Banyuwangi, APGtimes.com — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menekan pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor. Dampak tersebut dirasakan pengrajin tahu di Banyuwangi, Jawa Timur, karena harga kedelai impor terus naik.
Nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.861 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026). Kondisi itu ikut mendorong kenaikan harga kedelai yang menjadi bahan baku utama industri tahu.
Pengrajin tahu asal Banyuwangi, Nurul Hakim, mengatakan harga kedelai impor dalam lima bulan terakhir naik sekitar Rp2.000 per kilogram.
“Dampaknya besar sekali. Harga kedelai dalam lima bulan terakhir ini sudah naik Rp2.000 per kilogram,” kata Hakim.
Ia menjelaskan harga kedelai impor yang pada Desember 2025 masih sekitar Rp8.500 per kilogram kini telah naik menjadi Rp10.500 per kilogram.
Hakim mengolah sekitar 1,25 kuintal kedelai setiap hari untuk memproduksi sekitar 5.500 biji tahu. Meski biaya produksi meningkat, ia memilih tidak menaikkan harga jual dan hanya memperkecil ukuran produk.
“Harga bahan baku naik. Tapi tidak mungkin saya naikkan harga jual. Paling bisanya mengecilkan ukuran tahu,” ujarnya.
Menurut Hakim, kenaikan harga kedelai membuat sejumlah pengrajin tahu di wilayahnya menghentikan usaha karena keuntungan terus menipis.
“Hanya usaha saya yang masih berjalan sampai sekarang,” katanya.
Selain harga kedelai, kenaikan biaya listrik juga menambah beban produksi. Tagihan listrik usahanya naik dari sekitar Rp1,2 juta menjadi Rp1,7 juta per bulan.
“Apalagi sekarang listrik juga naik. Sehingga pengeluaran juga bertambah. Biasanya listrik saya satu bulan Rp1.200.000, sekarang jadi Rp1.700.000,” ujarnya. (dr*)








