Jakarta, APGtimes.com – CEO Meta Mark Zuckerberg menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) harus tetap berada di bawah kendali manusia. Ia juga mendorong agar teknologi AI canggih dapat diakses dan digunakan oleh sebanyak mungkin orang.
Zuckerberg menyampaikan pandangan tersebut melalui esai berjudul “The Future is for Everyone” yang Meta Newsroom publikasikan pada 10 Agustus 2026. Dalam esai itu, ia membahas masa depan superintelligence, yaitu AI dengan kemampuan yang melampaui kemampuan manusia.
Zuckerberg Waspadai Risiko Superintelligence
Zuckerberg mengakui perkembangan teknologi selalu membawa peluang sekaligus risiko. Ia menilai kemajuan AI dapat mengubah berbagai aspek kehidupan manusia dalam waktu yang semakin cepat.
Beberapa risiko yang ia soroti mencakup hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi, penyalahgunaan AI untuk serangan siber, ancaman biologis, hingga penggunaan teknologi untuk pengawasan oleh pemerintah.
Zuckerberg juga mempertimbangkan skenario ekstrem ketika AI memiliki kemampuan yang sangat kuat sehingga manusia kesulitan mempertahankan kendali atas teknologi tersebut.
Namun, Zuckerberg tidak sepakat jika risiko tersebut menjadi alasan untuk menyerahkan penguasaan AI kepada segelintir perusahaan atau pemerintah.
AI Jangan Dikuasai Segelintir Pihak
Menurut Zuckerberg, pemusatan kekuatan AI justru dapat menciptakan risiko yang lebih besar. Karena itu, ia mendorong distribusi teknologi AI canggih secara luas.
Ia melihat dua kemungkinan dalam perkembangan superintelligence. Pertama, sejumlah kecil institusi menguasai teknologi tersebut. Kedua, banyak orang memperoleh akses sehingga mereka dapat menggunakan dan mengarahkan teknologi tersebut.
Zuckerberg memilih opsi kedua. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mengarahkan AI sesuai kebutuhan dan kepentingan masing-masing.
“Daripada memusatkan superintelligence, kita harus mendistribusikannya secara luas dan memberikan setiap orang kemampuan untuk mengarahkannya,” kata Zuckerberg.
Zuckerberg Tekankan Keseimbangan Kekuatan
Pendiri Facebook tersebut menyebut keseimbangan kekuatan atau balance of power sebagai salah satu kunci dalam menjaga keamanan AI.
Menurut Zuckerberg, manusia memiliki tujuan, kepentingan, serta nilai yang berbeda. Karena itu, ia tidak meyakini satu sistem AI supercerdas dapat menentukan satu jawaban mengenai apa yang terbaik bagi seluruh manusia.
Ia menilai distribusi kekuatan dapat menjadi cara untuk mencegah satu pihak memiliki kendali terlalu besar atas teknologi yang berpotensi mengubah masa depan manusia.
Pandangan tersebut menjadi bagian dari visi Zuckerberg mengenai arah pengembangan AI. Ia ingin teknologi superintelligence berkembang dengan tetap memberikan ruang bagi manusia untuk menentukan cara penggunaannya. (yp*)









