Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, Iman Suhery, menyebut Kecamatan Tenggulun sebagai wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak, yakni lima desa.
“Total desa terdampak banjir saat ini sebanyak 18 desa. Terbanyak di wilayah Tenggulun yakni lima desa,” kata Iman Suhery, dikutip dari Antara.
Sembilan kecamatan yang terdampak meliputi Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, Bendahara, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, Seruway, Rantau, dan Kualasimpang.
Banjir Capai 1,5 Meter, Warga Mengungsi
Kecamatan Tamiang Hulu mengalami dampak cukup parah. Genangan air mencapai 1 hingga 1,5 meter sehingga warga Desa Rongoh dan Bandar Khalifah harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Di Kecamatan Tenggulun, banjir memutus akses darat menuju Desa Simpang Kiri. Genangan tinggi dan tumpukan sampah yang terbawa arus membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintasi jalur tersebut.
Sementara itu, banjir juga merendam Desa Sukajadi dan Desa Tanjung Karang di wilayah Karang Baru–Kualasimpang. Lokasi pondok pesantren di kawasan tersebut turut terdampak karena kedua desa berada di bantaran sungai.
Iman menjelaskan bahwa jebolnya tanggul dan luapan sungai memaksa warga di wilayah hulu maupun hilir mencari tempat pengungsian di dataran yang lebih tinggi. Sejumlah warga berlindung di masjid, sekolah, dan rumah kerabat.
Tanggul Marlempang Jebol Sepanjang 30 Meter
Selain genangan di permukiman, tanggul di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, jebol sepanjang sekitar 30 meter sejak Minggu sore. Air kemudian memasuki kawasan permukiman dengan ketinggian mencapai 50 sentimeter dan merendam ratusan hektare lahan pertanian.
Datok Penghulu Desa Marlempang, Arif Pradana, mengatakan warga telah berusaha membangun tanggul darurat secara swadaya. Namun, derasnya aliran air membuat upaya tersebut tidak mampu menahan luapan sungai.
“Upaya membuat benteng tanggul secara swadaya oleh masyarakat sia-sia karena debit air terus meningkat,” ujar Arif.
Kekhawatiran warga semakin besar setelah mereka menemukan dua titik retakan baru pada tanggul, sekitar 500 meter dari lokasi tanggul yang jebol. Jika kerusakan meluas, air berpotensi menggenangi permukiman di seberang sungai.
Arif mengingatkan bahwa kondisi tanah tanggul yang rapuh meningkatkan risiko kerusakan susulan. Karena itu, warga berharap petugas segera memperkuat bagian tanggul yang masih rentan.
Tim Gabungan Siaga Tangani Dampak Banjir
BPBD Aceh Tamiang bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta Satgas SAR menyiagakan personel di sejumlah lokasi terdampak. Tim gabungan membantu proses evakuasi sekaligus mendata kerusakan dan kerugian masyarakat.
Petugas juga mengerahkan alat berat ke titik-titik kritis untuk menutup bagian tanggul yang rusak dan mengurangi risiko luapan air berikutnya.
Di tengah penanganan darurat, masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dan tanggul diminta meningkatkan kewaspadaan. Warga perlu mengikuti arahan petugas, menghindari jalur yang terendam, serta segera menuju tempat aman jika ketinggian air kembali meningkat.
Banjir yang melanda 18 desa ini menunjukkan besarnya dampak hujan deras terhadap permukiman dan infrastruktur di Aceh Tamiang. Penanganan tanggul yang rusak dan pemantauan kondisi sungai menjadi langkah penting untuk melindungi warga dari ancaman banjir susulan. (ys*)









