Bengkulu, APGtimes.com – Kelangkaan Bio Solar di sejumlah wilayah Pulau Sumatera terus berdampak pada aktivitas sopir angkutan barang. Antrean panjang di berbagai SPBU membuat para pengemudi harus menunggu hingga 24 jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar, sehingga jadwal pengiriman terganggu dan kondisi fisik semakin menurun.
Salah seorang sopir truk asal Sumatera Barat, Irman, mengaku harus menginap di dalam kabin truk saat mengantre di SPBU Kilometer 6,5 Kota Bengkulu.
Sopir Harus Menginap di SPBU
Irman mengatakan dirinya mendapat tugas mengangkut semen dari Bengkulu menuju Sumatera Barat. Namun, sulitnya memperoleh Bio Solar membuat perjalanan tidak berjalan sesuai jadwal.
Selama menunggu antrean, ia memanfaatkan kabin truk sebagai tempat beristirahat. Bahkan, kebutuhan sehari-hari seperti mencuci muka dan menggosok gigi hanya mengandalkan air mineral yang dibelinya sendiri.
Menurut Irman, antrean panjang tidak hanya terjadi di Bengkulu, tetapi juga terlihat di berbagai daerah sepanjang jalur lintas Sumatera.
Pendapatan Sopir Menyusut
Selain menguras tenaga, antrean panjang juga mengurangi pendapatan para pengemudi.
Irman mengaku biasanya memperoleh sekitar Rp500 ribu setiap kali menyelesaikan perjalanan. Kini sebagian besar uang tersebut habis untuk biaya selama menunggu antrean BBM.
Akibat kondisi itu, banyak sopir mulai kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga maupun membayar cicilan kendaraan.
Sopir Memilih Berjalan Tanpa Kernet
Karena biaya operasional terus meningkat, sejumlah pengemudi memutuskan tidak lagi membawa kernet.
Irman menjelaskan penghasilan yang semakin berkurang membuat mereka tidak mampu membayar upah kernet.
Meski harus bekerja sendirian, para sopir memilih tetap menjalankan pekerjaan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Pasokan Solar Berkurang Setengah
Sementara itu, Pengawas SPBU Kelobak, Kabupaten Kepahiang, Fuji, membenarkan antrean panjang sudah berlangsung selama dua hari.
Ia menjelaskan SPBU yang biasanya menerima pasokan Bio Solar sebanyak 16 ton per hari kini hanya memperoleh sekitar 8 ton.
Berkurangnya distribusi tersebut membuat antrean kendaraan terus memanjang di sejumlah SPBU.
Meski demikian, Fuji memastikan stok Pertalite dan Pertamax masih tersedia dalam kondisi normal.
Sopir Tak Berani Keluar dari Antrean
Pengemudi truk lainnya, Ali, memilih menginapkan kendaraannya di area SPBU agar tidak kehilangan antrean.
Menurutnya, apabila truk dibawa pulang, ia berisiko kembali berada di antrean paling belakang sehingga kemungkinan tidak memperoleh Bio Solar menjadi lebih besar.
Karena itu, banyak sopir memilih bertahan di sekitar SPBU selama berjam-jam bahkan hingga lebih dari satu hari.
BPH Migas Targetkan Antrean Segera Normal
Di sisi lain, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas menyatakan pemerintah terus berupaya mengurai antrean BBM.
Ia menilai antrean dipicu meningkatnya pembelian BBM oleh masyarakat atau panic buying.
Wahyudi optimistis kondisi tersebut dapat kembali normal dalam satu hingga dua hari apabila distribusi berjalan lancar dan masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan. (aw*)









