Kejagung Selidiki Dugaan Manipulasi Harga Ekspor CPO, 10 Perusahaan Disorot

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Syarief Sulaeman Nahdi di Gedung Kejagung, Jakarta, Senin (25/5/2026).(Dokumentasi Puspenkum Kejagung.)

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Syarief Sulaeman Nahdi di Gedung Kejagung, Jakarta, Senin (25/5/2026).(Dokumentasi Puspenkum Kejagung.)

Jakarta, APGtimes.com — Kejaksaan Agung (Kejagung) mendalami dugaan manipulasi harga ekspor crude palm oil (CPO) melalui praktik transfer pricing dan under invoicing. Penyidik menjalankan proses penyidikan tersebut sejak sekitar satu bulan lalu.

Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi mengatakan data dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantu penyidik melengkapi data yang sebelumnya sudah dimiliki Kejagung.

“Perkara manipulasi atau transfer pricing itu sekarang sedang kami lakukan penyidikan. Data dari Menkeu melengkapi data yang ada di kami,” kata Syarief di Gedung Kejagung, Jakarta, Senin (25/5/2026) malam.

Baca Juga :  KPK Tegaskan Kasus Korupsi MBG Belum Dihentikan, Ini Penjelasannya

Kejagung kini menjalankan penyidikan umum atau sprindik umum terkait dugaan manipulasi harga ekspor CPO tersebut. Namun, penyidik belum mengungkap identitas perusahaan yang masuk dalam penyelidikan.

Selain itu, penyidik meminta keterangan dari sejumlah pihak terkait kasus tersebut. Kejagung juga membuka peluang pengembangan perkara ke sektor usaha lain jika penyidik menemukan indikasi praktik serupa.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah mengantongi data 10 perusahaan besar CPO yang menjalankan dugaan manipulasi harga ekspor melalui praktik under invoicing.

Kementerian Keuangan menelusuri tiga pengapalan dari masing-masing perusahaan secara acak. Hasil penelusuran itu menunjukkan selisih besar antara nilai ekspor dari Indonesia dan nilai impor di negara tujuan.

Baca Juga :  Purbaya Siap Copot Dirjen Bea Cukai Jika Prabowo Beri Perintah

Purbaya mencontohkan ekspor CPO ke Amerika Serikat. Menurut dia, nilai ekspor yang tercatat di Indonesia hanya seperempat hingga sepertiga dari nilai impor yang tercatat di Amerika Serikat.

Ia menilai praktik tersebut membuat pendapatan perusahaan di dalam negeri terlihat lebih kecil. Akibatnya, penerimaan negara ikut berkurang karena perusahaan membayar pajak lebih rendah dari nilai sebenarnya. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru
Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam
Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan
Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran
RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali
Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa
Sudaryono Ubah Aturan MBG, Biaya Operasional Rp5.000 per Porsi Kini Dibatasi
Bambang Haryo Minta Kemenhut dan Perhutani Dievaluasi, Penanganan Karhutla Jangan Hanya Sasar 32 Perusahaan
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:09 WIB

RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa

Berita Terbaru