Sopir Truk Mengantre Solar hingga 24 Jam, Pendapatan Tergerus dan Fisik Menurun

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Antrean kendaraan angkutan terlihat memanjang di SPBU KM 6,5 Kota Bengkulu, Sabtu (18/7/2026)(Firmansyah/KOMPAS.com)

Antrean kendaraan angkutan terlihat memanjang di SPBU KM 6,5 Kota Bengkulu, Sabtu (18/7/2026)(Firmansyah/KOMPAS.com)

Bengkulu, APGtimes.com – Kelangkaan Bio Solar di sejumlah wilayah Pulau Sumatera terus berdampak pada aktivitas sopir angkutan barang. Antrean panjang di berbagai SPBU membuat para pengemudi harus menunggu hingga 24 jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar, sehingga jadwal pengiriman terganggu dan kondisi fisik semakin menurun.

Salah seorang sopir truk asal Sumatera Barat, Irman, mengaku harus menginap di dalam kabin truk saat mengantre di SPBU Kilometer 6,5 Kota Bengkulu.

Sopir Harus Menginap di SPBU

Irman mengatakan dirinya mendapat tugas mengangkut semen dari Bengkulu menuju Sumatera Barat. Namun, sulitnya memperoleh Bio Solar membuat perjalanan tidak berjalan sesuai jadwal.

Selama menunggu antrean, ia memanfaatkan kabin truk sebagai tempat beristirahat. Bahkan, kebutuhan sehari-hari seperti mencuci muka dan menggosok gigi hanya mengandalkan air mineral yang dibelinya sendiri.

Menurut Irman, antrean panjang tidak hanya terjadi di Bengkulu, tetapi juga terlihat di berbagai daerah sepanjang jalur lintas Sumatera.

Baca Juga :  Jembatan Gantung Rusak, 2.000 Warga Mukomuko Kesulitan Keluar Masuk Desa

Pendapatan Sopir Menyusut

Selain menguras tenaga, antrean panjang juga mengurangi pendapatan para pengemudi.

Irman mengaku biasanya memperoleh sekitar Rp500 ribu setiap kali menyelesaikan perjalanan. Kini sebagian besar uang tersebut habis untuk biaya selama menunggu antrean BBM.

Akibat kondisi itu, banyak sopir mulai kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga maupun membayar cicilan kendaraan.

Sopir Memilih Berjalan Tanpa Kernet

Karena biaya operasional terus meningkat, sejumlah pengemudi memutuskan tidak lagi membawa kernet.

Irman menjelaskan penghasilan yang semakin berkurang membuat mereka tidak mampu membayar upah kernet.

Meski harus bekerja sendirian, para sopir memilih tetap menjalankan pekerjaan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Pasokan Solar Berkurang Setengah

Sementara itu, Pengawas SPBU Kelobak, Kabupaten Kepahiang, Fuji, membenarkan antrean panjang sudah berlangsung selama dua hari.

Ia menjelaskan SPBU yang biasanya menerima pasokan Bio Solar sebanyak 16 ton per hari kini hanya memperoleh sekitar 8 ton.

Berkurangnya distribusi tersebut membuat antrean kendaraan terus memanjang di sejumlah SPBU.

Baca Juga :  Bank Danamon Ungkap Kunci Ekonomi RI Tembus 6 Persen: Investasi Harus Ciptakan Lapangan Kerja

Meski demikian, Fuji memastikan stok Pertalite dan Pertamax masih tersedia dalam kondisi normal.

Sopir Tak Berani Keluar dari Antrean

Pengemudi truk lainnya, Ali, memilih menginapkan kendaraannya di area SPBU agar tidak kehilangan antrean.

Menurutnya, apabila truk dibawa pulang, ia berisiko kembali berada di antrean paling belakang sehingga kemungkinan tidak memperoleh Bio Solar menjadi lebih besar.

Karena itu, banyak sopir memilih bertahan di sekitar SPBU selama berjam-jam bahkan hingga lebih dari satu hari.

BPH Migas Targetkan Antrean Segera Normal

Di sisi lain, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas menyatakan pemerintah terus berupaya mengurai antrean BBM.

Ia menilai antrean dipicu meningkatnya pembelian BBM oleh masyarakat atau panic buying.

Wahyudi optimistis kondisi tersebut dapat kembali normal dalam satu hingga dua hari apabila distribusi berjalan lancar dan masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga Emas Antam Hari Ini 16 September 2026 Naik Tipis, Cek Daftar Lengkapnya
Harga Token Listrik PLN 9-13 September 2026, Rp50.000 Dapat Berapa kWh?
Gerobak Padang Buka Kemitraan di IFBC 2026, Bidik Ekspansi Nasional
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.645, Padahal Dollar AS Turun
Citilink Kembali Terbang Hari Ini, Penumpang Diminta Cek Status Penerbangan
Harga Emas Antam Hari Ini 7 September 2026 Tak Bergerak, 1 Gram Rp2,68 Juta
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 3 September 2026 Naik, Antam Rp 2,679 Juta
Ajaib Dapat Suntikan Rp4,8 Triliun dari Jepang, Fokus Perkuat SDM Teknologi
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 15:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 16 September 2026 Naik Tipis, Cek Daftar Lengkapnya

Rabu, 9 September 2026 - 14:09 WIB

Harga Token Listrik PLN 9-13 September 2026, Rp50.000 Dapat Berapa kWh?

Rabu, 9 September 2026 - 13:09 WIB

Gerobak Padang Buka Kemitraan di IFBC 2026, Bidik Ekspansi Nasional

Selasa, 8 September 2026 - 15:09 WIB

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.645, Padahal Dollar AS Turun

Selasa, 8 September 2026 - 13:09 WIB

Citilink Kembali Terbang Hari Ini, Penumpang Diminta Cek Status Penerbangan

Berita Terbaru

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai ketika memberikan sambutan dalam acara forum koordinasi Kebijakan HAM, Kamis (17/9/2026)(Febryan Kevin/Kompas.com )

Nasional

Kamis, 17 Sep 2026 - 20:09 WIB