Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, INDEF Ingatkan Risiko Defisit APBN

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)

Jakarta, APGtimes.com — Nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa bulan terakhir. Kini rupiah menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pada saat yang sama, harga minyak dunia juga terus naik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicunya.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Sebab, Indonesia masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Pelemahan Rupiah Tingkatkan Biaya Impor Minyak

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pelemahan rupiah memberi dampak besar terhadap biaya impor energi.

Menurut INDEF, setiap pelemahan kurs sebesar Rp250 per dolar AS dapat menambah beban impor minyak sekitar Rp7,10 triliun.

Lembaga tersebut menggunakan asumsi dasar APBN 2026. Pemerintah menetapkan kurs Rp16.500 per dolar AS dan harga minyak mentah Indonesia sebesar 70 dolar AS per barel.

Selain itu, INDEF juga memperhitungkan volume impor minyak nasional yang mencapai lebih dari 405 juta barel.

Karena itu, perubahan kurs rupiah langsung memengaruhi nilai impor energi Indonesia.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina di Jambi per 1 Juni 2026, Pertamax Turbo Naik hingga Dexlite Turun

Harga Minyak Dunia Terus Menguat

Harga minyak mentah Brent juga menunjukkan tren kenaikan.

Pada Jumat (5/6/2026), harga minyak Brent mencapai 95,03 dolar AS per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Akibatnya, pasar energi global menghadapi tekanan yang lebih besar.

Bagi Indonesia, kondisi ini menambah risiko karena kebutuhan impor minyak masih cukup tinggi.

Simulasi INDEF Tunjukkan Risiko APBN

INDEF melakukan simulasi terhadap berbagai kemungkinan pergerakan kurs dan harga minyak.

Hasil simulasi menunjukkan risiko fiskal mulai meningkat ketika rupiah melemah dan harga minyak naik secara bersamaan.

Pada skenario kurs Rp18.000 per dolar AS dan harga minyak 90 dolar AS per barel, beban impor minyak dapat bertambah Rp188,58 triliun.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong defisit APBN menjadi sekitar 3,41 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Angka itu sudah melampaui target defisit APBN 2026 yang berada di level 2,68 persen PDB.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp17.861 per Dolar AS, Pengrajin Tahu Keluhkan Harga Kedelai Naik

Risiko Makin Besar Jika Harga Minyak Naik

Tekanan terhadap APBN akan semakin besar jika harga minyak terus meningkat.

INDEF memperkirakan tambahan beban impor minyak mencapai Rp225,08 triliun saat harga minyak berada di level 95 dolar AS per barel.

Sementara itu, tambahan beban impor dapat mencapai Rp261,58 triliun jika harga minyak menyentuh 100 dolar AS per barel.

Dalam kondisi tersebut, defisit APBN berpotensi naik hingga sekitar 3,7 persen terhadap PDB.

Karena itu, pemerintah perlu mewaspadai perkembangan harga energi global.

INDEF Dorong Langkah Antisipasi

INDEF meminta pemerintah segera menyiapkan langkah antisipasi.

Lembaga tersebut mendorong pengendalian subsidi dan kompensasi energi agar lebih tepat sasaran.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat cadangan devisa nasional.

INDEF turut mendorong percepatan diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.

Menurut INDEF, langkah tersebut dapat membantu menjaga stabilitas fiskal sekaligus mengurangi tekanan terhadap APBN di tengah ketidakpastian ekonomi global. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Menguat ke Rp18.134 per Dollar AS, IHSG Naik 0,88 Persen
Harga Kedelai Naik Akibat Rupiah Melemah, Menkeu Siapkan Solusi untuk Pedagang Tempe
MinyaKita Mendadak Sulit Dicari di Jambi, Warga Terpaksa Beralih ke Minyak Curah
Harga Emas Jambi Hari Ini 8 Juni 2026: Perhiasan Rp8,65 Juta per Mayam, Antam Naik ke Rp2,743 Juta
Rupiah Menguat ke Rp18.036 per Dollar AS, BI dan Pemerintah Perkuat Stabilitas
Harga Emas Jambi Hari Ini Tembus Rp17,3 Juta per Suku, Emas Antam Naik ke Rp2,77 Juta per Gram
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar AS, Ketua Banggar DPR Sebut Sudah Terlalu Murah
Harga Emas Jambi Hari Ini Stabil Rp8,65 Juta per Mayam, Emas Antam Turun Lagi
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:09 WIB

Rupiah Menguat ke Rp18.134 per Dollar AS, IHSG Naik 0,88 Persen

Senin, 8 Juni 2026 - 18:09 WIB

Harga Kedelai Naik Akibat Rupiah Melemah, Menkeu Siapkan Solusi untuk Pedagang Tempe

Senin, 8 Juni 2026 - 15:09 WIB

MinyaKita Mendadak Sulit Dicari di Jambi, Warga Terpaksa Beralih ke Minyak Curah

Senin, 8 Juni 2026 - 10:09 WIB

Harga Emas Jambi Hari Ini 8 Juni 2026: Perhiasan Rp8,65 Juta per Mayam, Antam Naik ke Rp2,743 Juta

Sabtu, 6 Juni 2026 - 19:09 WIB

Rupiah Menguat ke Rp18.036 per Dollar AS, BI dan Pemerintah Perkuat Stabilitas

Berita Terbaru

Trofi Piala Dunia yang akan diperebutkan kembali dalam Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Piala Dunia 2026 akan menggunakan format baru karena diikuti 48 negara yang dibagi dalam 12 grup di mana dua tim teratas setiap grup plus delapan peringkat ketiga terbaik maju ke babak 32 besar.(TANGKAPAN LAYAR TWITTER FIFA)

Internasional

Iran Tuding AS Cabut Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Didesak Bertindak

Selasa, 9 Jun 2026 - 18:09 WIB