Indonesia Segera Punya PLTN? Rusia Tawarkan Reaktor Nuklir Terapung

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi tempat nuklir di kembangkan

ilustrasi tempat nuklir di kembangkan

Jakarta, APGtimes.com – Pemerintah Indonesia mulai mempercepat pengembangan energi nuklir untuk memperkuat pasokan listrik nasional. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mempercepat transisi menuju energi bersih.

Perkembangan terbaru muncul setelah Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, bertemu Presiden Prabowo Subianto di Jakarta pada 12 Mei 2026.

Pertemuan tersebut turut melibatkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT PLN, serta Ketua DPD RI Sutan Bachtiar Najamudin.

Kedua pihak membahas peluang kerja sama jangka panjang di sektor energi nuklir untuk tujuan damai.

Mereka juga membicarakan pembangunan PLTN, pengembangan infrastruktur nuklir, pelatihan tenaga ahli, dan pemanfaatan teknologi nuklir di berbagai sektor.

Rusia Tawarkan Beragam Teknologi Nuklir

Rosatom menilai Indonesia memiliki target besar dalam pengembangan energi nuklir.

Karena itu, perusahaan energi atom milik Rusia tersebut menawarkan kerja sama yang mencakup teknologi dan penguatan kapasitas nasional.

Rosatom tidak hanya menawarkan teknologi reaktor modern.

Perusahaan itu juga membuka peluang transfer pengetahuan, pengembangan industri pendukung, dan peningkatan kompetensi tenaga ahli Indonesia.

Selain itu, Rosatom siap menyediakan pembangkit nuklir skala besar, reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR), serta PLTN terapung.

Baca Juga :  Prabowo Usul Kewarganegaraan Ganda, DPR Ungkap Aturan yang Perlu Diubah

Menurut Rosatom, teknologi tersebut cocok untuk Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan garis pantai yang panjang.

BRIN Soroti Pentingnya Dukungan Masyarakat

Sehari setelah bertemu Presiden Prabowo, Alexey Likhachev mengunjungi BRIN di Jakarta.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pihaknya mendapat tugas untuk menjajaki peluang kerja sama teknologi nuklir dengan Rosatom.

Indonesia sebenarnya telah memulai komunikasi terkait teknologi nuklir dengan Rusia sejak 2006.

Arif menilai penguasaan teknologi nuklir harus berjalan bersama pendekatan sosial kepada masyarakat.

Pemerintah perlu mengukur tingkat penerimaan publik terhadap proyek tersebut.

Selain itu, pemerintah juga harus memetakan dampak sosial dan ekonomi yang mungkin muncul.

Menurut Arif, langkah tersebut akan membantu menciptakan proses yang aman, transparan, dan humanis.

Kesepakatan Berlanjut di Rusia

Pembahasan mengenai PLTN kembali berlanjut dalam Sidang Komisi Bersama ke-14 Indonesia dan Rusia di Kazan.

Forum tersebut membahas kerja sama energi yang mencakup sektor minyak dan gas, energi terbarukan, serta pengembangan PLTN modular kecil.

Wakil Menteri ESDM Yuliot menyebut kerja sama itu penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain itu, Indonesia ingin mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Truk Pengangkut Trafo PLN Terbakar di Pariaman, Tabrak 3 Kendaraan dan Picu Kepanikan

Indonesia Jajaki PLTN Terapung

Rencana pembangunan PLTN terapung menjadi salah satu proyek yang paling menarik perhatian.

Alexey Likhachev menilai teknologi tersebut sangat cocok untuk kondisi geografis Indonesia.

Teknologi itu memungkinkan operator menempatkan reaktor nuklir di atas kapal atau tongkang.

Konsep tersebut memungkinkan pasokan listrik menjangkau wilayah kepulauan secara lebih fleksibel.

Selain itu, pemerintah tidak perlu membangun infrastruktur besar di setiap lokasi.

Karena alasan itu, Rosatom melihat peluang besar untuk menerapkan teknologi tersebut di Indonesia.

Target Dua PLTN Berkapasitas 500 Megawatt

Pemerintah memasukkan energi nuklir ke dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Dalam dokumen tersebut, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 gigawatt.

Sebanyak 40 gigawatt di antaranya akan berasal dari energi baru terbarukan.

Sementara itu, pemerintah menargetkan pembangunan dua unit PLTN dengan kapasitas total 500 megawatt.

Target tersebut menjadi langkah awal pemanfaatan energi nuklir dalam sistem kelistrikan nasional.

Jika seluruh rencana berjalan sesuai jadwal, Indonesia akan memasuki era baru pengembangan energi modern.

Pemerintah berharap teknologi nuklir dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat di berbagai daerah. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Karhutla Capai 202 Ribu Hektare, DPR Desak Menhut Raja Juli Bergerak Cepat
Gempa M 7,7 Guncang Flores, 7 Korban Dievakuasi ke Labuan Bajo
Lion Air Group Ungkap Kondisi Terbaru Delay Penerbangan, Ketepatan Waktu Naik
Prabowo Usul Kewarganegaraan Ganda, DPR Ungkap Aturan yang Perlu Diubah
18 Agustus 2026 Bukan Libur, Pemerintah Beri Kelonggaran untuk Pesta Rakyat
SBY Beri Pesan Tegas ke Pemerintah Prabowo: Jangan Sampai Fiskal Indonesia Bermasalah
Setahun Jadi Tersangka, KPK Ungkap Nasib Heri Gunawan dan Satori di Kasus CSR BI-OJK
Prabowo Usul Dwi Kewarganegaraan, DPR: Jangan Sampai Indonesia Kehilangan Talenta Global
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 20:09 WIB

Karhutla Capai 202 Ribu Hektare, DPR Desak Menhut Raja Juli Bergerak Cepat

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:09 WIB

Gempa M 7,7 Guncang Flores, 7 Korban Dievakuasi ke Labuan Bajo

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Prabowo Usul Kewarganegaraan Ganda, DPR Ungkap Aturan yang Perlu Diubah

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:09 WIB

18 Agustus 2026 Bukan Libur, Pemerintah Beri Kelonggaran untuk Pesta Rakyat

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:09 WIB

SBY Beri Pesan Tegas ke Pemerintah Prabowo: Jangan Sampai Fiskal Indonesia Bermasalah

Berita Terbaru

Gempa bumi Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang kawasan Mbay-Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) subuh.(Kontributor Kompas.com Labuan Bajo/Vera Bahali)

Nasional

Gempa M 7,7 Guncang Flores, 7 Korban Dievakuasi ke Labuan Bajo

Selasa, 18 Agu 2026 - 18:09 WIB

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax membuat stok BBM subsidi di sejumlah SPBU wilayah Kota Tangerang ludes lebih cepat dari biasanya.(Kompas.com/Disya Shaliha)

Ekonomi & Bisnis

Cek Harga BBM Pertamina Hari Ini 18 Agustus 2026 di Semua Wilayah

Selasa, 18 Agu 2026 - 16:09 WIB