Rupiah Tembus Rp17.861 per Dolar AS, Pengrajin Tahu Keluhkan Harga Kedelai Naik

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengrajin tahu asal Banyuwangi, Nurul Hakim saat memproduksi tahu di tempat usahanya.(KOMPAS.COM/Fitri Anggiawati)

Pengrajin tahu asal Banyuwangi, Nurul Hakim saat memproduksi tahu di tempat usahanya.(KOMPAS.COM/Fitri Anggiawati)

Banyuwangi, APGtimes.com — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menekan pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor. Dampak tersebut dirasakan pengrajin tahu di Banyuwangi, Jawa Timur, karena harga kedelai impor terus naik.

Nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.861 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026). Kondisi itu ikut mendorong kenaikan harga kedelai yang menjadi bahan baku utama industri tahu.

Pengrajin tahu asal Banyuwangi, Nurul Hakim, mengatakan harga kedelai impor dalam lima bulan terakhir naik sekitar Rp2.000 per kilogram.

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp18.036 per Dollar AS, BI dan Pemerintah Perkuat Stabilitas

“Dampaknya besar sekali. Harga kedelai dalam lima bulan terakhir ini sudah naik Rp2.000 per kilogram,” kata Hakim.

Ia menjelaskan harga kedelai impor yang pada Desember 2025 masih sekitar Rp8.500 per kilogram kini telah naik menjadi Rp10.500 per kilogram.

Hakim mengolah sekitar 1,25 kuintal kedelai setiap hari untuk memproduksi sekitar 5.500 biji tahu. Meski biaya produksi meningkat, ia memilih tidak menaikkan harga jual dan hanya memperkecil ukuran produk.

“Harga bahan baku naik. Tapi tidak mungkin saya naikkan harga jual. Paling bisanya mengecilkan ukuran tahu,” ujarnya.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, INDEF Ingatkan Risiko Defisit APBN

Menurut Hakim, kenaikan harga kedelai membuat sejumlah pengrajin tahu di wilayahnya menghentikan usaha karena keuntungan terus menipis.

“Hanya usaha saya yang masih berjalan sampai sekarang,” katanya.

Selain harga kedelai, kenaikan biaya listrik juga menambah beban produksi. Tagihan listrik usahanya naik dari sekitar Rp1,2 juta menjadi Rp1,7 juta per bulan.

“Apalagi sekarang listrik juga naik. Sehingga pengeluaran juga bertambah. Biasanya listrik saya satu bulan Rp1.200.000, sekarang jadi Rp1.700.000,” ujarnya. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Asing Jual Saham Rp8,36 Triliun, IHSG Tertekan dan Rupiah Nyaris Rp17.900 per Dolar AS
Meta Pangkas 8.000 Pegawai: Zuckerberg Kini Bertaruh Hidup pada AI
Menteri UMKM Warning TikTok Shop dan Shopee Soal Kenaikan Biaya Seller
Brand Lokal Hengkang dari Shopee dan TikTok Shop, Ini Penyebabnya
Prabowo mulai gerah, Tutup Dapur MBG Bermasalah
PT Tren Gen Horizon Resmi Kantongi HAKI dari DJKI, Perkuat Bisnis Periklanan Digital
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:09 WIB

Asing Jual Saham Rp8,36 Triliun, IHSG Tertekan dan Rupiah Nyaris Rp17.900 per Dolar AS

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:09 WIB

Rupiah Tembus Rp17.861 per Dolar AS, Pengrajin Tahu Keluhkan Harga Kedelai Naik

Jumat, 22 Mei 2026 - 07:23 WIB

Meta Pangkas 8.000 Pegawai: Zuckerberg Kini Bertaruh Hidup pada AI

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:17 WIB

Menteri UMKM Warning TikTok Shop dan Shopee Soal Kenaikan Biaya Seller

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:03 WIB

Brand Lokal Hengkang dari Shopee dan TikTok Shop, Ini Penyebabnya

Berita Terbaru

Trofi Piala Dunia yang akan diperebutkan kembali dalam Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Piala Dunia 2026 akan menggunakan format baru karena diikuti 48 negara yang dibagi dalam 12 grup di mana dua tim teratas setiap grup plus delapan peringkat ketiga terbaik maju ke babak 32 besar.(TANGKAPAN LAYAR TWITTER FIFA)

Internasional

Iran Tuding AS Cabut Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Didesak Bertindak

Selasa, 9 Jun 2026 - 18:09 WIB