Banjir Aceh Tamiang Rendam 18 Desa di 9 Kecamatan, Ratusan Warga Mengungsi

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga melintas menggunakan getek sebagai penghubung Desa Ara Sembilan Kecamatan Bandar Pusaka dengan Desa Lubuk Sidup Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Senin (5/10/2026)(DOK PRIBADI WARGA)

Warga melintas menggunakan getek sebagai penghubung Desa Ara Sembilan Kecamatan Bandar Pusaka dengan Desa Lubuk Sidup Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Senin (5/10/2026)(DOK PRIBADI WARGA)

Aceh Tamiang, APGtimes.com – Banjir kembali menerjang Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, pada Senin (12/10/2026) setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Minggu (11/10/2026) malam. Bencana ini meluas hingga 18 desa di sembilan kecamatan dan memaksa ratusan warga meninggalkan rumah mereka.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, Iman Suhery, menyebut Kecamatan Tenggulun sebagai wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak, yakni lima desa.

“Total desa terdampak banjir saat ini sebanyak 18 desa. Terbanyak di wilayah Tenggulun yakni lima desa,” kata Iman Suhery, dikutip dari Antara.

Sembilan kecamatan yang terdampak meliputi Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, Bendahara, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, Seruway, Rantau, dan Kualasimpang.

Banjir Capai 1,5 Meter, Warga Mengungsi

Kecamatan Tamiang Hulu mengalami dampak cukup parah. Genangan air mencapai 1 hingga 1,5 meter sehingga warga Desa Rongoh dan Bandar Khalifah harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Di Kecamatan Tenggulun, banjir memutus akses darat menuju Desa Simpang Kiri. Genangan tinggi dan tumpukan sampah yang terbawa arus membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintasi jalur tersebut.

Baca Juga :  Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

Sementara itu, banjir juga merendam Desa Sukajadi dan Desa Tanjung Karang di wilayah Karang Baru–Kualasimpang. Lokasi pondok pesantren di kawasan tersebut turut terdampak karena kedua desa berada di bantaran sungai.

Iman menjelaskan bahwa jebolnya tanggul dan luapan sungai memaksa warga di wilayah hulu maupun hilir mencari tempat pengungsian di dataran yang lebih tinggi. Sejumlah warga berlindung di masjid, sekolah, dan rumah kerabat.

Tanggul Marlempang Jebol Sepanjang 30 Meter

Selain genangan di permukiman, tanggul di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, jebol sepanjang sekitar 30 meter sejak Minggu sore. Air kemudian memasuki kawasan permukiman dengan ketinggian mencapai 50 sentimeter dan merendam ratusan hektare lahan pertanian.

Datok Penghulu Desa Marlempang, Arif Pradana, mengatakan warga telah berusaha membangun tanggul darurat secara swadaya. Namun, derasnya aliran air membuat upaya tersebut tidak mampu menahan luapan sungai.

“Upaya membuat benteng tanggul secara swadaya oleh masyarakat sia-sia karena debit air terus meningkat,” ujar Arif.

Kekhawatiran warga semakin besar setelah mereka menemukan dua titik retakan baru pada tanggul, sekitar 500 meter dari lokasi tanggul yang jebol. Jika kerusakan meluas, air berpotensi menggenangi permukiman di seberang sungai.

Baca Juga :  Kabar Gembira untuk Guru, Tunjangan Non-ASN Naik Jadi Rp2 Juta per Bulan

Arif mengingatkan bahwa kondisi tanah tanggul yang rapuh meningkatkan risiko kerusakan susulan. Karena itu, warga berharap petugas segera memperkuat bagian tanggul yang masih rentan.

Tim Gabungan Siaga Tangani Dampak Banjir

BPBD Aceh Tamiang bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta Satgas SAR menyiagakan personel di sejumlah lokasi terdampak. Tim gabungan membantu proses evakuasi sekaligus mendata kerusakan dan kerugian masyarakat.

Petugas juga mengerahkan alat berat ke titik-titik kritis untuk menutup bagian tanggul yang rusak dan mengurangi risiko luapan air berikutnya.

Di tengah penanganan darurat, masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dan tanggul diminta meningkatkan kewaspadaan. Warga perlu mengikuti arahan petugas, menghindari jalur yang terendam, serta segera menuju tempat aman jika ketinggian air kembali meningkat.

Banjir yang melanda 18 desa ini menunjukkan besarnya dampak hujan deras terhadap permukiman dan infrastruktur di Aceh Tamiang. Penanganan tanggul yang rusak dan pemantauan kondisi sungai menjadi langkah penting untuk melindungi warga dari ancaman banjir susulan. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru
Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam
Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan
Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran
RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali
Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa
Sudaryono Ubah Aturan MBG, Biaya Operasional Rp5.000 per Porsi Kini Dibatasi
Bambang Haryo Minta Kemenhut dan Perhutani Dievaluasi, Penanganan Karhutla Jangan Hanya Sasar 32 Perusahaan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:09 WIB

RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa

Berita Terbaru