerah dengan peningkatan titik api.

Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan Catat Lonjakan

Kalimantan Tengah mencatat 425 titik api atau meningkat 50 persen dibandingkan hari sebelumnya. Petugas juga menangani kebakaran yang mencakup 664 hektare lahan, naik 21 persen.

“Kalimantan Tengah jumlah hotspot meningkat 50 persen menjadi 425 dari hari kemarin, serta jumlah lahan yang dalam penanganan sebesar 664 hektar dan ini pun mengalami kenaikan 21 persen,” kata Berton dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu.

Baca Juga :  Pemprov Jambi Tak Buka CPNS 2026, Ribuan Honorer dan PPPK Jadi Prioritas

Sumatera Selatan turut mengalami lonjakan. BNPB mencatat tambahan 60 titik api atau meningkat sekitar 186 persen dari sehari sebelumnya.

Di provinsi tersebut, petugas menangani kebakaran yang meliputi 105 hektare lahan. Angka itu meningkat 66 persen dibandingkan pemantauan sebelumnya.

Jambi juga mencatat penambahan 150 titik api atau naik 134 persen. Petugas menangani kebakaran yang mencakup lahan seluas 403 hektare di wilayah tersebut.

Berbeda dengan daerah lain, Kalimantan Timur mencatat penurunan 85 titik api. Meski demikian, kebakaran masih meluas hingga mencakup 182 hektare lahan yang petugas tangani.

“Untuk Kalimantan Timur ada jumlah penurunan titik api 85, sedangkan jumlah lahan yang terbakar juga signifikan naik jadi 182 hektar,” ujar Berton.

Baca Juga :  Aturan Baru Pilkades 2027 Resmi Berlaku, Calon Tunggal Kini Bisa Melawan Kotak Kosong

Penanganan Karhutla Harus Mengutamakan Pencegahan

Penambahan titik api di sejumlah daerah kembali menunjukkan pentingnya pencegahan karhutla. Pemadaman memang menghentikan kebakaran, tetapi pemerintah juga harus mengatasi sumber pemicunya.

Ketua DPD RI Sultan B Najamudin meminta pemerintah mengubah pola penanganan karhutla. Ia mendorong strategi menyeluruh dari hulu hingga hilir, bukan sekadar tindakan setelah kebakaran muncul.

“Solusi penanganan Karhutla tidak boleh lagi hanya bersifat reaktif, melainkan harus komprehensif dari hulu ke hilir dengan melibatkan masyarakat adat, pemerintah daerah, dan penguatan sinergi lintas sektoral,” kata Sultan dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).

Sultan menekankan keterlibatan masyarakat adat dan pemerintah daerah dalam upaya pencegahan. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas sektor agar setiap pihak menjalankan langkah pengendalian secara terpadu.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah dapat menyeimbangkan pemadaman dengan pencegahan. Pengawasan kawasan rawan dan keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting untuk menekan kemunculan titik api baru. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tito Karnavian Ungkap Manfaat UU Satu Data Indonesia, Ini Tiga Hal yang Harus Dijaga
MK Sudah Minta UU Penyadapan Sejak 2011, DPR Targetkan Pembahasan Desember 2026
Roy Suryo Sebut Ijazah Jokowi Palsu Saat Dipamerkan di Sidang, Begini Reaksinya
Naskah UU Ketenagakerjaan Belum Diterima, KASBI Soroti Transparansi DPR dan Pemerintah
BNPB Catat 864 Titik Api Karhutla, Kalimantan Tengah dan Sumsel Alami Lonjakan
BGN Batasi Biaya Dapur MBG Rp3.000 per Orang, Insentif Mitra Ikut Berubah
Hinca Panjaitan Desak Polri Telusuri Pihak yang Diuntungkan dari Dugaan Penyadapan Prabowo
Mahfud MD Soroti Kasus Listyo Sigit, Singgung Pujian DPR hingga Ketegasan Prabowo
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 19:09 WIB

Tito Karnavian Ungkap Manfaat UU Satu Data Indonesia, Ini Tiga Hal yang Harus Dijaga

Kamis, 5 November 2026 - 17:09 WIB

MK Sudah Minta UU Penyadapan Sejak 2011, DPR Targetkan Pembahasan Desember 2026

Kamis, 5 November 2026 - 15:09 WIB

Roy Suryo Sebut Ijazah Jokowi Palsu Saat Dipamerkan di Sidang, Begini Reaksinya

Kamis, 5 November 2026 - 13:09 WIB

Naskah UU Ketenagakerjaan Belum Diterima, KASBI Soroti Transparansi DPR dan Pemerintah

Kamis, 5 November 2026 - 11:09 WIB

Karhutla Meluas, BNPB Catat 864 Titik Api dan 1.615 Hektare Lahan Terdampak

Berita Terbaru