Warga Iran Kecewa, Janji Bantuan Trump di Tengah Perang Tak Kunjung Datang

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump (Alex WROBLEWSKI/AFP via Getty Images)

Presiden AS Donald Trump (Alex WROBLEWSKI/AFP via Getty Images)

Washington DC, APGtimes.com – Harapan sebagian warga Iran terhadap Amerika Serikat (AS) dan Presiden Donald Trump mulai berubah menjadi kekecewaan. Lebih dari lima bulan setelah AS dan Israel menyerang Iran, janji Trump untuk membantu rakyat Iran belum terwujud.

Sebelum perang pecah, Trump sempat menyatakan dukungan kepada demonstran anti-pemerintah Iran. Ia bahkan menyampaikan pesan bahwa bantuan AS sedang menuju Iran.

Namun, situasi berubah ketika konflik semakin meluas. Trump kemudian lebih banyak menyoroti keamanan jalur minyak di Selat Hormuz dan mencari jalan keluar dari perang.

Warga Iran Merasa Dikhianati

Sejumlah warga Iran mengaku kecewa dengan sikap Trump. Mereka sebelumnya berharap Washington benar-benar membantu gerakan masyarakat yang menentang pemerintah Iran.

Vahid, pekerja startup di Teheran, mengaku sempat percaya dengan pernyataan Trump. Kini, ia menilai harapan tersebut tidak sesuai kenyataan.

“Saya benar-benar mengira bantuan sedang dalam perjalanan, tetapi saya salah besar,” kata Vahid, seperti dikutip The New York Times, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga :  UEA Percepat Pipa Minyak West-East untuk Hindari Blokade Selat Hormuz

Kekecewaan serupa muncul dari Maryam, warga Teheran yang ikut dalam aksi protes anti-pemerintah. Ia menilai AS lebih mengutamakan kepentingan geopolitik.

Menurut Maryam, Washington menggunakan isu hak asasi manusia untuk mencapai kepentingannya sendiri.

Trump Akui Tak Yakin Demonstran Iran Memberontak

Sikap Trump juga memunculkan pertanyaan mengenai tujuan awal perang. Dalam sebuah wawancara, Trump mengaku tidak pernah yakin demonstran Iran mampu melakukan pemberontakan besar.

Trump menilai demonstran akan kesulitan menghadapi aparat keamanan Iran tanpa persenjataan lengkap. Pernyataan itu menunjukkan perbedaan antara retorika dukungan Trump dan sikap pemerintahannya.

Saat konflik memasuki fase diplomasi, Trump juga tidak menjadikan isu hak asasi manusia sebagai fokus utama. Ia justru menyoroti kepentingan pasar minyak dunia.

Fokus Trump Bergeser ke Selat Hormuz

Ketika membahas kerangka kesepakatan damai pada Juni lalu, Trump menyerukan agar kapal-kapal kembali beroperasi dan mengalirkan minyak ke pasar global.

Sikap tersebut memperlihatkan perubahan prioritas Washington. Pemerintah AS kini menghadapi tekanan untuk menjaga pasokan energi sekaligus mengakhiri konflik.

Baca Juga :  Jepang Naikkan Biaya Visa 5 Kali Lipat, Turis Indonesia Perlu Siapkan Dana Lebih

Trump juga memberikan pujian kepada sejumlah tokoh dalam kepemimpinan baru Iran. Ia menyebut mereka sebagai pihak yang rasional dan dapat diajak bekerja sama.

Perubahan sikap itu semakin memperkuat kekecewaan warga Iran yang sebelumnya berharap AS membantu perjuangan mereka.

Janji Politik Trump Dipertanyakan

Perang yang berlangsung berbulan-bulan kini menempatkan Trump pada posisi sulit. Di satu sisi, ia menghadapi tuntutan untuk mengakhiri konflik. Di sisi lain, Washington harus menjaga kepentingan strategisnya di kawasan.

Sementara itu, warga Iran yang sempat menaruh harapan kepada AS harus menghadapi kenyataan berbeda. Mereka melihat janji bantuan Trump tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga Iran mempertanyakan tujuan sebenarnya dari keterlibatan AS dalam konflik. Isu kemanusiaan yang sempat muncul pada awal perang kini kalah menonjol dibanding kepentingan keamanan dan energi. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kabut Asap Karhutla Indonesia Lumpuhkan Aktivitas Warga Serian Malaysia
Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu
Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja
Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang
Staf Trump Mulai Mundur Satu per Satu Jelang Pemilu Sela, Apa yang Terjadi?
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 165 Orang, Hampir 1.500 Masih Hilang
Trump Klaim “Mission Accomplished” di Iran, Tapi Tujuan Perang AS Dipertanyakan
Iran Terancam Krisis, Harga BBM Bisa Naik hingga Rp 11.000 per Liter
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 11:09 WIB

Kabut Asap Karhutla Indonesia Lumpuhkan Aktivitas Warga Serian Malaysia

Rabu, 2 September 2026 - 15:09 WIB

Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

Selasa, 1 September 2026 - 19:09 WIB

Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:09 WIB

Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Staf Trump Mulai Mundur Satu per Satu Jelang Pemilu Sela, Apa yang Terjadi?

Berita Terbaru