Ribuan Mahasiswa Semarang Soroti Jabatan Sipil untuk Polisi dalam Aksi PANTURA

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekitar 1.000 mahasiswa dan elemen masyarakat di Kota Semarang menggeruduk kantor Gubernur dalam aksi unjuk rasa bertajuk Panca Tuntutan Rakyat (PANTURA) pada Kamis (15/6/2026) sore. Sempat terjadi pembakaran ban di sela aksi, namun api dipadamkan polisi.(KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah)

Sekitar 1.000 mahasiswa dan elemen masyarakat di Kota Semarang menggeruduk kantor Gubernur dalam aksi unjuk rasa bertajuk Panca Tuntutan Rakyat (PANTURA) pada Kamis (15/6/2026) sore. Sempat terjadi pembakaran ban di sela aksi, namun api dipadamkan polisi.(KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah)

Semarang, APGtimes.com — Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam aksi Panca Tuntutan Rakyat (PANTURA) di Kota Semarang menyoroti kebijakan yang membuka peluang lebih luas bagi anggota Polri untuk menduduki jabatan sipil.

Massa aksi menilai kebijakan tersebut dapat mengurangi kesempatan masyarakat sipil untuk mengisi posisi di berbagai lembaga pemerintahan.

Presiden BEM Universitas Negeri Semarang (Unnes), Septia Linasari, mengatakan mahasiswa telah menyampaikan penolakan sejak pembahasan aturan tersebut masih berlangsung.

Menurutnya, pemerintah perlu mengkaji ulang kebijakan tersebut agar tidak menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.

Mahasiswa Soroti Kesempatan Kerja

Septia menilai perluasan peran anggota Polri ke jabatan sipil berpotensi mempersempit ruang kerja bagi masyarakat.

Ia menyoroti kondisi tersebut karena pemerintah sebelumnya menyampaikan komitmen untuk membuka jutaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia.

Menurutnya, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan institusi negara dan kesempatan kerja bagi warga sipil.

Baca Juga :  Yupi Bahabol Ditangkap di Bandara Dekai, Polisi Temukan Amunisi dan Senjata

Desak Judicial Review

Mahasiswa juga mendorong upaya judicial review terhadap aturan yang mengatur peluang anggota Polri menduduki jabatan sipil.

Mereka berharap langkah tersebut dapat menjaga semangat reformasi dan memastikan pembagian peran antara aparat keamanan dan masyarakat sipil tetap berjalan sesuai prinsip demokrasi.

Septia menegaskan Polri telah memiliki tugas utama sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Karena itu, mahasiswa mempertanyakan alasan perluasan peran anggota Polri ke sejumlah posisi sipil.

Bawa Lima Tuntutan

Dalam aksi tersebut, massa membawa lima tuntutan yang mereka rangkum dalam Panca Tuntutan Rakyat (PANTURA).

Selain menyoroti isu jabatan sipil bagi anggota Polri, mahasiswa juga meminta pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Baca Juga :  ICJR Tolak TNI Ikut Berantas Begal, Sebut Penegakan Hukum Wewenang Polisi

Massa turut meminta evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.

Mereka juga mendesak pemerintah mengembalikan tanah kepada rakyat serta memperkuat upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Aksi Libatkan Puluhan Organisasi

Sebanyak 21 elemen mahasiswa dan masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti aksi tersebut.

Massa memulai aksi pada sore hari dan menyampaikan aspirasi di depan Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah serta DPRD Jawa Tengah.

Peserta aksi juga membentangkan berbagai spanduk dan poster yang berisi kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.

Beberapa peserta sempat membakar ban sebagai simbol protes. Namun aparat kepolisian segera memadamkan api untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Aksi berlangsung hingga petang dan berakhir dalam kondisi aman dengan pengawalan aparat keamanan. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kabar Gembira untuk Guru, Tunjangan Non-ASN Naik Jadi Rp2 Juta per Bulan
Nobar Piala Dunia 2026 Kini Wajib Daftar ke TVRI, Ini Aturan Lengkapnya
Mensos Ungkap Masalah di Sekolah Rakyat, Guru dan Wali Asrama Masih Kurang
Komnas HAM Ungkap Masalah Serius di Balik Program MBG, Petugas SPPG Jadi Sorotan
Kejagung Kerahkan Daerah Buru SPPG yang Terkait Kasus Korupsi MBG
Disdik Sulsel Ungkap Alasan Evaluasi 326 Kepala Sekolah Terkait Dana BOS
Kejagung Tak Sita Seluruh Motor Listrik BGN, Fokus Usut Dugaan Korupsi Rp1 Triliun
DPR Panggil Pertamina, Waspadai Lonjakan Konsumsi Pertalite Usai Pertamax Naik
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:09 WIB

Kabar Gembira untuk Guru, Tunjangan Non-ASN Naik Jadi Rp2 Juta per Bulan

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:09 WIB

Nobar Piala Dunia 2026 Kini Wajib Daftar ke TVRI, Ini Aturan Lengkapnya

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:09 WIB

Mensos Ungkap Masalah di Sekolah Rakyat, Guru dan Wali Asrama Masih Kurang

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:09 WIB

Ribuan Mahasiswa Semarang Soroti Jabatan Sipil untuk Polisi dalam Aksi PANTURA

Senin, 15 Juni 2026 - 18:09 WIB

Komnas HAM Ungkap Masalah Serius di Balik Program MBG, Petugas SPPG Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Baliho bergambar mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri) dan yang baru saja meninggal Ayatollah Ali Khamenei (kanan) dipasang di Teheran, Iran, 8 Juni 2026.(AFP/ATTA KENARE)

Internasional

AS dan Iran Sepakat Damai, Warga Teheran Justru Masih Waswas

Selasa, 16 Jun 2026 - 20:09 WIB