Washington DC, APGtimes.com – Harapan sebagian warga Iran terhadap Amerika Serikat (AS) dan Presiden Donald Trump mulai berubah menjadi kekecewaan. Lebih dari lima bulan setelah AS dan Israel menyerang Iran, janji Trump untuk membantu rakyat Iran belum terwujud.
Sebelum perang pecah, Trump sempat menyatakan dukungan kepada demonstran anti-pemerintah Iran. Ia bahkan menyampaikan pesan bahwa bantuan AS sedang menuju Iran.
Namun, situasi berubah ketika konflik semakin meluas. Trump kemudian lebih banyak menyoroti keamanan jalur minyak di Selat Hormuz dan mencari jalan keluar dari perang.
Warga Iran Merasa Dikhianati
Sejumlah warga Iran mengaku kecewa dengan sikap Trump. Mereka sebelumnya berharap Washington benar-benar membantu gerakan masyarakat yang menentang pemerintah Iran.
Vahid, pekerja startup di Teheran, mengaku sempat percaya dengan pernyataan Trump. Kini, ia menilai harapan tersebut tidak sesuai kenyataan.
“Saya benar-benar mengira bantuan sedang dalam perjalanan, tetapi saya salah besar,” kata Vahid, seperti dikutip The New York Times, Jumat (7/8/2026).
Kekecewaan serupa muncul dari Maryam, warga Teheran yang ikut dalam aksi protes anti-pemerintah. Ia menilai AS lebih mengutamakan kepentingan geopolitik.
Menurut Maryam, Washington menggunakan isu hak asasi manusia untuk mencapai kepentingannya sendiri.
Trump Akui Tak Yakin Demonstran Iran Memberontak
Sikap Trump juga memunculkan pertanyaan mengenai tujuan awal perang. Dalam sebuah wawancara, Trump mengaku tidak pernah yakin demonstran Iran mampu melakukan pemberontakan besar.
Trump menilai demonstran akan kesulitan menghadapi aparat keamanan Iran tanpa persenjataan lengkap. Pernyataan itu menunjukkan perbedaan antara retorika dukungan Trump dan sikap pemerintahannya.
Saat konflik memasuki fase diplomasi, Trump juga tidak menjadikan isu hak asasi manusia sebagai fokus utama. Ia justru menyoroti kepentingan pasar minyak dunia.
Fokus Trump Bergeser ke Selat Hormuz
Ketika membahas kerangka kesepakatan damai pada Juni lalu, Trump menyerukan agar kapal-kapal kembali beroperasi dan mengalirkan minyak ke pasar global.
Sikap tersebut memperlihatkan perubahan prioritas Washington. Pemerintah AS kini menghadapi tekanan untuk menjaga pasokan energi sekaligus mengakhiri konflik.
Trump juga memberikan pujian kepada sejumlah tokoh dalam kepemimpinan baru Iran. Ia menyebut mereka sebagai pihak yang rasional dan dapat diajak bekerja sama.
Perubahan sikap itu semakin memperkuat kekecewaan warga Iran yang sebelumnya berharap AS membantu perjuangan mereka.
Janji Politik Trump Dipertanyakan
Perang yang berlangsung berbulan-bulan kini menempatkan Trump pada posisi sulit. Di satu sisi, ia menghadapi tuntutan untuk mengakhiri konflik. Di sisi lain, Washington harus menjaga kepentingan strategisnya di kawasan.
Sementara itu, warga Iran yang sempat menaruh harapan kepada AS harus menghadapi kenyataan berbeda. Mereka melihat janji bantuan Trump tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga Iran mempertanyakan tujuan sebenarnya dari keterlibatan AS dalam konflik. Isu kemanusiaan yang sempat muncul pada awal perang kini kalah menonjol dibanding kepentingan keamanan dan energi. (ys*)









